IHSG Berpotensi Menguat Menuju Resistance 6.969

IHSG Berpotensi Menguat Menuju Resistance 6.969
Foto: Ilustrasi IHSG Berpotensi Menguat Menuju Resistance 6.969.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) diprediksi cenderung bergerak menguat pada Selasa (12/5/2026) dalam kisaran 6.847 hingga resistance 6.969 setelah ditutup melemah pada hari sebelumnya.

Proyeksi penguatan indeks tersebut ditopang oleh kondisi bursa global yang kondusif sehingga membuka peluang terjadinya technical rebound bagi pasar modal domestik, dilansir dari Investortrust.

Meskipun indikator Stochastic dead cross berada pada area oversold dan posisi indeks masih di bawah MA5 serta MA20, pola teknikal menunjukkan adanya sinyal positif untuk pergerakan hari ini.

"Dengan pola ini IHSG akan mengalami penguatan disertai saham pilihan ASII, PANI, RAJA, dan KETR," tulis Reliance Sekuritas dalam risetnya.

Laju indeks hari ini juga mendapatkan sentimen positif dari kenaikan indeks utama di bursa Wall Street yang dipicu oleh optimisme terhadap sektor kecerdasan buatan (AI).

Peningkatan tersebut terjadi di tengah meredanya euforia musim laporan keuangan serta adanya kenaikan harga minyak dunia yang memicu kekhawatiran inflasi.

Terkait rekomendasi pasar, sejumlah sekuritas menetapkan target harga untuk saham-saham pilihan hari ini, termasuk saham ASII dan PANI.

BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan beli saham ASII dengan target harga Rp 6.800, PANI dengan target harga Rp 9.800, RAJA dengan target harga Rp 4.870, dan KETR dengan target harga Rp 720.

Pada penutupan perdagangan hari Senin, IHSG tercatat merosot 63,78 poin atau 0,92 persen ke level 6.905 akibat kejatuhan saham-saham berkapitalisasi besar.

Aksi jual bersih oleh investor asing mencapai Rp 751,15 miliar, dengan penjualan terbesar melanda saham BMRI sebesar Rp 334,71 miliar, BUMI sebesar Rp 135,36 miar, dan DSSA senilai Rp 115,86 miliar.

Penurunan melanda mayoritas sektor seperti energi, industri, keuangan, properti, consumer primer, dan transportasi, sedangkan sektor infrastruktur justru menguat 1,52 persen.

Di tengah pelemahan indeks tersebut, empat saham mencatatkan kenaikan signifikan hingga terkena Auto Reject Atas (ARA).

Saham DPUM naik 34,67 persen, DFAM naik 34,62 persen menjadi Rp 140, LABS naik 34,16 persen menjadi Rp 216, serta saham MORA yang melesat 20 persen ke level Rp 9.000.

Artikel terkait

Rekomendasi