Umat Muslim Boleh Membaca Doa Setelah Salat Dhuha Bahasa Indonesia

Umat Muslim Boleh Membaca Doa Setelah Salat Dhuha Bahasa Indonesia
Foto: Ilustrasi Umat Muslim Boleh Membaca Doa Setelah Salat Dhuha Bahasa Indonesia.

Umat Muslim diperbolehkan melafalkan doa setelah melaksanakan ibadah salat dhuha menggunakan bahasa Indonesia menurut penjelasan sejumlah ulama pada Rabu (15/4/2026). Meskipun penggunaan bahasa Arab lebih utama, permohonan rezeki di luar rangkaian salat tetap sah dilakukan dengan bahasa ibu guna memahami maksud pujian kepada Allah SWT.

Praktik ibadah sunnah ini umumnya dikerjakan pada pagi hari sebelum memasuki waktu Zuhur. Berdasarkan informasi yang dilansir dari Detikcom, Ali bin Abi Thalib RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW terbiasa melaksanakan salat dhuha dalam dua waktu berbeda, yakni saat matahari baru terbit dan ketika matahari sudah bersinar penuh di sisi timur.

Ulama sekaligus pengasuh LPD Al-Bahjah, Buya Yahya, memberikan penegasan mengenai batasan penggunaan bahasa dalam beribadah. Beliau menekankan perbedaan antara bacaan di dalam salat dan permohonan yang dipanjatkan setelah salam.

"Bacalah doa-doa di dalam salat dengan bahasa Arab, adapun di luar salat, bebas, tapi ingat kaidahnya. Sebaik-baik doa adalah doa yang pernah dibaca oleh nabi," ujarnya dalam YouTube Al Bahjah TV.

Penjelasan tersebut senada dengan pandangan cendekiawan muslim M. Quraish Shihab yang turut membolehkan penggunaan bahasa Indonesia dalam berdoa. Penggunaan bahasa yang dipahami dianggap penting agar setiap hamba meresapi makna dari setiap kalimat permintaan yang diajukan.

Riwayat mengenai bacaan zikir setelah dhuha juga datang dari istri Nabi, Aisyah RA, yang mencatat kebiasaan Rasulullah SAW dalam memohon ampunan. Beliau merekam ucapan nabi yang dibaca berulang kali sebagai bentuk pertobatan.

Aisyah berkata, "Rasulullah SAW melaksanakan salat dhuha, kemudian beliau mengucapkan: Allahummaghfirli wa tub 'alayya innaka antat tawwabur rohim (Ya Allah, ampuni dosa saya dan terimalah taubat saya. Sesungguhnya Engkau maha penerima taubat dan Maha Pengampun), hingga 100 kali." (HR Bukhari).

Selain zikir singkat tersebut, terdapat doa yang lebih panjang untuk memohon kelapangan rezeki. Doa ini memuat pengakuan atas kekuasaan Allah SWT dan permohonan agar segala sumber penghidupan, baik yang di langit maupun di bumi, dimudahkan dan disucikan.

"Ya Allah, bahwasanya waktu dhuha itu waktu dhuha-Mu, kecantikan ialah kecantikan-Mu, keindahan itu keindahan-Mu, kekuatan itu kekuatan-Mu, kekuasaan itu kekuasaan-Mu, dan perlindungan itu, perlindungan-Mu" demikian kutipan arti doa tersebut.

Narasi doa tersebut berlanjut pada permohonan spesifik mengenai keberadaan rezeki yang mungkin masih tertahan. Hal ini menjadi bagian dari harapan umat agar diberikan limpahan keberkahan sebagaimana hamba-hamba yang saleh.

"Ya Allah, jika rezekiku masih di atas langit, turunkanlah, dan jika ada di dalam bumi, keluarkanlah, jika sukar, mudahkanlah, jika haram sucikanlah, jika masih jauh dekatkanlah, berkat waktu dhuha, keagungan, keindahan, kekuatan dan kekuasaan-Mu, limpahkanlah kepada kami segala yang telah Engkau limpahkan kepada hamba-hamba-Mu yang saleh."

Penerapan adab dalam berdoa juga menjadi poin penting, seperti menghadap kiblat dan memulai dengan Asmaul Husna. Muslim diimbau untuk tidak tergesa-gesa serta memiliki keyakinan penuh bahwa setiap permintaan yang dipanjatkan akan dikabulkan oleh Allah SWT.

Artikel terkait

Rekomendasi