Aktivitas hobi berperan sebagai peredam stres psikologis bagi individu yang menghadapi situasi ekonomi tidak menentu, seperti pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah. Dilansir dari Lifestyle, kegemaran tersebut membantu menjaga keseimbangan mental saat seseorang merasa kehilangan kendali atas masa depan.
Psikolog dari Kasandra & Associates, A Kasandra Putranto, menjelaskan bahwa fluktuasi ekonomi dapat memicu kecemasan kronis hingga gangguan tidur. Kondisi ini terjadi karena manusia secara alami membutuhkan kepastian dan rasa kontrol dalam menjalani kehidupan mereka.
"Stres muncul ketika individu menilai suatu situasi sebagai mengancam dan merasa sumber daya coping-nya terbatas. Dalam konteks ekonomi, kekhawatiran terhadap pekerjaan, tabungan, atau investasi dapat memicu kecemasan kronis, gangguan tidur, hingga penurunan kesejahteraan mental," ujar Kasandra Putranto, Psikolog Kasandra & Associates.
Penegasan mengenai fungsi hobi saat ini bergeser dari sekadar pengisi waktu luang menjadi sarana menjaga stabilitas emosi. Aktivitas sukarela yang mendatangkan kesenangan memberikan ruang bagi individu untuk tetap terhubung dengan diri sendiri di tengah tekanan eksternal.
Laporan Jakpat bertajuk Gen Z Characteristics and Behaviors 2024 menunjukkan variasi aktivitas yang dipilih anak muda untuk melepas stres. Berselancar di media sosial menjadi pilihan utama bagi 63% responden, diikuti oleh menonton film atau serial yang diminati 57% responden.
Data tersebut juga mencatat bahwa 55% anak muda gemar mendengarkan musik atau podcast, sementara 53% lainnya memilih bermain gim sebagai pelarian dari rutinitas. Aktivitas fisik dan sosial tetap mendapat porsi, yakni berkumpul bersama teman (38%), berolahraga (32%), dan membaca buku (27%).
Hobi memberikan dampak positif melalui mekanisme psikologis tertentu, termasuk penciptaan kondisi fokus mendalam atau flow. Hal ini membantu mengalihkan perhatian dari kecemasan serta menurunkan kadar hormon kortisol dalam tubuh.
"Dengan kata lain, hobi membantu individu merasa masih memiliki kendali di tengah situasi yang serba tidak pasti," jelas Kasandra Putranto, Psikolog Kasandra & Associates.
Meskipun demikian, terdapat batasan tegas antara kegemaran yang sehat dan perilaku konsumtif impulsif. Hobi yang produktif bagi kesehatan mental seharusnya memberikan energi tambahan tanpa menimbulkan penyesalan finansial atau rasa bersalah di kemudian hari.