Hari Hipertensi Sedunia yang diperingati setiap 17 Mei menjadi momentum penting untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap tekanan darah tinggi. Banyak individu tidak merasakan gejala seperti pusing atau lemas, meskipun penyakit ini secara perlahan merusak organ tubuh selama bertahun-tahun.
Seperti dilansir dari Media Indonesia, hipertensi yang tidak terkendali dalam jangka panjang dapat memicu komplikasi serius secara mendadak. Beberapa dampak fatal yang sering terjadi antara lain strok, serangan jantung, hingga gagal ginjal.
Data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan lebih dari satu miliar orang di dunia hidup dengan kondisi ini. Banyak penderita yang tidak menyadari kondisi mereka, atau tidak rutin mengonsumsi obat setelah didiagnosis.
Tekanan darah tinggi terjadi saat aliran darah di dalam pembuluh darah secara konsisten melampaui batas normal. Kondisi ini memaksa jantung dan pembuluh darah bekerja lebih keras, sehingga merusak organ-organ vital dalam jangka panjang.
Pemicu masalah kesehatan ini sangat kompleks dan tidak hanya disebabkan oleh konsumsi garam berlebih. Faktor risiko lain meliputi obesitas, kurang bergerak, stres kronis, kualitas tidur yang buruk, serta kebiasaan merokok dan konsumsi alkohol.
Gaya hidup modern yang minim aktivitas fisik turut memperburuk situasi. Kebiasaan duduk berjam-jam di depan komputer dan konsumsi makanan cepat saji tinggi lemak mempercepat munculnya penyakit ini pada usia muda.
Risiko hipertensi juga berkaitan dengan ketimpangan sosial. Masyarakat berpendapatan rendah sering kali menghadapi keterbatasan akses terhadap makanan sehat, fasilitas olahraga, dan layanan pemeriksaan medis berkala.
Sistem layanan kesehatan di negara berkembang, termasuk Indonesia, masih menghadapi tantangan karena lebih fokus pada pengobatan dibanding pencegahan. Akibatnya, banyak pasien baru mengetahui kondisi mereka saat mendatangi Unit Gawat Darurat (UGD).
Upaya pencegahan sebenarnya dapat dimulai dari lingkungan rumah dengan langkah-langkah sederhana. Mengurangi garam, berolahraga jalan kaki 30 menit sehari, dan menjaga berat badan ideal sangat efektif menstabilkan tekanan darah.
Edukasi publik yang komunikatif dari pemerintah dan institusi sangat diperlukan di sekolah maupun tempat kerja. Kesadaran untuk mengonsumsi obat secara rutin bagi penderita penyakit kronis ini juga harus terus ditingkatkan.
Survei Kesehatan Indonesia terbaru dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menunjukkan prevalensi hipertensi di Indonesia telah mencapai angka 31%.
Dokter spesialis jantung dr. Yovi Kurniati turut menjelaskan bahwa terdapat perbedaan mendasar pada penyebab hipertensi yang terjadi antara anak-anak dan orang dewasa.