TNI AL Ungkap Hasil Visum Kelasi Dua Ghofirul Kasyfi di KRI Radjiman

TNI AL Ungkap Hasil Visum Kelasi Dua Ghofirul Kasyfi di KRI Radjiman
Foto: Ilustrasi TNI AL Ungkap Hasil Visum Kelasi Dua Ghofirul Kasyfi di KRI Radjiman.

TNI Angkatan Laut melalui Koarmada I mengumumkan hasil visum et repertum Kelasi Dua Ghofirul Kasyfi (22) yang ditemukan meninggal dunia di kamar KRI dr. Radjiman Widyodiningrat-992 pada Senin (4/5/2026). Pemeriksaan medis dari RSPAL dr. Mintohardjo menyimpulkan penyebab kematian prajurit tersebut adalah murni akibat gantung diri.

Data medis menunjukkan tidak adanya jejak kekerasan benda tumpul pada jenazah korban sebagaimana dilansir dari Nasional. Pemeriksaan tersebut juga memastikan tidak terdapat pendarahan pada area selangkangan, sementara luka di leher teridentifikasi sebagai luka tekan melingkar yang identik dengan karakteristik kasus bunuh diri.

Kepala Dinas Penerangan Koarmada I Kolonel (P) Ary Mahayasa memberikan penjelasan resmi mengenai detail kondisi fisik almarhum saat pemeriksaan dilakukan.

"Tidak ditemukan lebam akibat kekerasan benda tumpul pada tubuh almarhum," kata Kepala Dinas Penerangan (Kadispen) Koarmada I Kolonel (P) Ary Mahayasa.

Ary menjelaskan bahwa warna gelap yang terlihat pada kulit jenazah sebelum proses pemakaman merupakan livor mortis atau lebam mayat. Kondisi ini muncul secara alami akibat berhentinya sirkulasi darah yang kemudian mengendap di area tubuh terendah karena pengaruh gravitasi.

"With demikian, hasil pemeriksaan medis menyimpulkan bahwa penyebab kematian almarhum adalah murni akibat gantung diri, bukan karena tindakan kekerasan," kata Ary.

Pihak militer sempat mencari keberadaan korban ke rumah duka di Bangkalan melalui Lanal Batuporon karena yang bersangkutan tidak hadir dalam apel pengecekan personel. Mengenai prosedur lanjutan, ibu kandung korban secara resmi menolak proses otopsi pada 30 April 2026.

"Sehingga pihak KRI meminta bantuan kepada Lanal Batuporon untuk mengunjungi kediaman serta menanyakan keberadaan almarhum," ungkap Ary.

Institusi juga mengimbau agar masyarakat tidak menyebarkan spekulasi liar demi menjaga perasaan keluarga dan integritas organisasi. Jenazah sendiri telah dimakamkan secara militer pada 27 April 2026 di Jawa Timur.

"TNI AL, dalam hal ini Koarmada I, tetap berkomitmen pada transparansi dan kebenaran fakta," tegas Ary.

Di sisi lain, keluarga korban merasakan adanya ketidakwajaran sejak Ghofirul menjalani masa orientasi di Jakarta. Ayah korban, Mahbub Madani, menyebut anaknya sering mengeluh mendapatkan tekanan fisik dari senior selama bertugas di kapal bantuan rumah sakit tersebut.

"Anak saya mengaku dipukul seniornya. Bukan hanya satu tapi sampai puluhan orang," kata Mahbub.

Keluarga menceritakan bahwa korban sering mengirim pesan singkat untuk meminta tolong karena waktu istirahat yang sangat minim. Keluhan tersebut mencakup kondisi fisik yang terus diperas dengan jadwal kerja yang sangat padat hingga dini hari.

"Bahkan dia bilang tidak kuat dan ingin pindah ke kapal di Surabaya. Saat itu kapalnya dia di Jakarta," ujar Mahbub.

Kecurigaan keluarga semakin menguat setelah adanya kunjungan dua orang yang mengaku sebagai senior Ovy ke rumah mereka di akhir Maret. Para tamu tersebut menyatakan sedang mencari korban yang diduga telah meninggalkan dinas tanpa izin atau kabur dari kapal.

"Ovy itu bilang kalau siang dia kerja dan malamnya dibantai. Dia selalu tidur jam 2 dan jam 3 sudah dibangunkan lagi. Anak saya juga kerap mengirim pesan minta tolong pada kami," ungkap Mahbub.

Namun, hanya berselang satu hari setelah kunjungan tersebut, keluarga justru menerima kabar duka. Mahbub mempertanyakan bagaimana jenazah ditemukan di dalam kamar, sementara sebelumnya pihak kapal mengklaim telah melakukan penggeledahan dan tidak menemukan keberadaan korban.

"Dua orang itu mengaku komandan di kapalnya mencari anak saya. Katanya anak saya kabur dari kapal," ujar Mahbub.

Pihak keluarga menyatakan sangat sulit mempercayai narasi bunuh diri mengingat latar belakang korban yang dikenal memiliki mental yang kuat. Sebagai praktisi bela diri, Ghofirul dinilai memiliki kepribadian yang tegar dalam menghadapi tekanan.

"Anehnya, sehari setelahnya anak saya ditemukan meninggal dunia di dalam kamar di kapal tersebut. Padahal, kata mereka sebelumnya sudah digeledah di kamar dan anak saya tidak ada," kata Mahbub.

Ketegangan memuncak saat peti jenazah dibuka sepenuhnya sebelum prosesi pemakaman dilakukan di Bangkalan. Keluarga mengklaim melihat luka lebam di sekujur tubuh dan adanya darah di bagian selangkangan, serta posisi luka di leher yang dianggap tidak lazim untuk kasus gantung diri.

"Bagi kami itu hal yang mustahil dilakukan anak saya. Dia itu orangnya tegar dan dia juga ikut bela diri jadi mentalnya cukup kuat. Pilihan bunuh diri bagi dia rasanya tidak mungkin," ungkap Mahbub.

Mahbub juga membantah klaim senior korban yang menyebutkan bahwa tanda di tubuh anaknya adalah tanda lahir sejak kecil. Ia memastikan bahwa sebagai orang tua, dirinya sangat memahami kondisi fisik putranya yang tidak memiliki tanda lahir tersebut.

"Di situ saya melihat wajah anak saya lebam-lebam. Itu sudah sangat aneh bagi saya," ujar Mahbub.

Perselisihan interpretasi antara hasil medis resmi TNI AL dan temuan fisik oleh pihak keluarga ini menjadi dasar keinginan pihak ayah untuk menempuh jalur otopsi. Mahbub mengaku sempat tersulut emosi saat menyaksikan langsung kondisi fisik jenazah anaknya sebelum masuk ke liang lahat.

"Lebih aneh lagi, luka di leher anak saya itu di sini (leher bawah). Seharusnya, kalau memang bunuh diri, tali ke atas karena tubuhnya merosot ke bawah," kata Mahbub.

Hingga saat ini, pihak keluarga masih mempertanyakan kejelasan kronologi penemuan jenazah yang dianggap kontradiktif dengan laporan awal kehilangan personel. Dokumentasi resmi penolakan otopsi sebelumnya telah ditandatangani oleh ibu korban di tengah situasi duka.

"Dan salah satu seniornya juga bilang lebam di tubuh anak saya itu bukan lebam tapi tanda lahir. Saya kenal anak saya dan tahu tubuh anak saya, dia tidak punya tanda lahir," ujar Mahbub.

Langkah hukum selanjutnya kini bergantung pada tindak lanjut komunikasi antara pihak keluarga dan komando satuan terkait. Mahbub tetap pada pendiriannya bahwa kondisi jenazah tidak sinkron dengan penjelasan medis yang diterima.

"Di situ saya bertekad ingin anak saya diotopsi," pungkas Mahbub.

Artikel terkait

Rekomendasi