Tujuh belas tahun silam, Hartono Gan melangkah ke industri fesyen dengan idealisme tinggi dan gairah besar pada busana pria. Kini, setelah hampir dua dekade melintasi berbagai dinamika pasar, ia tetap berdiri tegak, membuktikan bahwa napas panjang seorang desainer tidak hanya ditentukan oleh sketsa yang indah, tetapi juga oleh ketangguhan dalam beradaptasi.
Perjalanan ini mencapai tonggak sejarah baru tahun lalu ketika karyanya untuk pertama kali melenggang di runway Busan Fashion Week. Debut internasional tersebut seolah menjadi validasi atas konsistensinya sejak memulai karier pada 2009. Di balik sorot lampu panggung, Hartono menyimpan cerita tentang bagaimana ia harus menyeimbangkan antara impian pribadi dan realitas ekonomi yang kerap kali berseberangan.
Kompromi Antara Passion dan Pasar
Ketertarikan Hartono pada dunia rancang busana berakar kuat pada kategori menswear. Ia membangun fondasi pendidikannya dengan fokus mendalam pada konstruksi pakaian pria, sebuah bidang yang ia akui memiliki tingkat kerumitan yang jauh lebih tinggi dibandingkan pakaian wanita.
"Waktu sekolah saya mulai dari menswear. Bikin menswear itu 10 kali lipat lebih susah dari bikin womenswear," ujar Hartono Gan, Desainer.
Namun, idealisme itu segera berbenturan dengan kondisi pasar Jakarta belasan tahun lalu. Menjalankan sebuah perusahaan membutuhkan modal yang stabil, dan saat itu, pasar busana pria belum memberikan keuntungan finansial yang ia butuhkan untuk terus bernapas di industri ini.
"Sebenarnya (menswear) itu passion saya, cuma karena 17 tahun lalu saya butuh uang untuk menjalankan perusahaan, waktu itu dari menswear saya tidak dapat apa-apa, jadi saya harus mulai dari womenswear," ungkap Hartono Gan, Desainer.
Keputusan beralih ke busana wanita bukan berarti ia menyerah pada impiannya, melainkan sebuah strategi bertahan hidup. Baginya, kecerdasan seorang desainer diuji dari caranya merespons situasi yang ada di depan mata, bukan hanya terpaku pada rencana di atas kertas.
"Life is not about your dream and strategy, it's about how you react to situations. Tahun 2009 mana mungkin saya bikin menswear di Jakarta, siapa yang mau beli?" ujar Hartono Gan, Desainer.
Menjaga Posisi di Puncak
Bagi banyak orang, mendaki menuju puncak popularitas adalah bagian tersulit. Namun, bagi Hartono yang telah menyaksikan pasang surut industri fesyen selama hampir dua puluh tahun, tantangan yang sesungguhnya adalah bagaimana tetap terapung dan relevan saat sudah berada di posisi atas.
"Untuk mencapai puncak itu mudah, tapi bertahan di sana dan tetap afloat itu yang sulit," ungkap Hartono Gan, Desainer.
Ia mengibaratkan karier desainer seperti grafik yang fluktuatif. Lima tahun pertama adalah masa pertumbuhan, diikuti masa stabil hingga tahun kesepuluh. Setelah melewati satu dekade, seorang desainer berada di titik krusial: kembali melesat atau perlahan memudar jika gagal membaca arah tren dan kebutuhan konsumen.
"Lima tahun pertama itu untuk (karier) naik, lima sampai sepuluh tahun mulai stabil, di atas sepuluh tahun itu bisa naik lagi atau turun. Very dangerous," tutur Hartono Gan, Desainer.
Kesuksesan yang terlihat glamor dari luar ternyata menyimpan beban kerja yang berat. Hartono mengakui bahwa pandangannya saat baru memulai karier jauh berbeda dengan kenyataan pahit yang ia temui di lapangan.
"I was so naive aku pikir jadi desainer itu enak, kaya raya, glamour, segala macem. But, after I'm in the industry, it's tougher than you ever thought," aku Hartono Gan, Desainer.
Meski harus menghadapi proses yang melelahkan, Hartono memilih untuk tidak terbebani. Baginya, setiap tantangan adalah ruang untuk belajar. Sikap inilah yang membuatnya tidak merasa jenuh meski sudah berkecimpung sangat lama di dunia yang sama.
"Bayangkan perjalanan saya belasan tahun, tapi tidak terasa, karena we learn by doing, berproses," jelas Hartono Gan, Desainer.
Kini, memasuki tahun ke-17, Hartono kembali melakukan manuver dengan merambah lini ready-to-wear. Melalui koleksi capsule wardrobe perdana yang diluncurkan di LAKON Store, Mall Summarecon Kelapa Gading, ia menghadirkan 16 item mulai dari blazer hingga kemeja. Langkah ini menjadi bukti bahwa semangat, tekad, dan kemampuan beradaptasi adalah kunci utama untuk tetap eksis di tengah pasar fesyen yang terus berubah dengan cepat.