Harga Karya Seni Rupa Stagnan di Tengah Lonjakan Pameran Awal 2026

Harga Karya Seni Rupa Stagnan di Tengah Lonjakan Pameran Awal 2026
Foto: Ilustrasi Harga Karya Seni Rupa Stagnan di Tengah Lonjakan Pameran Awal 2026.

Intensitas pameran seni rupa di Indonesia mengalami lonjakan signifikan pada awal 2026, namun fenomena ini tidak diikuti oleh kenaikan harga karya di pasar primer. Stagnasi harga tetap terjadi meski partisipasi publik terus meningkat melalui berbagai agenda besar seperti Art Jakarta Papers dan Art Jakarta Gardens.

Dilansir dari Lifestyle, sektor ekonomi kreatif sebenarnya mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,69 persen pada 2025 dengan nilai mencapai US$12,89 miliar berdasarkan data Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Kendati demikian, subsektor seni rupa masih tertahan oleh tantangan pembentukan pasar yang solid di dalam negeri.

Direktur Artistik Art Jakarta, Enin Supriyanto, mengungkapkan bahwa fluktuasi harga karya seni rupa tidak menunjukkan pergerakan berarti dalam periode yang cukup lama. Beliau menyoroti bahwa kemampuan ekonomi domestik memegang peranan krusial dalam menentukan nilai jual karya tersebut.

"Fluktuasinya itu 10 tahun terakhir, harga karyanya segitu saja sebenarnya," ujarnya Enin Supriyanto.

Penjelasan lebih lanjut mengenai kondisi pasar lokal dipaparkan oleh Enin dengan merujuk pada pengaruh daya beli masyarakat terhadap ekosistem seni. Meskipun kolektor muda mulai bermunculan, pengaruh mereka terhadap kenaikan harga belum terasa secara masif.

"Jadi kemampuan ekonomi rata-rata di negara itulah yang menentukan," katanya Enin Supriyanto.

Sebagai langkah strategis menghadapi kondisi pasar domestik, pemerintah mulai memfasilitasi ekspansi galeri ke luar negeri untuk mencari akses ekonomi baru. Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyatakan dukungannya melalui program internasional guna memperkuat ekosistem budaya Indonesia di kancah global.

"Upaya ini juga untuk membangun ekosistem budaya yang memungkinkan talenta seni rupa Indonesia tumbuh berkelanjutan, menjalin jejaring, dan beresonansi dalam lanskap seni kontemporer dunia," ujarnya Fadli Zon.

Co-Founder dan Program Director dari galeri Sewu Satu, Raihan Prabowo, menceritakan pengalamannya membawa karya bertema sosial kontemporer ke Art Central Hong Kong pada Maret 2026. Ia mengakui adanya keterkejutan saat proses seleksi awal terhadap seniman yang terlibat.

"Aku juga masih agak shock. Sebab seniman yang dipilih itu sangat vokal dan mengkritik rezim," ujarnya Raihan Prabowo.

Raihan mengamati adanya perbedaan perilaku antara kolektor luar negeri dan domestik, di mana audiens internasional lebih mendalami substansi di balik sebuah karya. Narasi dan konteks sosial menjadi daya tarik utama dibandingkan sekadar nilai estetika visual semata.

"Mereka bukan sekadar tanya harga, tapi tanya lebih dalam soal konteks," katanya Raihan Prabowo.

Artikel terkait

Rekomendasi