Harga minyak mentah dunia mengalami lonjakan signifikan lebih dari 7 persen pada perdagangan awal Asia, Senin (20/4/2026), menyusul penutupan kembali jalur distribusi vital di Selat Hormuz. Situasi ini dipicu oleh eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran yang saling melayangkan tuduhan pelanggaran gencatan senjata.
Lonjakan nilai komoditas energi ini tercatat cukup tajam sebagaimana dilansir dari Money melalui laporan Reuters. Harga minyak Brent terpantau naik sebesar 6,56 dollar AS atau 7,26 persen ke angka 96,94 dollar AS per barrel, sementara jenis West Texas Intermediate (WTI) menguat 6,07 dollar AS atau 7,24 persen menjadi 89,92 dollar AS per barrel.
Kondisi pasar saat ini sangat dipengaruhi oleh kekhawatiran atas pasokan energi global mengingat posisi Selat Hormuz sebagai rute utama pengiriman minyak dan gas. Selain isu penutupan jalur laut, sentimen negatif juga muncul akibat penolakan Iran untuk melakukan dialog damai baru dengan pihak Amerika Serikat.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menyatakan rencana pengiriman utusan negosiasi namun tetap menyertakan ancaman serangan baru jika tuntutannya tidak dipenuhi. Hubungan kedua negara semakin memburuk setelah otoritas AS menyita kapal kargo Iran yang dianggap mencoba menembus blokade di wilayah perairan tersebut.
Analis Pepperstone, Michael Brown memberikan pandangan terkait situasi pasar yang sedang bergejolak. Meski penuh tekanan, ia mencatat bahwa saluran komunikasi antar kedua belah pihak yang bersengketa sebenarnya belum tertutup sepenuhnya.
"Memang kabar penutupan Selat Hormuz tidak bagus, begitu juga dengan serangan kapal dan ancaman trump terhadap Iran. Tapi kalau dilihat lebih sederhana, kedua pihak sebenarnya masih saling berkomunikasi," ujar Michael Brown, Analis Pepperstone.
Sentimen pasar ini berbanding terbalik dengan kondisi pada Jumat (17/4/2026) lalu ketika harga minyak sempat anjlok 9 persen karena optimisme berakhirnya konflik. Namun, harapan tersebut pupus setelah Selat Hormuz ditutup kembali hanya dalam waktu 12 jam setelah sempat dibuka untuk lalu lintas kapal.
Pembalikan arah pasar ini dinilai akan berdampak pada instrumen keuangan lainnya, termasuk obligasi. Michael Brown memperingatkan bahwa pelaku pasar akan terus bersikap waspada terhadap perkembangan di Timur Tengah.
"Sekarang setelah Selat Hormuz kembali ditutup setelah sekitar 12 jam sempat dibuka, kemungkinan besar sebagian besar pergerakan pasar yang terjadi pada Jumat lalu (terutama di obligasi) akan berbalik arah," kata Michael Brown, Analis Pepperstone.
Ketidakpastian mengenai partisipasi Iran dalam pembicaraan damai menjadi faktor penentu reaksi pasar selanjutnya. Jika proses diplomasi benar-benar terhenti, risiko pasar diperkirakan akan meningkat lebih jauh dari posisi saat ini.
"Jika memang dipastikan Iran tidak akan menghadiri pembicaraan, maka reaksi pasar akan jauh lebih menghindari risiko dibandingkan yang terlihat saat ini," kata Michael Brown, Analis Pepperstone.