Biaya produksi perangkat elektronik global mengalami tekanan hebat akibat lonjakan permintaan komponen chip dan memori yang didorong oleh industri kecerdasan buatan (AI). Kondisi ini menyebabkan harga smartphone dan monitor Xiaomi diprediksi akan terus merangkak naik setidaknya hingga tahun 2027 mendatang.
Dilansir dari Suara, petinggi raksasa teknologi asal China tersebut telah memberikan peringatan mengenai potensi kenaikan harga produk sejak tahun lalu. Fenomena ini muncul karena rantai pasokan global menghadapi kendala besar dalam memenuhi kebutuhan komponen vital yang harganya kian melambung.
Indikasi kenaikan ini sudah mulai terlihat pada lini produk menengah Xiaomi di pasar Indonesia. Sebagai contoh, Redmi Note 15 5G dengan konfigurasi 6GB/128GB resmi meluncur pada Januari 2026 dengan harga Rp3.299.000.
Angka tersebut menunjukkan kenaikan dibandingkan generasi sebelumnya yang memiliki kapasitas memori lebih besar (8GB/256GB), namun dibanderol lebih murah yakni Rp3.099.000 pada tahun lalu. Untuk varian tertinggi Redmi Note 15 5G (12GB/512GB), harganya mencapai Rp4.599.000, atau selisih Rp600.000 lebih mahal dari Redmi Note 14 5G.
Selain ponsel pintar, segmen monitor kelas menengah ke atas juga terdampak kenaikan biaya chip papan kontrol dan memori sebesar 2 hingga 3 dolar AS per unit. Prediksi tambahan kenaikan sebesar 3 dolar AS diperkirakan akan terjadi kembali pada kuartal ketiga tahun 2026.
Meski kenaikan per unit terlihat kecil, dampak akumulatifnya sangat signifikan bagi margin keuntungan perusahaan yang dilaporkan menyusut dari 12 persen menjadi 8,3 persen pada 2025. Produk unggulan seperti seri Redmi G Pro diperkirakan akan menjadi salah satu yang terdampak kebijakan penyesuaian harga ini.
Mengutip XiaomiTime, Lei Jun selaku CEO Xiaomi mengonfirmasi bahwa bisnis smartphone mereka merasakan tekanan hebat akibat harga memori yang meroket hampir empat kali lipat dalam setahun terakhir.
"Perusahaan berencana untuk mengeksplorasi berbagai pendekatan untuk mengurangi beban pembeli," ujar Lei Jun.
Presiden Xiaomi, Lu Weibing, menambahkan bahwa meskipun skala produksi besar memberikan posisi stabil, siklus kenaikan harga ini kemungkinan berlangsung lebih lama dari biasanya. Kondisi serupa juga dihadapi oleh kompetitor seperti Oppo, Vivo, dan Honor yang berpotensi mengubah lanskap pasar smartphone kelas bawah.