Konflik bersenjata antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran yang berujung pada penutupan Selat Hormuz memberikan dampak signifikan terhadap distribusi minyak mentah dunia.
Kondisi ini memicu fluktuasi harga bahan bakar di berbagai negara, termasuk di Negeri Tirai Bambu yang mencatatkan kenaikan cukup dinamis dalam dua bulan terakhir.
Dilansir dari Otomotif, harga bahan bakar paling standar di stasiun pengisian wilayah Guangzhou saat ini tercatat berada di angka 8,48 yuan per liter.
Jika dikonversikan ke mata uang rupiah sesuai kurs yang berlaku, harga bensin untuk jenis RON 92 tersebut setara dengan Rp 18.656 per liter.
Afung, seorang pemandu dan penerjemah di Guangzhou, menjelaskan bahwa pilihan oktan bensin di China berbeda dengan di Indonesia karena tidak tersedianya RON 90.
"Di China tidak ada RON 90, paling rendah RON 92, kemudian RON 95 dan RON 98," ujarnya.
Meskipun angka tersebut terlihat tinggi, harga saat ini diklaim sudah sedikit mengalami penurunan jika dibandingkan dengan periode satu pekan sebelumnya.
"Seminggu yang lalu lebih tinggi yaitu 8,88 yuan (sekitar Rp 19.536) jadi saat ini sudah turun sedikit. Tapi kalau dua bulan yang lalu harganya itu sekitar 7 yuan (Rp 15.400)," kata Afung.
Kesenjangan harga BBM antara China dan Indonesia terlihat sangat mencolok, terutama pada segmen bahan bakar oktan rendah yang sering digunakan masyarakat.
Di Indonesia, harga Pertamax RON 92 masih dipasarkan pada kisaran Rp 12.300 hingga Rp 12.900 per liter, jauh di bawah harga bensin sejenis di China.
Masyarakat di China bahkan harus mengeluarkan dana hampir dua kali lipat lebih banyak dibandingkan harga Pertalite (RON 90) di tanah air yang dipatok Rp 10.000 per liter.
Perbandingan harga juga ditemukan pada segmen bensin premium, di mana Pertamax Turbo RON 98 di Indonesia dijual sekitar Rp 19.400 per liter.
Nilai jual bensin oktan tertinggi di Indonesia tersebut hanya berselisih tipis dengan harga bensin RON 92 paling standar yang beredar di pasar China saat ini.