Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi mengimbau jemaah haji Indonesia gelombang kedua untuk mengenakan kain ihram sejak dari embarkasi di Tanah Air. Kebijakan ini diterapkan guna memastikan kelancaran dan efisiensi waktu setibanya jemaah di Bandara Internasional King Abdul Aziz, Jeddah.
Langkah antisipasi tersebut dilakukan karena jemaah gelombang kedua akan langsung melaksanakan umrah wajib setelah mendarat. Berbeda dengan gelombang pertama yang mendarat di Madinah, jemaah yang tiba di Jeddah harus sudah dalam kondisi siap beribadah, sebagaimana dilansir dari Detikcom.
Kepala Daerah Kerja (Kadaker) Bandara, Abdul Basir, menjelaskan mekanisme pemberangkatan bagi jemaah gelombang kedua ini pada Senin (4/5/2026). Ia menekankan pentingnya kesiapan jemaah sebelum keluar dari pesawat di Jeddah.
"Perbedaannya kalau di Bandara Jeddah nanti kan jemaah haji sudah diminta berihram sejak dari embarkasi. Mereka turun dari pesawat itu sudah kondisi berihram. Nanti teman-teman dari pembimbing ibadah akan mengingatkan kembali kepada jemaah untuk berniat dan mengecek kembali syarat sahnya," ujar Abdul Basir, Kepala Daerah Kerja (Kadaker) Bandara.
Petugas Pembimbing Ibadah (Bimbad) Daker Bandara, Anis Dyah, memaparkan alasan teknis di balik imbauan tersebut pada Selasa (5/5/2026). Penggunaan ihram sejak di Indonesia diperlukan karena pesawat akan melintasi titik miqat di Yalamlam dengan kecepatan sangat tinggi.
"Kenapa diimbau pakai dari Indonesia? Karena Jeddah ini satu arah dengan Yalamlam. Kalau jemaah harus berniat dan memakai ihram di atas pesawat tepat saat di Yalamlam, itu ada masyaqqah (kesulitan). Kecepatan pesawat luar biasa, khawatir terlewat," jelas Anis Dyah, Petugas Pembimbing Ibadah (Bimbad) Daker Bandara.
Anis memberikan penegasan bahwa jemaah belum terikat larangan ihram meskipun sudah mengenakan pakaian tersebut di Indonesia. Status ihram baru dimulai secara resmi setelah jemaah melafazkan niat.
"Niatnya nanti ketika tiba di Jeddah. Jadi selama di pesawat, jemaah laki-laki masih boleh pakai celana pendek di dalam kain ihram agar tidak kedinginan, boleh pakai kaus kaki, bahkan boleh pakai minyak wangi atau kayu putih karena belum niat," tambah Anis Dyah, Petugas Pembimbing Ibadah (Bimbad) Daker Bandara.
Petugas di Bandara King Abdul Aziz akan melakukan pemeriksaan akhir untuk memastikan seluruh jemaah memenuhi syarat sah. Jemaah perempuan diingatkan untuk melepas kelengkapan seperti cadar atau kaus tangan sebelum berniat.
"Kami dari petugas bimbingan ibadah yang bertugas di Bandara King Abdul Aziz akan memandu para jemaah untuk berniat ihram. Jika di pesawat tadi jemaah sempat buang air atau terkena najis, tidak apa-apa dan tidak mengganggu pahala mandi ihram. Tinggal bersuci kembali, berwudu, kemudian baru kita pandu melaksanakan niat," pungkas Anis Dyah, Petugas Pembimbing Ibadah (Bimbad) Daker Bandara.