Ketua Komisi III DPR RI, Habiburokhman, memberikan tanggapan tegas terkait kritik yang dilontarkan mantan Wakil Menteri Luar Negeri, Dino Patti Djalal. Kritik tersebut sebelumnya menyoroti tingginya intensitas kunjungan kerja Presiden Prabowo Subianto ke berbagai negara.
Habiburokhman menilai bahwa apa yang disampaikan oleh Dino tidaklah produktif bagi jalannya pemerintahan saat ini. Ia berpendapat bahwa pernyataan tersebut cenderung mengabaikan akurasi informasi yang seharusnya menjadi landasan sebuah masukan.
Meskipun begitu, politikus Partai Gerindra ini tetap mengakui bahwa kritik adalah bagian yang tidak terpisahkan dari iklim demokrasi di Indonesia. Menurutnya, pemerintah harus selalu membuka diri terhadap berbagai aspirasi, termasuk dari mereka yang pernah menduduki kursi jabatan publik.
Habiburokhman menegaskan bahwa dalam era keterbukaan, masukan dari tokoh seperti Dino Patti Djalal memang perlu didengarkan. Namun, ia menyayangkan jika kritik yang diberikan justru terkesan sebagai serangan politik yang subjektif.
Poin keberatan Habiburokhman terhadap kritik Dino Patti Djalal:
- Kritik dinilai tidak memiliki dasar informasi yang kuat dan akurat.
- Adanya tendensi serangan politik yang bertujuan hanya untuk mengolok-olok kebijakan pemerintah.
- Saran yang diberikan dianggap kurang relevan dengan dinamika politik global saat ini.
- Adanya pertimbangan etika bagi mantan pejabat dalam mengomentari kinerja penerusnya.
Lebih lanjut, Habiburokhman menyoroti usulan Dino agar Presiden lebih banyak mengundang pemimpin asing daripada bepergian ke luar negeri. Ia menganggap ide tersebut kurang tepat mengingat situasi ketidakpastian dunia yang menuntut pemimpin untuk lebih aktif menjemput bola.
Ia bahkan mencontohkan langkah tokoh dunia seperti Donald Trump yang tetap melakukan kunjungan ke China demi memperjuangkan kepentingan nasionalnya. Menurutnya, langkah proaktif Presiden Prabowo dalam melakukan diplomasi internasional justru merupakan strategi yang krusial.
Habiburokhman juga menyinggung sisi etika mengingat latar belakang Dino sebagai mantan Wakil Menteri Luar Negeri. Ia merasa kurang pantas bagi seorang mantan diplomat senior untuk mengkritik kebijakan luar negeri secara frontal kepada pemerintahan yang sedang berjalan.
Ia menjelaskan bahwa di negara-negara maju, terdapat tradisi di mana mantan pejabat biasanya membatasi diri dalam memberikan kritik kepada penggantinya. Hal ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan terhadap mereka yang sedang memikul tanggung jawab dan menjalankan tugas negara.
Penghormatan terhadap proses kerja pejabat yang sedang menjabat dinilai sangat penting untuk menjaga suasana politik yang kondusif. Habiburokhman menambahkan bahwa kritik dari mantan pejabat justru berisiko memicu perbandingan kinerja oleh masyarakat.
Ringkasan perbandingan pandangan antara Dino Patti Djalal dan Habiburokhman:
| Topik Pembahasan | Perspektif Dino Patti Djalal | Tanggapan Habiburokhman |
|---|---|---|
| Kunjungan Luar Negeri | Dinilai terlalu intens dan perlu dikurangi. | Sangat diperlukan karena situasi global yang tidak menentu. |
| Diplomasi Kepresidenan | Menyarankan lebih banyak mengundang tamu negara ke dalam negeri. | Presiden harus proaktif mengunjungi pemimpin negara lain. |
| Etika Mantan Pejabat | Menyampaikan kritik sebagai masukan kebijakan. | Kurang etis dan sebaiknya menghormati pejabat yang sedang bekerja. |
Tabel di atas menunjukkan perbedaan mendasar mengenai strategi diplomasi internasional yang dijalankan oleh Presiden Prabowo Subianto. Perdebatan ini mencerminkan dinamika pandangan antara praktisi diplomasi senior dan pihak legislatif saat ini.
Sebagai penutup, Habiburokhman mengingatkan bahwa kritik yang tidak konstruktif dari mantan pejabat bisa menjadi bumerang bagi diri mereka sendiri. Publik tentu akan mulai membandingkan rekam jejak kinerja sang pengkritik saat masih menjabat dengan capaian pemerintah yang sekarang.