Abdul Azis (45), seorang tenaga pendidik honorer di Jakarta, mulai kembali menggunakan sepeda motor untuk berangkat mengajar setelah mendapatkan bantuan dari relawan pada Kamis (23/4/2026). Sebelumnya, Azis terpaksa mengayuh sepeda selama enam bulan akibat kehilangan kendaraan lamanya.
Kisah guru agama Islam dan kesenian ini menarik perhatian publik setelah ia harus melintasi jalur ekstrem yang dipenuhi truk kontainer demi mencapai sekolah. Sebagaimana dilansir dari Megapolitan, pemberian motor baru ini merupakan hasil penggalangan dana oleh kelompok relawan Gerak Bareng.
Azis menceritakan pengalaman pertamanya saat mencoba kembali mengendarai motor setelah sekian lama terbiasa mengayuh pedal. Ketinggian motor yang baru diterimanya sempat membuatnya harus beradaptasi kembali demi menjaga keseimbangan.
ÔÇ£Karena sudah hampir enam bulan nggak pernah bawa motor, pas bawa motor lagi emang agak sedikit kagok," kata Azis.
Aktivitas pertama yang dilakukannya dengan motor tersebut adalah mengisi bahan bakar dan memenuhi kebutuhan rumah tangga. Ia mengaku merasa sangat bahagia dapat kembali berkendara dengan moda transportasi mesin yang lebih efisien.
"Kemarin pas motornya sampai, saya langsung isi bensin dan coba buat beli galon sekalian biasain bawa motor lagi kan. Alhamdulillah senang banget lah. Sangat-sangat senang bisa naik motor lagi," kata dia.
Penggunaan sepeda motor dinilai memberikan rasa aman yang lebih besar dibandingkan saat harus menepi di trotoar demi menghindari kendaraan berat. Waktu tempuh menuju sekolah kini menjadi jauh lebih singkat dan tenaga Azis tidak lagi terkuras di perjalanan.
ÔÇ£Kemarin kan kita naik sepeda harus ekstra hati-hati, harus lebih ke pinggir, bahkan sampai naik ke trotoar. Kalau sekarang pakai motor lebih aman,ÔÇØ ucap dia.
Kebahagiaan ini juga dirasakan oleh anak sulungnya, Azalea (11), yang sering ikut menumpang saat berangkat ke sekolah. Kehadiran motor baru tersebut menjadi penghibur setelah masa sulit yang mereka lalui sejak November 2025.
"Anak saya alhamdulillah dari mulai awal motor turun juga sudah senang banget, kegirangan banget. 'Alhamdulillah akhirnya sekarang kita nggak naik sepeda lagi, kita naik motor',ÔÇØ ujar Azis.
Kondisi ekonomi Azis dengan gaji Rp 2 juta per bulan sebelumnya membuatnya mustahil untuk membeli kendaraan baru secara mandiri. Ia sering kali harus menuntun sepeda saat melewati tanjakan tinggi karena keterbatasan fisik.
"Kadang anak saya juga bilang, 'Abi hati-hati awas ada mobil besar, minggir dikit.' Bahkan kadang kami turun dari sepeda untuk menghindari mobil besar, jadi kami ambil jalan trotoar," kata Azis.
Saat prosesi serah terima bantuan, Azis tampak emosional dan menyampaikan apresiasi mendalam kepada para donatur. Ia bersyukur masih banyak pihak yang peduli terhadap dedikasi seorang guru di tengah keterbatasan fasilitas.
"Alhamdulillah ya, bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta'ala ada orang baik yang banyak mau berpartisipasi sehingga bisa memberikan motor kepada saya. Saya sangat berterima kasih sekali dan juga sangat bersyukur sekali," ucap Azis.
Kendati telah mendapatkan bantuan transportasi, Azis menekankan bahwa kesejahteraan guru honorer secara umum masih memerlukan perhatian serius dari pemerintah. Ia mendorong adanya perbaikan sistem penggajian dan pembukaan kuota sertifikasi yang lebih luas bagi rekan-rekan sejawatnya.
"Kemudian juga untuk guru-guru yang lain kemungkinan buat yang di Diknas juga dibantu untuk P3K-nya dan lain sebagainya, agar kebutuhan ekonomi mereka bisa terpenuhi. Atau mungkin barangkali dengan cara berikan bantuan-bantuan yang lain, misalnya program-program bulanan," tutup Azis.