Gultik Blok M menjadi salah satu kuliner legendaris yang tetap digemari banyak orang meski dompet sedang tipis. Para penjualnya sudah menjadi bagian dari karakter khas Blok M sejak 1980-an, di mana jajaran gerobak pikul dengan panci besar dan tumpukan piring siap menyambut pengunjung yang datang. Gultik, atau gulai tikungan, sungguh khas dengan kuah gulainya yang unik dan murah meriah.
Hampir di setiap sudut Blok M, pengunjung dapat merasakan keragaman kuliner yang menggugah selera. Namun, di tikungan Jalan Mahakam hingga Taman Ayodya, terdapat sederet penjual gultik yang membuat tempat ini nampak khas. Gultik menjadi favorit para pengunjung, terutama di malam hari ketika para pedagang mulai membuka lapaknya.
Ade Heri (35), salah satu pegawai Gultik Pak Kumis, mengungkapkan bahwa usaha ini sudah dimulai sejak 1980-an. Ia menceritakan, "Blok M dulu terkenal keras, banyak tawuran, akhirnya bisa berjualan di sini. Berjuang lah intinya," katanya sambil menyiapkan hidangannya. Keberadaan penjual gultik turut menghidupkan kawasan ini menjadi pusat kuliner lama yang khas.
Kuliner gultik sendiri sebenarnya berasal dari perantauan daerah Sukoharjo, Jawa Tengah. Mereka membawa resep gulai Solo dengan sedikit modifikasi. Nama 'gultik' berasal dari lokasi berjualan yang selalu di tikungan. Rasa gultik terkenal karena bumbunya yang lengkap, seperti lengkuas dan kayu manis, sehingga menambah kenikmatan hidangan ini.
Mencoba gultik Blok M, kenikmatan yang tak tertandingi:
- Satu porsi dijual seharga Rp10 ribu dan sudah termasuk nasi, daging, dan kuah gulai yang encer.
- Aneka sate seperti sate telur puyuh hingga ati juga tersedia, masing-masing seharga Rp5.000 per tusuk.
- Minuman yang ditawarkan sederhana, seperti teh botolan dan air mineral, dengan harga Rp5.000.
Rasa kuahnya yang tidak terlalu tajam ternyata memiliki perpaduan manis dan pedas dari berbagai rempah-rempahnya. Dagingnya pun empuk dan mudah dinikmati. Aneka sate yang dihadirkan turut melengkapi porsi yang kecil namun tetap membuat kenyang perut.
Gultik dikenal murah dan menjadikannya pilihan ketika anggaran sedang ketat. Jojo (59), salah satu pelanggan setia, mengungkapkan bahwa selain murah, rasa daging pada gultik memang cukup mengenyangkan. Fitri, pembeli lainnya, mengaku mengenal gultik sejak zaman kuliah karena harganya sangat terjangkau bagi kantong mahasiswa.
Perubahan jumlah penjual dan pengunjung di Blok M:
Ade Heri mencatat bahwa meski harga tetap, penjualan mengalami penurunan beberapa tahun terakhir. Dia menyalahkan perekonomian yang turun sebagai penyebabnya. Meskipun demikian, ia tidak merasa rugi karena masih bisa mencukupi kebutuhan rumah tangganya dari pendapatan berjualan gultik setiap hari.
```