Partai Golkar segera menetapkan pelaksana tugas atau Plt Ketua Dewan Pimpinan Daerah Maluku Tenggara untuk mengisi kekosongan jabatan setelah Agrapinus Rumatora alias Nus Kei meninggal dunia akibat insiden penusukan pada Minggu (19/4/2026). Langkah organisasi ini diambil guna memastikan kelancaran agenda politik internal di wilayah tersebut.
Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Ace Hasan Syadzily, menjelaskan bahwa penunjukan nakhoda sementara ini mendesak untuk dilakukan oleh pengurus tingkat provinsi. Hal tersebut berkaitan erat dengan rencana penyelenggaraan Musyawarah Daerah atau Musda yang dijadwalkan berlangsung dalam waktu dekat di Maluku Tenggara.
"Karena sebentar lagi akan dilaksanakan Musda, tentu DPD Provinsi akan menunjuk Plt Ketua DPD Maluku Tenggara dan sesegera mungkin Musda akan dilaksanakan," ujar Ace di kantor DPP Partai Golkar, Jakarta, Selasa (21/4/2026).
Ace menekankan pentingnya respon struktural yang cepat dari DPD Golkar Provinsi Maluku untuk mengantisipasi gejolak di akar rumput. Penugasan pejabat sementara ini diharapkan mampu memelihara stabilitas internal partai selama masa transisi sebelum Musda dimulai.
"DPD Provinsi Maluku akan mengambil langkah-langkah organisasi lebih lanjut supaya suasananya tetap kondusif untuk pelaksanaan Musda di Maluku Tenggara," katanya.
Selain membahas aspek organisasi, pimpinan pusat Golkar turut memberikan pernyataan resmi terkait aspek kemanusiaan atas tragedi yang menimpa kadernya. Ace meminta para simpatisan dan anggota partai agar menahan diri dari tindakan yang melanggar aturan.
"Kita sangat prihatin dan menyampaikan duka mendalam. Semua kader diharapkan tetap tenang, sabar, and menyerahkan sepenuhnya kepada ketentuan hukum yang berlaku," ujar Ace.
Ace juga mendesak pihak berwajib untuk mengusut tuntas peristiwa kekerasan yang merenggut nyawa Ketua DPD Golkar Maluku Tenggara tersebut. Ia berharap penegakan hukum berjalan tegas terhadap setiap pihak yang terlibat dalam insiden berdarah itu.
Berdasarkan laporan yang dilansir dari Nasional, peristiwa penikaman terhadap Nus Kei terjadi di Bandara Sadsuitubun pada Minggu (19/4/2026) sekitar pukul 12.00 WIT. Korban diserang sesaat setelah mendarat dari penerbangan asal Ambon dan dilaporkan meninggal dunia di lokasi kejadian.
Pihak kepolisian telah mengamankan dua orang terduga pelaku yang berinisial HR dan FU untuk pemeriksaan lebih lanjut. Hasil interogasi awal menunjukkan bahwa aksi nekat kedua pelaku dipicu oleh motif dendam terkait kematian saudara mereka yang bernama Fenansius Wadanubun alias Dani Hoat.
Kedua tersangka dalam keterangannya mengklaim bahwa Nus Kei merupakan sosok yang berada di balik peristiwa pembunuhan saudara mereka sebelumnya. Saat ini, proses hukum terhadap HR dan FU terus berjalan di bawah penanganan kepolisian setempat.