Gaya Hidup Modern Picu Lonjakan Kasus Kanker pada Usia Muda

Gaya Hidup Modern Picu Lonjakan Kasus Kanker pada Usia Muda
Foto: Ilustrasi Gaya Hidup Modern Picu Lonjakan Kasus Kanker pada Usia Muda.

Faktor genetika dan kebiasaan merokok atau konsumsi alkohol berat selama ini menjadi pusat riset asal-usul kanker. Namun, dilansir dari Media Indonesia, hanya sebagian kecil kasus yang dapat dijelaskan melalui mutasi genetik warisan.

Para ilmuwan kini mulai meneliti rangkaian paparan lingkungan yang lebih luas sepanjang hidup manusia. Gary Patti bersama timnya dari Washington University School of Medicine di St. Louis tengah meneliti penyebab banyaknya orang muda yang terkena kanker.

Tren lonjakan kasus ini dimulai pada anggota termuda Generasi X dan kini paling terlihat di kalangan milenial. Mereka didiagnosis pada usia 20-an, 30-an, dan awal 40-an, atau beberapa dekade lebih awal dibanding generasi terdahulu.

Data federal menunjukkan angka kanker di antara mereka yang berusia 15 hingga 49 tahun meningkat sebesar 10 persen sejak tahun 2000. Fenomena ini terjadi bahkan ketika angka kanker turun di kalangan orang tua.

Wanita muda tercatat lebih terdampak dibandingkan pria pada rentang usia tersebut. Pada kelompok usia 15 hingga 49 tahun, wanita memiliki tingkat kanker 83 persen lebih tinggi daripada pria.

Penelitian baru kini berfokus pada exposome, yaitu rentang penuh paparan lingkungan yang dialami seseorang sejak sebelum lahir beserta interaksinya dengan biologi tubuh. Para peneliti menyoroti beberapa faktor kunci yang diduga memicu percepatan penuaan biologis dan risiko kanker dini.

Faktor pertama adalah medikasi maternal. Penelitian Caitlin Murphy dari University of Chicago menemukan obat-obatan tertentu yang diminum selama kehamilan pada era 1960-an hingga 1980-an dapat meningkatkan risiko kanker pada anak di kemudian hari.

Sebagai contoh, paparan obat antimual tertentu dikaitkan dengan risiko kanker usus besar 3,6 kali lebih tinggi saat anak dewasa. Faktor berikutnya adalah diet ultra-proses seperti makanan siap saji, sereal manis, dan daging olahan yang mencakup lebih dari separuh asupan kalori harian.

Studi tahun 2023 di BMJ mengaitkan konsumsi tinggi makanan ultra-proses dengan peningkatan risiko kanker kolorektal dan payudara. Selain itu, gangguan ritme sirkadian akibat paparan cahaya buatan di malam hari dan konektivitas digital 24/7 turut mengganggu produksi melatonin.

Gangguan tersebut dapat merusak mekanisme perbaikan DNA dan regulasi imun yang memicu keganasan dini. Faktor lainnya adalah bahan kimia dan mikroplastik yang kini ditemukan di plasenta, paru-paru, hingga jantung, serta bertindak sebagai spons bagi toksin lingkungan.

Tahun lalu, studi terhadap 150.000 orang mengungkapkan bahwa milenial kelahiran 1981-1996 mengalami penuaan biologis lebih cepat. Percepatan ini dikaitkan dengan peningkatan risiko hingga 42 persen untuk kanker tertentu, terutama paru-paru, saluran pencernaan, dan rahim.

Andrew Chan, profesor dari Harvard Medical School, menekankan bahwa efek makanan ultra-proses memiliki efek metabolik independen yang merusak kesehatan manusia, bukan sekadar masalah berat badan.

"Ini bukan hanya tentang kanker," kata Yin Cao dari Washington University.

Yin Cao menambahkan bahwa ini merupakan masalah universal di berbagai penyakit, mulai dari jantung hingga Alzheimer yang muncul lebih awal.

Meskipun penelitian ini masih dalam tahap awal dan banyak didasarkan pada studi observasional, para ahli memperingatkan masyarakat agar lebih waspada. Gary Patti menyimpulkan bahwa data mengenai risiko ini sebenarnya sudah ada di dalam tubuh manusia dan menunggu untuk dipahami lebih dalam.

Daftar Faktor Risiko Modern dan Dampak Potensial bagi Tubuh
Faktor Risiko ModernDampak Potensial
MikroplastikKerusakan DNA & Peradangan Kronis
Cahaya Biru/GadgetGangguan Melatonin & Perbaikan Sel
Zat Kimia SintetisKetidakseimbangan Hormon

Artikel terkait

Rekomendasi