Gaya hidup tidak sehat kini menjadi pemicu utama meningkatnya risiko penyakit kritis selain faktor genetik yang juga berdampak pada sulitnya seseorang melewati proses seleksi risiko atau underwriting saat mengajukan asuransi kesehatan. Fenomena ini dilaporkan pada Rabu (21/2/2024) sebagai hambatan signifikan bagi calon nasabah dalam mendapatkan proteksi finansial.
Proses penilaian risiko tersebut mempertimbangkan berbagai indikator medis untuk menentukan kelayakan serta besaran biaya perlindungan bagi individu. Sebagaimana dilansir dari Investortrust, faktor-faktor seperti usia, indeks massa tubuh, riwayat penyakit, hingga kebiasaan merokok menjadi variabel penentu dalam keputusan perusahaan asuransi.
Medical Underwriter Sequis, Debora Aloina Ita Tarigan menjelaskan bahwa kondisi kesehatan dan kebiasaan sehari-hari merupakan poin krusial dalam evaluasi calon nasabah. Ia menekankan pentingnya memiliki proteksi sejak dini sebelum masalah kesehatan muncul secara permanen.
"Jika belum memiliki asuransi sebaiknya perhatikan gaya hidup anda dan berasuransilah saat kondisi tubuh masih sehat dan usia masih produktif," ujarnya Debora Aloina Ita Tarigan, Medical Underwriter Sequis.
Tujuan utama dari tahapan evaluasi medis ini adalah untuk mengukur potensi beban klaim yang mungkin dihadapi oleh penyedia jasa asuransi di masa depan. Penetapan nilai premi yang harus dibayarkan oleh nasabah setiap bulannya juga sangat bergantung pada hasil analisis risiko pada tahap awal pengajuan ini.
"Proses ini wajib dilakukan untuk mengetahui besaran risiko yang memungkinkan ditanggung oleh perusahaan asuransi. Kemungkinan ini juga berlaku di Sequis sebagai salah satu perusahaan asuransi di Indonesia," katanya Debora Aloina Ita Tarigan, Medical Underwriter Sequis.
Dalam upaya memperbaiki profil kesehatan guna mempermudah proses underwriting, pengaturan pola makan atau diet menjadi langkah yang disarankan oleh para ahli. Namun, pendekatan diet harus disesuaikan dengan kondisi biologis masing-masing individu untuk menghindari risiko komplikasi medis yang tidak diinginkan.
Clinical Nutritionist NalaGenetics, Putri Sakti Dwi P memaparkan bahwa variasi genetik memengaruhi kebutuhan nutrisi seseorang, termasuk dalam penentuan porsi serta komposisi kalori yang tepat. Ia menyarankan agar individu yang memiliki riwayat penyakit tertentu tidak melakukan perubahan pola makan secara drastis tanpa pengawasan profesional.
"Sebaiknya sebelum melakukan diet, berkonsultasilah dengan dokter dan ahli nutrisi agar diet dapat dilakukan dengan optimal dan tidak memperberat kondisi sakit bagi pasien yang memiliki riwayat sakit," jelas Putri Sakti Dwi P, Clinical Nutritionist NalaGenetics.