PT Garuda Metalindo Tbk (BOLT) membidik reli laba bersih dua digit untuk tahun buku 2026. Emiten manufaktur komponen dan pengikat presisi tinggi ini merencanakan penguatan pendapatan bersih sebesar 15 persen yang ditopang oleh proyeksi kenaikan pendapatan hingga 10 persen.
Seperti dikutip dari Investortrust, produsen komponen asal Indonesia ini berupaya memanfaatkan tren diversifikasi rantai pasok global. Langkah strategis ini diambil guna menembus pasar dengan hambatan masuk tinggi di kawasan Amerika Utara dan Eropa.
Kinerja mesin pertumbuhan perusahaan kini semakin didorong oleh permintaan pasar internasional. Pada tahun 2025, pendapatan ekspor perusahaan melonjak 36 persen menjadi Rp 120 miliar ($7,54 juta), melampaui pertumbuhan pasar domestik yang berada di angka 11,6 persen.
Manajemen berkomitmen mempercepat tren positif tersebut dengan memperdalam penetrasi pasar di Amerika Serikat, India, dan Eropa.
"The company will increase penetration in the two-wheel and four-wheel vehicle segments while accelerating export expansion by utilizing the ongoing global supply chain shift," kata manajemen dalam rilis resmi pada 16 April 2026.
Selain menyasar komponen jadi, perusahaan juga membidik pasar Amerika Utara untuk pengapalan produk batang kawat mentah. Untuk menjaga keunggulan kompetitif di pasar global, manajemen mengalokasikan anggaran belanja modal sebesar Rp 60 billion ($3,77 juta) pada 2026.
Sekitar 75 persen dari dana belanja modal tersebut akan disuntikkan langsung ke sektor teknologi, khususnya untuk otomatisasi pabrik dan digitalisasi proses bisnis. Langkah ini mencakup pemasangan panel surya demi menekan biaya energi serta penerapan desain teknik tingkat lanjut untuk mengoptimalkan penggunaan bahan baku.
Sektor otomotif tetap menjadi inti bisnis perusahaan setelah pendapatan komponen kendaraan roda empat meningkat hampir tiga kali lipat menjadi Rp 344 miliar ($21,6 juta) pada 2025. Meski demikian, korporasi kini mulai beralih ke sektor alat berat, infrastruktur, dan industri umum.
Guna mendukung integrasi vertikal tersebut, perusahaan berencana membeli mesin Hot Dip Galvanized baru untuk melayani proyek infrastruktur skala besar. Diversifikasi ini berhasil mendorong segmen industri lainnya tumbuh mencapai Rp 69 billion ($4,33 juta) pada tahun lalu.