FAO Ingatkan Risiko Kontaminasi Kimia pada Kemasan Pangan Daur Ulang

FAO Ingatkan Risiko Kontaminasi Kimia pada Kemasan Pangan Daur Ulang
Foto: Ilustrasi FAO Ingatkan Risiko Kontaminasi Kimia pada Kemasan Pangan Daur Ulang.

Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) memperingatkan adanya risiko kontaminasi zat kimia berbahaya pada plastik daur ulang dan bahan kemasan alternatif yang bersentuhan dengan makanan. Analisis yang dirilis pada Rabu (13/5/2026) tersebut menekankan perlunya regulasi ketat dalam sistem daur ulang guna mencegah perpindahan polutan ke produk pangan.

Penggunaan material daur ulang dianggap krusial untuk mengatasi krisis sampah dunia, namun berpotensi memicu masalah kesehatan baru jika tidak dikelola dengan teliti. Dilansir dari Lestari, sektor kemasan pangan global diperkirakan melonjak nilainya dari 505 miliar dolar AS pada 2024 menjadi lebih dari 815 miliar dolar AS pada 2030 mendatang.

Petugas keamanan pangan di FAO, Vittorio Fattori, menekankan bahwa efektivitas daur ulang merupakan fondasi solusi krisis lingkungan saat ini. Namun, ia memberikan catatan penting mengenai keseimbangan antara perlindungan lingkungan dan keamanan konsumsi manusia.

"Sampah plastik adalah masalah dunia yang terus membesar. Cara daur ulang yang lebih baik dan lebih efektif adalah hal yang sangat mendasar dan menjadi bagian dari solusinya," kata Vittorio Fattori, seorang petugas keamanan pangan di FAO.

Fattori menambahkan bahwa upaya pengurangan polusi plastik tidak boleh mengabaikan potensi munculnya ancaman baru di sektor lain. Penegasan ini merujuk pada standar keamanan kimia yang sangat spesifik untuk wadah makanan.

"Meskipun kita harus lebih baik dalam mengurangi polusi plastik dan meningkatkan daur ulang, kita perlu memastikan bahwa saat mencoba menyelesaikan satu masalah di satu bidang, kita tidak menciptakan masalah baru di bidang lainnya," paparnya.

FAO menyoroti bahwa plastik daur ulang sering kali mengandung konsentrasi logam, phthalates, dan polutan organik yang lebih tinggi dibandingkan plastik murni. Risiko ini muncul akibat proses pemilahan yang tidak sempurna atau kontaminasi dari penggunaan konsumen sebelumnya selama siklus hidup plastik tersebut.

Implementasi ekonomi sirkular pada kemasan pangan tetap menjadi prioritas utama bagi badan pangan dunia tersebut. Fattori menjelaskan bahwa manfaat lingkungan dari material alternatif harus dibarengi dengan kepastian aspek keamanan bagi konsumen.

"Temuan utama dari laporan ini adalah meskipun plastik daur ulang dan bahan alternatif untuk kemasan makanan dapat memberikan manfaat bagi lingkungan, bahan-bahan tersebut juga dapat menimbulkan beberapa pertanyaan penting mengenai keamanan pangan," ungkap Fattori.

Menurutnya, penerapan prinsip keberlanjutan tersebut tidak bisa dilakukan secara sembarangan. Diperlukan prosedur yang tepat agar material yang kembali ke pasar tetap layak digunakan untuk membungkus makanan.

"Menerapkan prinsip-prinsip ekonomi sirkular itu penting dan sangat mendasar. Namun, hal itu harus dilakukan dengan cara yang benar," terangnya.

Laporan tersebut juga mengkritisi klaim bahan "ramah lingkungan" yang belum tentu dapat terurai secara alami secara instan. Kemasan berbasis tanaman seperti jagung atau tebu justru berisiko membawa residu pestisida, logam berat, serta potensi alergen seperti gluten dalam material berbasis protein.

Selain itu, FAO menaruh perhatian besar pada polusi mikroplastik yang dihasilkan oleh fasilitas daur ulang mekanis selama proses penghancuran plastik. Fattori menegaskan bahwa sterilisasi dan pembersihan kimia adalah tahap non-negosiasi dalam rantai daur ulang.

"Semuanya harus dimulai dengan proses daur ulang yang terkendali dengan baik, termasuk pembersihan dan penghilangan zat kimia berbahaya," kata Fattori.

Saat ini, perbedaan regulasi antarnegara mengenai plastik daur ulang menjadi hambatan bagi perdagangan internasional dan perlindungan konsumen secara menyeluruh. FAO berupaya mendorong sinkronisasi aturan keamanan pangan berbasis sains di tingkat global.

"Peran kami adalah memberikan dukungan kepada negara-negara, pertama-tama dalam hal menyamakan aturan mengenai dampak keamanan pangan yang berkaitan dengan bahan kemasan," kata Fattori.

Artikel terkait

Rekomendasi