Tim Search And Rescue (SAR) Nasional mengerahkan personel untuk mengevakuasi belasan korban kecelakaan antara Kereta Api Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur yang terjadi pada Senin, 27 April 2026 malam. Insiden tersebut dilaporkan menyebabkan 16 orang meninggal dunia dan sejumlah penumpang lainnya mengalami luka-luka.
Proses penanganan darurat ini melibatkan unit siaga dari SAR Bekasi yang tiba di lokasi kejadian hanya dalam waktu sepuluh menit setelah laporan diterima pada pukul 21.24 WIB. Dilansir dari Kompas, tabrakan tersebut melibatkan lokomotif Argo Bromo Anggrek yang menghantam bagian belakang rangkaian KRL.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Jakarta, Desiana Kartika Bahari, menjelaskan bahwa timnya segera melakukan penilaian situasi begitu sampai di titik kecelakaan. Petugas menemukan beberapa korban dalam kondisi terjepit di antara material gerbong KRL Commuter Line yang rusak akibat benturan keras.
ÔÇ£Kami langsung merespon dari unit siaga SAR Bekasi, unit kami yang terdekat itu 10 menit sudah sampai,ÔÇØ jelas Desiana Kartika Bahari, Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Nasional Jakarta.
Operasi penyelamatan dilakukan dengan memprioritaskan kondisi fisik korban agar tidak mengalami cedera tambahan saat dipindahkan dari reruntuhan. Tim SAR fokus pada aspek ketelitian teknis selama proses pengangkatan tubuh para penumpang yang terdampak.
ÔÇ£Kemudian kami lakukan evakuasi sesegera mungkin dengan melihat juga kondisi dengan kehati-hatian dan kami juga memperhatikan ya, agar supaya tidak ada istilahnya untuk kami evakuasi dalam keadaan utuh gitu ya, tidak ada yang teramputasi,ÔÇØ jelas Desiana Kartika Bahari.
Kegiatan evakuasi berlangsung selama kurang lebih sembilan jam, dimulai sejak pukul 22.00 WIB hingga keesokan paginya pada Selasa, 28 April 2026. Seluruh korban, baik yang selamat maupun yang telah meninggal dunia, berhasil dikeluarkan dari area peron dan rel stasiun.
ÔÇ£Mulai jam 10 sampai dengan jam 7.30 sudah selesai semuanya baik yang hidup dan meninggal,ÔÇØ kata Desiana Kartika Bahari.
Sebelum memulai tindakan di lapangan, tim telah menyiapkan alat-alat khusus untuk menangani situasi tabrakan transportasi berat. Peralatan medis darurat juga disiagakan untuk memberikan pertolongan pertama kepada korban yang masih menunjukkan tanda-tanda vital.
ÔÇ£Ya, pastinya pada saat kami sudah ke lokasi itu membawa peralatan yang diduga itu kalau crash berarti kan ada yang terhimpit atau terjepit,ÔÇØ jelas Desiana Kartika Bahari.
Penggunaan alat ekstrikasi menjadi sangat krusial karena banyaknya material logam yang menjepit tubuh korban. Desiana menekankan bahwa keberhasilan proses ini sangat bergantung pada alat pendukung yang dibawa oleh personel ke lokasi bencana.
ÔÇ£Berarti, yang kami bawa adalah peralatan ekstrikasi dan juga beberapa alat medis untuk pertolongan pertama,ÔÇØ kata Desiana Kartika Bahari.
Petugas di lapangan memerlukan konsentrasi tinggi untuk memastikan alat pemotong atau pengungkit tidak melukai korban lebih lanjut. Penanganan pada ruang sempit di dalam gerbong menuntut keahlian spesifik dari para anggota tim SAR.
ÔÇ£Itu harus dengan teknik yang khususlah di sini yang kami lakukan, begitu,ÔÇØ tutup Desiana Kartika Bahari.