Eropa Alami Lonjakan Suhu Tercepat di Dunia Akibat Krisis Iklim

Eropa Alami Lonjakan Suhu Tercepat di Dunia Akibat Krisis Iklim
Foto: Ilustrasi Eropa Alami Lonjakan Suhu Tercepat di Dunia Akibat Krisis Iklim.

Eropa kini tercatat sebagai benua dengan kenaikan suhu paling cepat di seluruh dunia. Berdasarkan laporan tahunan lembaga cuaca Eropa (ECMWF) yang dikutip dari Lestari, fenomena gelombang panas dan kebakaran hutan pada tahun 2025 mencapai level yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Tahun lalu menjadi periode terpanas sepanjang sejarah bagi sejumlah negara, termasuk Inggris, Islandia, dan Norwegia. Secara keseluruhan, tahun tersebut menempati urutan tiga besar tahun paling panas di benua biru dengan 95 persen wilayah mengalami suhu di atas rata-rata.

Kawasan Skandinavia, Finlandia, dan Rusia bagian barat laut menghadapi gelombang panas terburuk yang bertahan selama 21 hari. Bahkan di wilayah kutub utara, suhu sempat menyentuh angka 30 derajat C yang berdampak buruk pada kesehatan ekosistem.

Panas yang ekstrem menjadi pemantik utama kebakaran hutan besar di Portugal dan Spanyol pada Agustus lalu. Kondisi cuaca yang sangat panas, kering, dan berangin di wilayah tersebut kini terjadi 40 kali lebih sering akibat dampak perubahan iklim.

Kebakaran ini melahap lebih dari 10.000 kilometer persegi lahan dan menyebabkan setidaknya tiga orang meninggal dunia. Api bahkan sempat mendekati kota Madrid hingga memaksa penutupan sebagian jalur pendakian populer Camino de Santiago.

Peristiwa ini melepaskan sekitar 47 juta ton karbon ke atmosfer, yang merupakan angka tertinggi dalam catatan sejarah. Negara-negara seperti Spanyol, Inggris, Belanda, Jerman, dan Siprus semuanya melaporkan rekor emisi gas buang akibat kebakaran lahan.

Kekeringan Lahan dan Kenaikan Suhu Laut

Kondisi tanah di Eropa saat ini mencapai titik terkering dalam 33 tahun terakhir. Lebih dari sepertiga wilayah benua, khususnya di Inggris, Turki, dan Ukraina, sedang berjuang menghadapi kekeringan lahan pertanian yang sangat parah.

Samantha Burgess dari ECMWF menjelaskan bahwa musim semi yang basah memicu pertumbuhan tanaman subur, namun musim panas yang memecahkan rekor langsung mengeringkan tanaman tersebut.

"Jika ada banyak tanaman kering ditambah cuaca panas dan angin kering, kebakaran hutan akan menyebar sangat cepat dan mengerikan," kata Burgess.

Suhu permukaan laut di sekitar Eropa juga memecahkan rekor selama empat tahun berturut-turut. Sekitar 86 persen wilayah laut mengalami gelombang panas laut parah, terutama di wilayah barat Irlandia, selatan Islandia, dan tenggara Spanyol.

Di Laut Mediterania, suhu air di Italia dan Spanyol mencapai 30 derajat C, lebih hangat dibandingkan kolam renang standar. Kondisi ini mengancam nyawa ikan serta memicu ledakan populasi bakteri dan ganggang yang merusak terumbu karang.

Langkah Mitigasi dan Adaptasi Risiko Iklim

Dušan Chrenek dari Komisi Eropa menekankan pentingnya peran Eropa dalam memimpin upaya memperlambat perubahan iklim. Pada tahun 2025, energi terbarukan sudah menyumbang 46 persen dari total kebutuhan listrik di benua tersebut.

Tenaga surya sendiri mencatatkan rekor dengan menghasilkan 12,5 persen listrik. Meski demikian, tantangan tetap besar setelah KTT Iklim COP30 di Brasil gagal mencapai kesepakatan mengenai penghentian penggunaan bahan bakar fosil secara total.

Para pejabat kini memperingatkan bahwa Eropa harus segera beradaptasi dengan risiko iklim jangka panjang, termasuk ancaman kekeringan raksasa yang bisa berlangsung selama bertahun-tahun.

"Kita harus menangani risiko ini. Biaya yang harus dibayar jika kita diam saja jauh lebih mahal daripada biaya untuk mengatasi dampak buruk tersebut sekarang," ujar Chrenek.

Celeste Saulo dari Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menambahkan bahwa krisis ini telah menyebabkan penurunan keragaman hayati secara drastis di wilayah yang biasanya hanya mengalami panas terik dalam durasi singkat.

"Wilayah ini biasanya hanya mengalami panas terik selama satu atau dua hari saja, tapi kali ini sampai 21 hari. Hal ini sangat merusak kesehatan ekosistem," tutur Saulo.

Artikel terkait

Rekomendasi