Eri Cahyadi Resmikan Kampung Pancasila Perkuat Gotong Royong Surabaya

Eri Cahyadi Resmikan Kampung Pancasila Perkuat Gotong Royong Surabaya
Foto: Ilustrasi Eri Cahyadi Resmikan Kampung Pancasila Perkuat Gotong Royong Surabaya.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi meresmikan program Kampung Pancasila di RW 2 Krembangan Bhakti, Kelurahan Kemayoran, Kamis (16/4/2026), guna memperkuat nilai gotong royong di tingkat akar rumput. Dilansir dari Nasional, inisiatif ini melibatkan sinergi antara pemuda dan 12.000 Aparatur Sipil Negara (ASN) untuk mendampingi 1.361 Rukun Warga (RW) di seluruh wilayah Kota Pahlawan.

Program tersebut dirancang sebagai strategi konkret untuk menghidupkan kembali solidaritas sosial yang menjadi fondasi pembangunan kota sejak dekade 1960-an. Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menempatkan ribuan ASN sebagai pendamping agar implementasi nilai-nilai Pancasila dapat menyentuh langsung aspek lingkungan, sosial budaya, kemasyarakatan, hingga ekonomi warga.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menegaskan bahwa kerukunan dan toleransi yang telah lama terbangun di tengah masyarakat merupakan aset utama yang harus terus dipertahankan melalui gerakan kolektif ini.

"Surabaya punya toleransi yang tinggi sejak 1960-an. Ini yang harus kami pegang dan lanjutkan. Kampung Pancasila ini tidak boleh berhenti dan Surabaya harus tegak berdiri dengan gotong-royong," ujar Wali Kota Eri Cahyadi.

Ia menambahkan bahwa peran aktif generasi muda menjadi syarat mutlak bagi tercapainya kesejahteraan daerah karena pemerintah tidak dapat bekerja sendirian tanpa pergerakan dari elemen masyarakat bawah.

"Kalau njenengan bilang Surabaya harus sejahtera tanpa pergerakan anak muda, itu tidak mungkin. Pemerintah daerah tidak bisa menyelesaikan permasalahan itu sendiri," katanya.

Eri Cahyadi memberikan ilustrasi mengenai konsep kemakmuran suatu wilayah yang bisa dicapai melalui optimalisasi dana sosial seperti zakat dan infaq untuk membantu tetangga di lingkungan terdekat.

"Kenapa pada zaman Sayyidina Utsman negerinya makmur? Karena rakyatnya yang mampu dan memiliki kewajiban membayar zakat dan infaq, dijadikan satu. Dana yang terkumpul diberikan kepada masyarakat yang membutuhkan di kampung itu," tuturnya.

Pada aspek lingkungan, Wali Kota mengajak warga memilah sampah plastik dari rumah tangga agar nilai ekonomisnya dapat dikelola secara mandiri oleh kas RW untuk kepentingan sosial.

"Bayangkan kalau botol plastik sudah dipisah di masing-masing RW, kemudian botolnya dijual. Barang yang sudah terkumpul bisa menghasilkan uang lalu masuk ke kas RW dan dibuat pergerakan sosial. Itu luar biasa," ujar Wali Kota Eri Cahyadi.

Dalam kesempatan tersebut, ia juga menyoroti pentingnya menyalurkan sedekah secara tepat sasaran kepada warga di sekitar tempat tinggal yang masih membutuhkan bantuan pendidikan atau ekonomi.

"Kadang-kadang kita tidak mau mengeluarkan sedekah ke RW, tapi lewat lembaga lain. Akhirnya lembaga lain tidak mengeluarkan infaq yang kita bantukan ke RW kita, tetapi ke tempat lain. Padahal, di lingkungan RW masih ada yang tidak bisa sekolah, ada yang masih miskin," paparnya.

Penyelesaian masalah fasilitas umum atau persoalan anak putus sekolah diharapkan bisa tuntas di level RW melalui laporan aktif dari pengurus RT, RW, maupun Kader Surabaya Hebat (KSH) kepada pemerintah.

"Kalau ada masalah fasilitas umum atau anak tidak bisa sekolah, itu harusnya selesai di RW dengan pemkotnya turun. Tapi apakah pemkotnya (sendiri) bisa? Tentu tidak bisa kalau tidak ada laporan, tidak ada pergerakan dari RW. Karena itu, saya berharap setiap RW akan didampingi ASN," kata Wali Kota Eri Cahyadi.

Eri Cahyadi meyakini bahwa kesejahteraan Surabaya merupakan hasil kerja bersama seluruh elemen, mulai dari tokoh masyarakat hingga organisasi mahasiswa, bukan sekadar hasil kerja pemimpinnya.

"Insyaallah kami akan bergerak bersama dan bergandengan tangan untuk menjadikan Surabaya sejahtera. Bukan karena wali kotanya, tapi karena RT/RW, PKK, KSH, dan tokoh masyarakat yang ada di Surabaya," tuturnya.

Kepala Satuan Tugas (Kasatgas) Kampung Pancasila Kota Surabaya Irvan Widyanto menjelaskan bahwa program ini menitikberatkan pada pemberdayaan unsur masyarakat di level RW melalui kolaborasi tanpa memandang latar belakang suku dan agama.

"Program Kampung Pancasila diharapkan dapat memberdayakan seluruh unsur masyarakat di level RW untuk bersama-sama berkolaborasi," kata Irvan Widyanto.

Irvan menyebutkan bahwa lahirnya gagasan ini terinspirasi dari respons spontan masyarakat saat menghadapi pandemi Covid-19, di mana warga saling membantu tanpa menunggu perintah dari pihak berwenang.

"Itu terjadi di semua kampung tanpa diperintah. Jadi, spontanitas gotong royong (warga) dilakukan untuk mengatasi masalah di kampung itu sendiri," tuturnya.

Sebanyak 12.000 ASN Pemkot Surabaya telah resmi ditugaskan untuk terjun langsung memastikan efektivitas program ini di tengah masyarakat.

"Kurang lebih sekitar 12.000 ASN di Pemkot Surabaya ditujukan secara langsung untuk menjadi ASN pendamping. Mereka akan mendampingi 1.361 RW untuk bergotong royong bersama masyarakat,ÔÇØ kata Irvan Widyanto.

Kehadiran ASN pendamping ini menyasar penuntasan berbagai isu krusial seperti pencegahan tengkes (stunting), gizi buruk, hingga akses pendidikan yang merata bagi seluruh anak di wilayah pendampingan masing-masing.

"Semua elemen diharapkan terlibat tanpa memandang suku, tanpa memandang agama apapun," tuturnya.

Artikel terkait

Rekomendasi