Sebanyak empat warga negara Indonesia (WNI) hingga kini masih berada dalam cengkeraman perompak setelah insiden pembajakan kapal tanker di perairan Somalia sepekan lalu. Pemerintah Indonesia dilaporkan terus memperkuat koordinasi lintas sektor guna menjamin keselamatan para sandera tersebut.
Salah satu korban yang teridentifikasi adalah Kapten Ashari Samadikun (33), pelaut asal Sulawesi Selatan sekaligus alumnus Politeknik Ilmu Pelayaran (PIP) Makassar. Dikutip dari Nasional, Ashari sedang menakhodai kapal tanker Honour 25 milik Uni Emirat Arab saat aksi pembajakan terjadi pada 21 April 2026.
Data manifes yang dihimpun dari Eleora Kamaya Lekon (38), rekan sejawat korban, menunjukkan bahwa kapal yang bertolak dari Oman tersebut mengangkut total 17 kru. Selain empat WNI, terdapat 10 warga Pakistan, serta masing-masing satu warga dari Myanmar, Sri Lanka, dan India.
Identitas empat WNI yang berada di kapal tersebut meliputi Ashari Samadikun sebagai kapten, Wahudinanto selaku chief officer, Adi Faizal sebagai third officer, dan Fiki Mutakin. Proses penanganan kini terfokus pada komunikasi intensif dengan otoritas di wilayah konflik.
Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI menegaskan komitmennya dalam menangani pembajakan MT Honour 25 yang terjadi di sekitar wilayah Hafun, Somalia. Upaya pelindungan WNI dilakukan secara terukur melalui perwakilan diplomatik di Afrika.
Direktur Pelindungan WNI Kemlu RI, Heni Hamidah, menyatakan bahwa pihak KBRI Nairobi telah menjalin komunikasi berkelanjutan dengan pemangku kepentingan di Somalia sejak Rabu (22/4/2026).
ÔÇ£KBRI Nairobi terus melakukan koordinasi intensif dengan seluruh pihak terkait di Somalia,ÔÇØ kata Heni, dilansir ANTARA Jakarta, Senin (27/4/2026).
Strategi penyelamatan melibatkan kerja sama dengan tokoh masyarakat setempat dan otoritas otoritas terkait untuk memastikan kondisi fisik para ABK tetap terjaga. Kemlu juga memantau setiap perkembangan situasi di lapangan secara saksama agar langkah yang diambil tetap optimal.
Tantangan Jaringan Perompak Internasional
Analisis mengenai kompleksitas kasus ini dikemukakan oleh Pakar Politik Timur Tengah Universitas Indonesia, Yon Machmudi. Menurutnya, aksi penyanderaan ini melibatkan kelompok yang memiliki kaitan dengan sindikat profesional di level global.
"Bukan hanya menyangkut ya perompak dari Somalia, nampaknya kan juga jejaring internasional yang sudah profesional," kata Yon kepada Kompas.com, Selasa (28/4/2026).
Status kapal sebagai tanker pengangkut minyak memberikan nilai ekonomi tinggi bagi para pembajak, terutama di tengah eskalasi konflik kawasan yang melibatkan kekuatan besar seperti Amerika Serikat, Iran, dan Israel. Hal ini menambah kerumitan dalam proses pembebasan sandera.
Yon menambahkan bahwa jalur negosiasi melalui pemilik kapal merupakan opsi paling rasional saat ini, meskipun memerlukan strategi komunikasi yang sangat hati-hati agar tuntutan tebusan tidak meningkat secara tidak terkendali.
"Ya satu-satunya jalan ya membangun apa komunikasi melalui pemilik kapal untuk bisa melakukan negosiasi agar warga negara Indonesia dibebaskan," kata dia.
Pihak Kemlu diharapkan dapat memimpin proses komunikasi ini secara efektif demi kepulangan para pelaut Indonesia dengan selamat.