Empat Saham Big Cap Valuasi Murah Jadi Incaran Investor

Empat Saham Big Cap Valuasi Murah Jadi Incaran Investor
Foto: Ilustrasi Empat Saham Big Cap Valuasi Murah Jadi Incaran Investor.

Sejumlah saham berkapitalisasi pasar besar atau big cap kini berada dalam posisi valuasi yang relatif murah meskipun memiliki tingkat pengembalian ekuitas (ROE) yang solid. Kondisi ini menjadi perhatian pelaku pasar dalam mengatur strategi portofolio investasi mereka.

Berdasarkan data Stockbit Sekuritas yang diakses pada Jumat (15/5/2026), terdapat empat emiten utama yang menunjukkan rasio Price to Earnings (PE) menarik. Dilansir dari Investor Daily, emiten tersebut mencakup sektor perbankan hingga pertambangan.

PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mencatatkan rasio PE (trailing twelve months/TTM) sebesar 6,7 kali. Sementara itu, PT Astra International Tbk (ASII) berada di angka 7,3 kali, diikuti PT United Tractors Tbk (UNTR) dengan rasio 8,1 kali, dan PT Antam Tbk (ANTM) sebesar 9,9 kali.

Data perdagangan pada Rabu (13/5/2026) menunjukkan adanya koreksi pada harga saham-saham tersebut. Saham BMRI mengalami penurunan 0,9% ke level Rp 4.200, sedangkan ASII melemah 1,7% menuju posisi Rp 5.750 per lembar saham.

Sektor alat berat dan pertambangan juga tertekan, di mana UNTR terkikis 1% menjadi Rp 26.900. Emiten emas ANTM juga mencatatkan penurunan sebesar 1,9% yang membawa harganya ke level Rp 3.500 pada penutupan perdagangan tersebut.

Dampak MSCI Rebalancing Mei 2026

Kiwoom Sekuritas Indonesia memproyeksikan bahwa hasil rebalancing indeks MSCI pada Mei 2026 akan memicu rotasi likuiditas pemodal asing. Fokus investor diperkirakan beralih ke saham dengan tata kelola (governance) dan free float yang lebih sehat.

"Keluarnya beberapa saham besar justru meningkatkan bobot relatif saham blue chip dan bank-bank jumbo Indonesia di indeks, yang berpotensi mengarahkan rotasi likuiditas asing ke saham dengan free float dan governance yang lebih sehat, seperti BBCA, BMRI, BBNI, dan TLKM," tulis tim riset Kiwoom Sekuritas Indonesia.

Di sisi lain, tekanan besar akibat rebalancing ini diperkirakan berpusat pada PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN). DSSA diprediksi menghadapi arus keluar pasif (passive outflow) sekitar Rp 9 triliun, sementara BREN berpotensi terkena arus keluar sebesar Rp 6 triliun.

"Artinya, lebih dari separuh tekanan MSCI sebenarnya hanya bertumpu pada dua saham tersebut," tulis tim riset Kiwoom Sekuritas.

Beberapa emiten lain seperti PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) tetap merasakan dampak rebalancing. Namun, skalanya dinilai lebih terbatas karena kapitalisasi pasar saham-saham tersebut telah terkoreksi sejak awal tahun.

"Karena itu, estimasi foreign outflow kini mulai terlihat lebih realistis dibandingkan panic scenario awal yang sempat mengarah ke Rp 50 triliun lebih," pungkas Kiwoom Sekuritas.

Artikel terkait

Rekomendasi