Lonjakan kadar gas metana di atmosfer mencapai titik tertinggi dalam beberapa tahun terakhir dan diprediksi akan mengalami kenaikan sebesar 13 persen pada 2030. Fenomena ini memicu kekhawatiran global mengenai dampaknya terhadap percepatan perubahan iklim dunia.
Penyebab kenaikan tersebut tengah dianalisis oleh para ilmuwan menggunakan metode pelacakan molekul khusus yang dikenal sebagai isotopolog metana. Sebagaimana dilansir dari Lestari pada Rabu (13/5/2026), hasil studi mendalam mengenai emisi ini telah diterbitkan dalam jurnal Nature Communications.
"Isotopolog metana bekerja seperti sidik jari alami. Hal ini memungkinkan kita untuk membedakan berbagai sumber metana dan lebih memahami bagaimana emisi tersebut berkembang," kata Xueying Yu, pengajar penelitian di Pusat Penelitian Ilmu Atmosfer Universitas Albany sekaligus penulis utama studi.
Dalam melakukan riset ini, Yu berkolaborasi dengan tim peneliti internasional untuk menyempurnakan estimasi emisi metana periode 2019 hingga 2021. Mereka mengintegrasikan pengamatan satelit dengan data pengukuran langsung dari permukaan tanah guna mendapatkan hasil yang lebih presisi.
Data tersebut menunjukkan bahwa volume emisi global sebenarnya melampaui hasil perkiraan dari model pengamatan standar. Berdasarkan wilayah, emisi tercatat lebih tinggi di Asia Timur terutama Cina, Asia Selatan khususnya India, serta kawasan Afrika Tengah.
"Metana adalah gas rumah kaca berbahaya yang berasal dari alam maupun kegiatan manusia," kata Yu.
Temuan ini mengonfirmasi adanya peran dominan manusia dalam peningkatan gas rumah kaca tersebut dibandingkan faktor alami. Sebaliknya, wilayah Hutan Amazon menunjukkan tingkat emisi yang justru lebih rendah daripada estimasi ilmuwan sebelumnya.
"Temuan kami menunjukkan bahwa kegiatan manusia punya peran lebih besar dalam kenaikan gas metana akhir-akhir ini daripada yang kita kira sebelumnya khususnya dari bahan bakar fosil di wilayah seperti Cina dan India. Sementara emisi alami dari lahan basah di Amazon ternyata lebih rendah dari yang diperkirakan," terangnya lagi.
Terobosan lain dalam studi ini adalah penggunaan simulasi isotop dalam sistem atmosfer tiga dimensi (3D) yang komprehensif. Metode ini menggantikan model kotak sederhana yang selama ini dianggap kurang akurat dalam menggambarkan perpindahan dan percampuran gas di udara.
"Metode ini memungkinkan kami untuk menggabungkan data metana dari satelit dan pengukuran langsung dari darat secara konsisten, baik dari segi lokasi maupun waktu," kata Yu.
Implementasi sistem baru ini memberikan keunggulan dalam memetakan asal-usul gas metana secara lebih mendetail. Hal ini krusial bagi penyusunan kebijakan mitigasi perubahan iklim di masa depan.
"Cara ini memberikan gambaran yang lebih nyata dan lebih akurat mengenai asal-usul serta proses gas metana dibandingkan dengan metode-metode sebelumnya," tambahnya.