Lembaga kemanusiaan DT Peduli secara aktif terlibat dalam misi internasional Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 untuk menyalurkan bantuan ke wilayah Gaza yang saat ini masih terblokade. Seperti diberitakan oleh Suara, gerakan sipil ini berupaya menembus batasan geografis guna mengirimkan kebutuhan pokok bagi warga Palestina.
Keterlibatan ini merupakan bentuk keberpihakan nyata di tengah krisis kemanusiaan yang berkepanjangan. Bantuan yang dikirimkan mencakup kebutuhan medis, bahan pangan, hingga perlengkapan darurat yang sangat dibutuhkan oleh penduduk di sana.
Executive Director DT Peduli, Jajang Nurjaman, menjelaskan bahwa misi kolektif lintas negara ini dilakukan melalui dua jalur utama. Strategi pengiriman melalui laut dan darat dipilih untuk memastikan bantuan tetap sampai meskipun akses distribusi sering kali dibatasi.
"Kondisi Palestina saat ini masih berada dalam situasi blokade yang panjang. Melalui gerakan global seperti ini, kami ingin mengambil bagian, baik lewat jalur laut maupun darat," ujar Jajang Nurjaman.
Dalam menjalankan amanah ini, DT Peduli menerjunkan tim relawan yang memiliki berbagai kompetensi khusus. Tim tersebut terdiri dari tenaga medis, tim dokumentasi media, hingga koordinator lapangan yang bertugas mengawal distribusi bantuan secara langsung.
Ketua Yayasan DT Peduli, Bascharul Asana, memberikan penekanan khusus mengenai tanggung jawab besar yang diemban oleh para personel di lapangan. Ia mengingatkan pentingnya menjaga integritas selama menjalankan misi kemanusiaan tersebut.
"Ini bukan sekadar perjalanan, tetapi amanah. Para relawan harus menjaga niat dan membawa nama baik Indonesia dalam setiap peran," kata Bascharul Asana.
Misi GSF 2.0 juga memiliki tujuan strategis untuk menjaga agar isu kemanusiaan di Palestina tetap menjadi perhatian masyarakat dunia. Hal ini dianggap penting agar suara warga Gaza tidak tenggelam di tengah derasnya arus informasi global.
Director of Impact and Civilization DT Peduli, Fahrizal Amir, berpendapat bahwa kontribusi dalam bentuk apa pun memiliki nilai yang signifikan bagi perjuangan ini. Ia menyoroti pentingnya kekuatan kolektif dalam membantu sesama.
"Sekecil apa pun ikhtiar yang dilakukan, baik berbagi informasi, berdonasi, atau terlibat langsung, itu bagian dari kekuatan kolektif," tutur Fahrizal Amir.
Kehadiran relawan di lapangan juga menjadi simbol harapan bagi warga yang terdampak krisis. Salah satu relawan, Muhammad Ihsan, menceritakan esensi dari perjalanan jauh yang mereka tempuh menuju wilayah konflik tersebut.
"Ini bukan hanya tentang mengirimkan bantuan, tapi memastikan bahwa harapan itu benar-benar sampai," ucap Muhammad Ihsan.