DPR Desak Polisi Tangkap Seluruh Pelaku Pengeroyokan Pelajar di Bantul

DPR Desak Polisi Tangkap Seluruh Pelaku Pengeroyokan Pelajar di Bantul
Foto: Ilustrasi DPR Desak Polisi Tangkap Seluruh Pelaku Pengeroyokan Pelajar di Bantul.

Anggota Komisi III DPR RI Sarifuddin Sudding mendesak aparat kepolisian segera menangkap lima pelaku lain yang masih buron dalam kasus pengeroyokan pelajar berinisial IDS (16) di Bantul, DIY. Korban meninggal dunia pada Minggu (19/4/2026) setelah mendapatkan perawatan intensif akibat penganiayaan berat oleh sekelompok remaja.

Peristiwa pengeroyokan yang terjadi pada pekan lalu tersebut memicu keprihatinan mendalam karena melibatkan tindakan kekerasan kolektif yang fatal. Dilansir dari Nasional, saat ini pihak kepolisian masih melakukan pengejaran terhadap sisa pelaku yang terlibat dalam aksi pengeroyokan tersebut.

Sarifuddin Sudding menegaskan pentingnya penegakan hukum yang tegas terhadap seluruh individu yang terlibat guna memberikan efek jera. Ia menyoroti pola kekerasan di kalangan anak muda yang kini dinilai sudah tidak spontan lagi.

"Tentunya peristiwa ini menjadi sebuah keprihatinan bersama. Kita harap Aparat Penegak Hukum (APH) menangkap seluruh pelaku dan memproses secara tegas sesuai ketentuan yang berlaku," kata Sarifuddin Sudding, Anggota Komisi III DPR RI.

Politikus tersebut mendorong kepolisian untuk melakukan pemetaan terhadap kelompok-kelompok berisiko guna memutus rantai kekerasan berulang. Sudding menilai ada urgensi untuk mendalami konstruksi peristiwa secara menyeluruh, termasuk kemungkinan adanya perencanaan.

"Melihat kekerasan fatal terhadap pelajar di Bantul, ini harus menjadi perhatian semua pihak bahwa ada tuntutan penanganan hukum yang mampu memutus pola kekerasan berulang di kalangan remaja," tutur Sarifuddin Sudding, Anggota Komisi III DPR RI.

Ia menambahkan bahwa kasus ini mencerminkan keberanian kolektif remaja dalam melakukan kekerasan tanpa memikirkan konsekuensi hukum. Oleh karena itu, Sudding menekankan pentingnya membaca keterlibatan kelompok dalam konflik serupa di masa lalu.

"Dan yang perlu menjadi perhatian dalam kasus seperti ini bukan hanya percepatan penangkapan seluruh pelaku, tetapi bagaimana proses hukum mampu membaca keseluruhan konstruksi peristiwa," imbuh Sarifuddin Sudding, Anggota Komisi III DPR RI.

Legislator asal PDIP ini juga memperingatkan bahwa ancaman hukum yang ada saat ini belum cukup efektif menjadi faktor pengendali perilaku remaja. Hal ini terlihat dari seringnya kasus serupa terjadi kembali di ruang sosial.

"Berulangnya kasus kekerasan fatal di kalangan pelajar memperlihatkan adanya ruang sosial di mana ancaman hukum belum cukup hadir sebagai faktor pengendali perilaku," ucap Sarifuddin Sudding, Anggota Komisi III DPR RI.

Selain itu, Sudding meminta aparat penegak hukum melakukan evaluasi mendalam terhadap pola pencegahan konflik remaja. Ia menduga para pelaku merasa terlindungi secara psikologis saat bertindak di dalam kelompok.

"Situasi ini menuntut aparat penegak hukum tidak hanya bergerak cepat setelah kejadian, tetapi juga membangun pola pencegahan berbasis pemetaan kelompok berisiko di daerah daerah yang menunjukkan kecenderungan konflik remaja berulang," imbuh Sarifuddin Sudding, Anggota Komisi III DPR RI.

Berdasarkan keterangan Sugeng Riyanto selaku ayah korban, IDS awalnya dijemput oleh dua orang menggunakan sepeda motor pada Selasa (14/4/2026) sekitar pukul 22.00 WIB. Korban kemudian dibawa ke area di belakang sebuah SMAN di Bambanglipuro sebelum akhirnya dipindahkan ke Lapangan Gadung Melati.

"Ada dua orang pakai Nmax kalau nggak salah boncengan jemput anak saya sekitar jam 10 malam," kata Sugeng Riyanto, Orang tua IDS.

Saksi rekan korban sempat membuntuti rombongan tersebut dan melihat IDS sudah dikerubuti sekitar 10 orang di lapangan. Para pelaku menyerang korban menggunakan selang, paralon, hingga gunting, bahkan korban sempat dilindas dengan sepeda motor hingga pingsan.

"Terakhir itu keadaan sudah pingsan masih mau dipotong telinganya. Kebetulan ada temannya Ilham yang buntuti tadi terus guntingnya disaut (diambil)," kata Sugeng Riyanto, Orang tua IDS.

Korban sempat dilarikan ke RSUD Saras Adyatma dan menjalani perawatan di ruang ICU selama beberapa hari sebelum dinyatakan wafat. Sugeng Riyanto telah melaporkan kejadian tragis tersebut ke Polsek Pandak pada Rabu (15/4/2026).

"Akhirnya meninggal dunia hari Minggu (19/4/2026) sekitar jam 10 malam," ucap Sugeng Riyanto, Orang tua IDS.

Artikel terkait

Rekomendasi