Anggota Komisi V DPR Saadiah Uluputty mendesak pemerintah untuk segera melakukan audit menyeluruh terhadap kondisi jalan lintas nasional yang mengalami kerusakan parah. Desakan ini muncul setelah kecelakaan maut bus Antar Lintas Sumatera (ALS) di Kabupaten Musi Rawas Utara, Sumatera Selatan, pada Rabu (6/5/2026) siang, merenggut 16 korban jiwa.
Permintaan audit tersebut didasari hasil penyelidikan awal yang menunjukkan pengemudi bus kehilangan kendali saat berupaya menghindari lubang di jalan. Akibat manuver tersebut, bus masuk ke jalur berlawanan dan menghantam truk tangki bahan bakar minyak (BBM) hingga memicu ledakan api yang menghanguskan kedua kendaraan.
"Jangan sampai setiap tragedi berakhir tanpa evaluasi sistemik. Kalau memang ada kelalaian dalam pemeliharaan jalan nasional, maka harus ada akuntabilitas yang jelas," ujar Saadiah dalam keterangannya, dikutip Jumat (8/5/2026).
Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tersebut menilai pemerintah memiliki tanggung jawab besar dalam memastikan kelaikan infrastruktur guna mencegah terjadinya insiden serupa di masa depan. Ia menyoroti pentingnya pengawasan keselamatan jalan yang tidak hanya bertumpu pada faktor kesalahan manusia semata.
"Tragedi ini menunjukkan bahwa keselamatan jalan tidak bisa hanya dilihat dari kesalahan pengemudi. Negara juga harus bertanggung jawab terhadap kondisi infrastruktur jalan dan sistem keselamatan transportasi yang ada,ÔÇØ ujar Saadiah.
Kualitas jalan di wilayah Sumatera Selatan menjadi sorotan tajam dalam evaluasi ini. Merujuk pada data Direktorat Jenderal (Ditjen) Bina Marga, tercatat hanya sekitar 33,45 persen jalan nasional di provinsi tersebut yang saat ini berada dalam kondisi mantap atau benar-benar baik.
Berdasarkan laporan yang dilansir dari Nasional, peristiwa tragis ini bermula ketika bus ALS berbenturan keras dengan truk tangki milik PT Serelaya di Jalan Lintas Sumatera, Kecamatan Karang Jaya. Benturan tersebut seketika memicu kebakaran hebat yang mengakibatkan seluruh penumpang dan awak di dalamnya terjebak dalam kobaran api.
Guna mengatasi persoalan ini secara permanen, diperlukan penguatan anggaran preservasi jalan agar proses perbaikan dapat dilakukan secara rutin tanpa menunggu adanya kecelakaan. Selain itu, pemasangan rambu peringatan pada titik jalan rusak dan perbaikan marka jalan secara berkala dianggap sebagai langkah krusial.
ÔÇ£Kita tidak boleh menunggu korban berikutnya baru bergerak. Keselamatan jalan harus menjadi prioritas utama negara," tegas Saadiah.