Anggota DPD RI asal Papua Lamek Dowansiba meminta TNI dan kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM) segera menahan diri menyusul insiden penembakan warga sipil di Distrik Sinak, Kabupaten Puncak, Papua Tengah, pada Sabtu (18/4/2026). Permintaan tersebut bertujuan agar fokus penanganan dapat diarahkan sepenuhnya kepada para korban di lokasi kejadian.
Kondisi di lapangan dilaporkan masih belum stabil sehingga menghambat proses pemulihan situasi pasca kekerasan. Dilansir dari Nasional, penembakan ini menambah daftar panjang konflik bersenjata di wilayah tersebut yang berdampak langsung pada masyarakat lokal.
"Untuk sementara kita berharap masing-masing harus menahan diri sehingga korban ini diurus dulu. Itu tentu menjadi harapan kita semua. Karena sampai dengan sejauh ini situasinya belum kondusif," ujar Lamek Dowansiba, Anggota DPD RI.
Senator asal Papua ini menekankan bahwa aspek kemanusiaan harus didahulukan dibandingkan kepentingan kelompok yang bertikai. Lamek merasa prihatin karena konflik tersebut kembali memakan korban jiwa dari kalangan yang tidak terlibat dalam peperangan.
"Masing-masing bisa menahan diri sehingga warga-warga ini diurus dengan baik dulu. Di situ ada salah satu anak kecil yang memang juga menjadi korban daripada peristiwa ini," ucap Lamek Dowansiba.
Lamek merujuk pada regulasi global yang mengatur perlindungan warga dalam zona konflik untuk meminimalisir jatuhnya korban jiwa lebih lanjut. Dia mengingatkan bahwa ada standar moral dan hukum yang harus ditaati oleh kedua pihak yang bersenjata.
"Sesuai dengan Konvensi Jenewa Pasal 3 tahun 1949, itu ada beberapa poin tertentu yang mengatur tentang konflik internal yang terjadi dalam negeri. Hari ini kita lihat antara OPM dengan TNI, saya pikir ini harus kemudian juga diperhatikan oleh semua pihak, terutama kelompok OPM dan TNI," tutur Lamek Dowansiba.
Pemerintah pusat diharapkan mengevaluasi kembali strategi pengamanan di Bumi Cenderawasih agar tidak melulu mengandalkan kekuatan senjata. Lamek menyarankan perlunya pengurangan jumlah personel lapangan untuk mendinginkan tensi yang ada.
"Nah kita berharap mungkin pengiriman pasukan ke Papua mestinya harus juga dikurangi. Pendekatan humanis yang dibutuhkan di sana, bukan pendekatan militer," pungkas Lamek Dowansiba.
Informasi penembakan ini pertama kali diterima pihak berwenang pada Rabu (15/4/2026) pagi dari laporan Kepala Suku Kampung Tirineri, Dianus Enumbi. Serangan tersebut menyebabkan seorang perempuan dan dua anak-anak mengalami luka-luka akibat tembakan.
Kapendam XVII/Cenderawasih Kolonel Inf Tri Purwanto menjelaskan bahwa personel Satgas TNI bersama Kodim 1714/Puncak Jaya dan PMI telah mengevakuasi seluruh korban ke RSUD Mulia. Korban saat ini sudah mendapatkan tindakan medis intensif dari tim dokter.
ÔÇ£Dari laporan itu, personel Satgas TNI bersama Kodim 1714/Puncak Jaya dan Palang Merah Indonesia Kabupaten Puncak Jaya langsung menuju lokasi untuk mengevakuasi korban ke RSUD Mulia,ÔÇØ kata Tri Purwanto, Kapendam XVII/Cenderawasih.
Pihak militer mengonfirmasi bahwa para korban berhasil diselamatkan dalam keadaan sadar meski mengalami trauma dan luka fisik. Koordinasi dengan pemerintah daerah terus dilakukan untuk menjamin keamanan para penyintas selama masa pemulihan.
ÔÇ£Untuk ketiga korban sudah sampai di RSUD Mulia dan dalam penanganan medis. Kondisinya sadar,ÔÇØ ujar Tri Purwanto.
TNI menegaskan bahwa tindakan menjadikan masyarakat sebagai target operasi merupakan pelanggaran berat dan tindakan yang tidak bisa dibenarkan. Hal ini memicu kecaman luas karena menargetkan kelompok rentan seperti perempuan dan anak-anak.
ÔÇ£Warga sipil seharusnya dilindungi, bukannya dijadikan sasaran kekerasan,ÔÇØ kata Tri Purwanto.
Saat ini, aparat keamanan menginstruksikan masyarakat di Distrik Sinak untuk meningkatkan kewaspadaan guna menghindari kejadian serupa di masa mendatang.