Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan perpanjangan masa gencatan senjata dengan Iran pada Rabu (22/4/2026) guna memberikan ruang bagi Teheran dalam mengajukan proposal penghentian konflik. Keputusan ini diambil setelah adanya permohonan dari pihak mediator, yakni Pakistan, pada Selasa (21/6/2026).
Langkah diplomatik ini diambil tepat saat kesepakatan gencatan senjata sebelumnya dijadwalkan berakhir pada Rabu (22/4/2026). Dilansir dari Kompas, penundaan serangan militer tersebut bertujuan untuk menuntaskan diskusi terkait proposal perdamaian yang diharapkan segera diserahkan oleh pihak Iran.
"Saya telah mengarahkan militer kita untuk melanjutkan blokade, dan dalam semua hal lainnya, tetap siap dan mampu, dan oleh karena itu akan memperpanjang gencatan senjata sampai proposal mereka diajukan, dan diskusi diselesaikan, dengan satu atau lain cara," kata Trump dalam sebuah unggahan di media sosial, Rabu (22/4/2026).
Pakar hubungan internasional dari President University, Teuku Rezasyah, menilai pengumuman tersebut merupakan strategi Trump untuk memantau reaksi dari berbagai pihak. Menurutnya, Trump sedang melakukan kalkulasi kekuatan baik di internal Amerika Serikat maupun di kancah global terkait eskalasi perang ini.
"Kalau saya monitor bagaimana headline media massa di Amerika dan di Eropa, itu kelihatannya bahwa Trump ini memang benar-benar mengendalikan perang ini, pada saat yang sama, dia itu sedang menguji kesiapan dalam negeri dan di luar negeri," kata Teuku dalam program Sapa Indonesia Pagi KompasTV, Rabu (22/4/2026).
Teuku berpendapat bahwa sang presiden menyadari adanya ketidaksiapan militer untuk melanjutkan konfrontasi fisik secara langsung. Ia juga menyoroti adanya manuver politik yang melibatkan Pakistan dalam upaya memecah konsentrasi pihak lawan.
"Kemudian juga Trump ini pada saat ini sedang mengadu domba Iran dengan negosiatornya yakni Pakistan," ucap Teuku.
Selain faktor strategi luar negeri, ketidakstabilan di dalam tim perunding Amerika Serikat turut menjadi perhatian Rezasyah. Ia mencatat adanya perubahan rencana pengiriman delegasi tingkat tinggi yang mencerminkan keraguan di lingkaran dalam pemerintahan Trump.
"Ini menunjukkan, (Wakil Presiden AS) JD Vance itu akan dikirimkan, kemudian dikatakan tidak jadi dikirimkan, ini kan menunjukkan bahwa Donald Trump ini, tim negosiator AS ini sedang goyah," ucap Teuku.
Ia menambahkan adanya keraguan terhadap loyalitas sejumlah anggota tim, termasuk Steve Witkoff dan Jared Kushner, karena interaksi intens mereka dengan pihak asing selama proses perundingan berlangsung. Hal ini memicu dugaan akan adanya perombakan tim untuk fase negosiasi berikutnya.
"Jadi kita masih menduga-duga, karena saya belum melihat daftar kontingen dari Donald Trump ini," tambah Teuku.