Banyak perokok aktif yang sebenarnya memiliki keinginan kuat untuk berhenti, namun sering kali gagal di tengah jalan. Data menunjukkan bahwa tingkat keberhasilan untuk lepas dari jeratan rokok di Indonesia tergolong masih sangat rendah.
Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI), saat ini terdapat sekitar 70 juta perokok aktif di tanah air. Mirisnya, sebanyak 7,4 persen dari angka tersebut merupakan kelompok anak-anak dan remaja berusia 10 hingga 18 tahun.
Rata-rata konsumsi rokok penduduk Indonesia mencapai 12 batang per hari, ditambah lagi dengan tren penggunaan rokok elektronik yang terus meningkat. Hal ini menjadi perhatian serius bagi praktisi kesehatan dalam upaya menekan angka ketergantungan tembakau.
Prof. Dr. dr. Agus Dwi Susanto, selaku Direktur Utama RSUP Persahabatan, mengungkapkan bahwa tantangan utama perokok adalah melawan adiksi nikotin. Ia menyebutkan bahwa fenomena kegagalan ini sangat nyata terjadi di masyarakat.
Fakta mengejutkan terkait kegagalan berhenti merokok :
- Sebagian besar perokok aktif sebenarnya punya keinginan untuk berhenti secara sukarela.
- Statistik menunjukkan bahwa 9 dari 10 orang yang mencoba berhenti justru berakhir dengan kegagalan.
- Hanya sekitar 10 persen perokok di Indonesia yang benar-benar berhasil lepas dari ketergantungan secara permanen.
- Penyebab utama kegagalan adalah ketidaksanggupan menghadapi fase putus nikotin atau withdrawal effect.
Prof. Agus menekankan bahwa fase paling krusial yang menentukan keberhasilan seseorang terjadi pada satu hingga dua bulan pertama. Pada masa inilah tubuh bereaksi ekstrem karena kehilangan asupan zat nikotin yang biasa dikonsumsi.
Tahapan Medis Menuju Bebas Rokok
Secara medis, proses berhenti merokok tidak bisa dilakukan secara instan melainkan melalui beberapa fase transisi. Penanganan setiap pasien pun berbeda-beda, tergantung pada seberapa tinggi tingkat adiksi yang dialami.
Berikut adalah ringkasan fase transisi yang dilalui perokok dalam program medis :
| Tahapan Fase | Penjelasan Singkat Kondisi Pasien |
|---|---|
| Pra-Kontemplasi | Belum memiliki kesadaran atau niat untuk berhenti dalam waktu dekat. |
| Kontemplasi | Mulai menyadari kerugian rokok namun masih ragu untuk mengambil langkah. |
| Persiapan | Menyusun rencana nyata dan menetapkan tanggal pasti untuk mulai berhenti. |
| Aksi (Masa Kritis) | Bulan ke-1 hingga ke-2, fase terberat di mana gejala putus obat muncul. |
| Pemeliharaan | Bulan ke-3 dan seterusnya, fokus menjaga diri agar tidak kembali merokok. |
Tabel di atas menggambarkan alur yang harus dihadapi pasien di bawah pengawasan medis agar peluang keberhasilan lebih tinggi. Setiap tahap membutuhkan pendekatan yang berbeda, baik secara mental maupun bantuan terapi klinis.
Ujian Terberat di Bulan Pertama
Pada fase aksi, seseorang akan merasakan berbagai gejala fisik dan psikis seperti pusing, gelisah, hingga emosi yang meledak-ledak. Kondisi ini sering kali membuat perokok menyerah dan kembali menghisap tembakau demi meredakan rasa tidak nyaman.
Untuk mengatasi hal tersebut, pendampingan dari tenaga medis sangat diperlukan setiap dua minggu sekali melalui Klinik Berhenti Merokok. Dokter biasanya akan memberikan kombinasi terapi konseling, hipnoterapi, hingga bantuan obat-obatan khusus.
Jika pasien berhasil melewati masa dua bulan yang kritis tersebut, fokus selanjutnya adalah mencegah kekambuhan atau relapse. Pengaruh lingkungan sosial dan tingkat stres harian menjadi faktor penentu utama pada tahap pemeliharaan ini.