Penurunan fungsi penglihatan akibat masalah katarak sering kali tidak disadari oleh para penderitanya sejak awal.
Dilansir dari Media Indonesia, Amir Shidik selaku dokter spesialis mata subspesialis katarak dan bedah refraksi menjelaskan bahwa proses perkembangan penyakit ini berlangsung sangat lambat.
ÔÇ£Masalahnya katarak ini terjadi secara perlahan, hitungannya bulan hingga tahun. Jadi, sering kali pasien itu tidak sadar bahwa dia sudah mulai katarak dan penglihatannya menurun,ÔÇØ ujar dr. Amir dalam diskusi kesehatan di Jakarta.
Kondisi medis ini terjadi akibat adanya kekeruhan yang menyerang lensa mata manusia.
Lensa yang normal dan jernih bertugas memfokuskan cahaya tepat ke satu titik pada bagian retina.
Sebaliknya, kekeruhan lensa pada pengidap katarak memicu bayangan cahaya yang masuk menjadi berpendar serta tidak fokus.
Penyakit mata ini memiliki kaitan yang sangat erat dengan proses penuaan pada manusia.
Berdasarkan data medis, angka prevalensi penyakit katarak melonjak drastis hingga mencapai 70 persen pada individu yang telah menginjak usia 70 tahun.
Kasus katarak di Indonesia sendiri terus meningkat hingga memasuki fase backlog akibat keterbatasan akses dan hambatan mitos.
Meskipun berkembang secara lambat dan bertahap, terdapat beberapa tanda klinis yang dapat diidentifikasi sebagai gejala katarak.
Gejala tersebut meliputi pandangan berawan seperti melihat di balik kaca berembun, serta mata terasa sangat silau saat mengemudi malam hari atau kondisi hujan.
Selain itu, penderita kerap mengalami perubahan ukuran minus kacamata dalam waktu singkat, hingga perubahan warna objek yang tampak lebih kecokelatan atau kekuningan.
Penyakit ini juga sering diabaikan karena berkembang tanpa menimbulkan rasa nyeri atau membuat mata menjadi merah.
Terdapat pula gejala unik bernama second sight, di mana penderita mendadak merasa kemampuan penglihatan jarak dekatnya membaik secara signifikan.
Fenomena ini memicu pasien bisa membaca tanpa bantuan kacamata, namun di saat bersamaan penglihatan jarak jauh mereka justru merosot tajam.
Kondisi tersebut dapat terjadi karena lensa mata yang mengalami katarak menarik cairan, sehingga bentuknya menjadi lebih cembung dan menambah ukuran minus.
Amir Shidik menambahkan, warna putih pada pupil mata akan mulai terlihat jelas apabila kondisi katarak sudah memasuki stadium berat.
Gangguan penglihatan ini dapat menyerang salah satu maupun kedua mata sekaligus.
Meski demikian, Amir Shidik menegaskan bahwa kekeruhan pada lensa mata ini tidak memiliki sifat menular atau menyebar ke bagian mata lainnya.
Selain menyerang lansia, penyakit ini dapat dipicu oleh faktor genetik, gangguan metabolik, maupun infeksi rubella selama masa kehamilan sehingga katarak juga bisa terjadi pada bayi dan anak-anak.
Dokter spesialis mata mengingatkan katarak pada bayi harus segera ditangani agar tidak memicu gangguan penglihatan permanen yang berdampak pada tumbuh kembang.
Amir Shidik turut menegaskan bahwa operasi merupakan satu-satunya jalan medis yang dapat menyembuhkan katarak.
Dokter spesialis mata tersebut menyatakan bahwa penyakit katarak tidak bisa disembuhkan hanya dengan menggunakan obat tetes mata.
Pemeriksaan kesehatan mata secara rutin menjadi langkah kunci untuk mendeteksi katarak sejak dini, terutama bagi kelompok lansia atau individu dengan faktor risiko tinggi.