Dokter Imbau Orang Tua Tunda Pemberian Parfum pada Anak

Dokter Imbau Orang Tua Tunda Pemberian Parfum pada Anak
Foto: Ilustrasi Dokter Imbau Orang Tua Tunda Pemberian Parfum pada Anak.

Minat anak-anak dan remaja terhadap produk wewangian belakangan ini meningkat pesat. Fenomena berburu parfum di pusat perbelanjaan bahkan sempat memicu antrean panjang yang ramai di media sosial.

Melihat tren tersebut, orang tua perlu memperhatikan aspek kesehatan sebelum memberikan produk wewangian kepada buah hati. Penggunaan parfum pada anak-anak memerlukan pertimbangan matang terkait keamanan bahan dan risiko iritasi.

Dikutip dari Lifestyle, Wakil Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Banten, dr. Arifin Kurniawan Kashmir, SpA., MKes., CHt., FISQua tidak merekomendasikan penggunaan parfum untuk kelompok bayi dan balita.

"Kalau untuk bayi dan balita, parfum tidak direkomendasikan karena kulitnya masih sensitif, risiko untuk iritasi, dan juga penggunaan aerosol pada anak kecil juga beresiko untuk menyemprot ke mata, mulut, atau tertelan," jelasnya kepada Kompas.com, Rabu (20/5/2026).

Dokter Spesialis Dermatologi, Venereologi, dan Estetika dari Siloam Heart Hospital, dr. Atika Kamilia, Sp.DVE, juga menyarankan hal senada. Menurutnya, pemakaian produk wewangian sebaiknya ditunda, khususnya untuk bayi berusia di bawah enam bulan hingga satu tahun.

Lapisan pelindung kulit bayi belum berfungsi optimal karena masih dalam tahap perkembangan. Kandungan zat pewangi di dalam parfum dikhawatirkan memicu reaksi alergi, kemerahan, hingga iritasi pada kulit.

Orang tua diimbau untuk lebih memprioritaskan kebersihan tubuh serta pakaian anak daripada menggunakan parfum untuk menyamarkan aroma tubuh. Keamanan kulit anak harus menjadi prioritas utama.

Pengenalan produk wewangian dinilai lebih aman saat anak sudah menginjak usia sekolah. Pada masa ini, anak dianggap telah mampu memahami arahan cara penggunaan produk dengan benar.

"Pendekatan yang paling aman pada saat anak usia sekolah, ketika anak sudah bisa paham instruksi, enggak menyemprot ke wajah, mulut, dan area luka, dan tidak berlebihan dalam penggunaannya," ujarnya.

Di sisi lain, dr. Atika menjelaskan bahwa anak usia tiga hingga lima tahun sebenarnya boleh mulai mengenal produk wewangian. Namun, penggunaannya harus dilakukan secara terbatas dan menggunakan produk khusus.

"Jadi sekitar usia 3ÔÇô5 tahun, bila ingin mulai dikenalkan, sebaiknya sangat minimal, gunakan sesekali saja, dan pilih formula ringan atau hypoallergenic," katanya.

Formulasi parfum dewasa memiliki kadar alkohol dan pewangi yang jauh lebih tinggi sehingga tidak cocok untuk anak-anak. Orang tua disarankan memilih produk khusus seperti baby cologne yang sudah melewati uji dermatologi.

"Jika memang ingin memberikan wewangian saat anak sudah lebih besar di atas 1 atau 2 tahun, pilihlah produk yang memang diformulasikan khusus untuk anak yang sudah lolos uji dermatologi, dan bukan parfum orang dewasa," jelas dr. Atika.

Penggunaan Parfum pada Remaja

Memasuki masa remaja, aturan pemakaian parfum menjadi lebih longgar. Meski demikian, dr. Arifin mengingatkan agar produk wewangian tidak diaplikasikan secara berlebihan atau menjadi ritual harian wajib.

"Untuk anak remaja, parfum boleh digunakan tapi diposisikan sebagai mungkin kosmetik atau produk sesekali, bukan jadi ritual hariannya," katanya.

Parfum sering kali dianggap sebagai jalan pintas utama oleh remaja maupun orang tua untuk mengatasi masalah bau badan saat pubertas. Padahal, penanganan utamanya terletak pada faktor higienitas.

"Sebab, kalau argumentasinya adalah masalah bau badan pada saat anak remaja. Solusinya sebenarnya bukan parfum, tapi evaluasi kebersihan," ujarnya.

Remaja sebaiknya dibiasakan untuk menjaga tubuh tetap kering sehabis berkeringat serta rutin mengganti pakaian. Edukasi mengenai perubahan fisik selama fase pubertas juga sangat penting diberikan.

Orang tua juga patut waspada jika anak mengalami kemunculan bau badan yang terlalu dini. Kondisi tersebut perlu dicermati, terutama jika disertai gejala pertumbuhan fisik lain yang tidak sesuai usia.

Tumbuhnya rambut ketiak, rambut kemaluan, jerawat, hingga lonjakan tinggi badan yang terlalu cepat bisa menjadi indikasi medis tertentu. Masalah hormonal ini memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.

"Jika terjadinya di usia 8 tahun pada anak perempuan atau sebelum 9 tahun pada anak laki-laki, ini bisa termasuk pubertas dini dan perlu konsultasi lebih lanjut ke dokter anak, khususnya ke bagian endokrin," tutupnya.

Artikel terkait

Rekomendasi