Dokter Gigi Sarankan Rutin Ganti Sikat Gigi Tiga Bulan Sekali

Dokter Gigi Sarankan Rutin Ganti Sikat Gigi Tiga Bulan Sekali
Foto: Ilustrasi Dokter Gigi Sarankan Rutin Ganti Sikat Gigi Tiga Bulan Sekali.

Kebersihan rongga mulut dapat terganggu akibat penggunaan sikat gigi yang terlalu lama. Proses pembersihan gigi menjadi kurang maksimal ketika bulu sikat sudah mulai rusak.

Mengganti sikat gigi secara rutin sangat penting dilakukan untuk menjaga kesehatan gigi serta gusi, seperti dikutip dari Lifestyle. Kebiasaan ini efektif membantu membersihkan plak secara optimal sekaligus menekan risiko infeksi bakteri di dalam mulut.

Dokter gigi spesialis ortodonti bersertifikat, Marina Gonchar, D.M.D., menjelaskan mengenai batas waktu ideal penggunaan sikat gigi.

ÔÇ£Kamu sebaiknya mengganti sikat gigi setiap tiga bulan,ÔÇØ kata Gonchar, seperti disadur Prevention, Kamis (21/5/2026).

Marina Gonchar, D.M.D. menambahkan bahwa bulu sikat umumnya mulai rusak dan melebar setelah tiga bulan pemakaian. Faktor tersebut membuat alat ini tidak lagi efektif dalam membersihkan plak yang menyelip di antara gigi.

ÔÇ£Setelah tiga bulan, bulu sikat biasanya mulai patah dan mekar. Hal ini membuat sikat gigi kurang efektif menghilangkan plak dan bahkan bisa menyebabkan iritasi pada gusi,ÔÇØ ujar Gonchar.

Risiko penumpukan bakteri pada sikat gigi juga meningkat seiring lamanya masa penggunaan. Jika sikat tersebut terus dipakai, kondisi ini dapat memengaruhi kesehatan mulut secara keseluruhan.

Ketentuan durasi pemakaian ini berlaku sama untuk sikat gigi manual maupun komponen kepala sikat pada sikat gigi elektrik.

Juru bicara konsumen dari American Dental Association (ADA), Matthew J. Messina, D.D.S., menyatakan bahwa kepala sikat gigi elektrik pun mempunyai batas waktu penggantian berkala.

ÔÇ£Kepala sikat gigi elektrik sebaiknya diganti setiap tiga hingga empat bulan, atau lebih cepat jika bulu sikat mulai rusak,ÔÇØ kata Messina.

Indikasi Sikat Gigi Harus Segera Diganti

Masyarakat dapat mengenali beberapa tanda fisik yang menunjukkan bahwa sikat gigi sudah harus dibuang tanpa perlu terpaku pada hitungan bulan.

Kondisi bulu sikat yang mekar, bengkok, atau mengalami perubahan warna menjadi tanda yang paling mudah diidentifikasi. Penurunan kemampuan membersihkan plak ditandai oleh gejala-gejala fisik tersebut.

Marina Gonchar, D.M.D. memaparkan bahwa sikat gigi yang telah lama digunakan biasanya meninggalkan rasa kurang bersih setelah proses menyikat selesai.

ÔÇ£Pertimbangan lain adalah jika Anda merasa gigi tidak lagi terasa bersih setelah menyikat gigi atau muncul bau tidak sedap dari sikat gigi,ÔÇØ ujar Gonchar.

Banyak orang memilih tetap menggunakan sikat gigi yang bulunya sudah melebar karena merasa sayang untuk membuangnya. Padahal, sikat gigi yang rusak berisiko melukai gusi dan menimbulkan rasa tidak nyaman saat menyikat gigi.

Penggantian Sikat Gigi Setelah Mengalami Sakit

Mengganti sikat gigi setelah sembuh dari penyakit seperti flu, batuk, atau infeksi lainnya merupakan kebiasaan yang kerap dilewatkan.

Bakteri dan virus berpotensi tetap menempel pada bagian bulu sikat, sehingga memicu risiko terjadinya kontaminasi ulang pada tubuh.

ÔÇ£Disarankan mengganti sikat gigi setelah flu atau pilek untuk mencegah kontaminasi ulang bakteri berbahaya di mulut,ÔÇØ kata Gonchar.

Langkah ini sangat krusial, terutama bagi seseorang yang baru pulih dari sakit tenggorokan, infeksi mulut, atau flu berat. Penggunaan sikat gigi baru berperan besar menjaga kebersihan mulut tetap prima.

Cara penyimpanan alat pembersih ini juga wajib diperhatikan secara saksama. Sikat gigi sebaiknya ditaruh di tempat terbuka agar lekas kering dan tidak lembap, karena area lembap mempermudah bakteri berkembang biak.

Dampak Buruk Akibat Jarang Mengganti Sikat Gigi

Memakai sikat gigi yang sudah aus tidak hanya membuat mulut terasa kurang bersih, melainkan juga memicu berbagai gangguan kesehatan gigi.

Matthew J. Messina, D.D.S. menerangkan bahwa efektivitas sikat gigi pasti menurun seiring berjalannya waktu karena ausnya komponen bulu sikat.

ÔÇ£Tidak mengganti sikat gigi secara rutin dapat memengaruhi seberapa baik gigi dibersihkan,ÔÇØ ujar Messina.

Marina Gonchar, D.M.D. menambahkan dampak lain berupa kerusakan mekanis pada jaringan lunak di dalam mulut akibat bulu sikat yang rusak.

ÔÇ£Bulu sikat yang patah dapat menyebabkan kerusakan pada gusi dan meningkatkan risiko infeksi mulut serta bau mulut,ÔÇØ kata Gonchar.

Lapisan luar atau enamel gigi juga terancam rusak akibat sapuan bulu sikat yang sudah kasar. Jika enamel terus mengikis, gigi akan menjadi lebih sensitif saat terkena makanan yang panas, dingin, atau manis.

Artikel terkait

Rekomendasi