Dokter Emergensi Pimpin Penanganan Medis Korban Kecelakaan Kereta Bekasi

Dokter Emergensi Pimpin Penanganan Medis Korban Kecelakaan Kereta Bekasi
Foto: Ilustrasi Dokter Emergensi Pimpin Penanganan Medis Korban Kecelakaan Kereta Bekasi.

Dokter spesialis bedah Muhammad Iqbal El Mubarak memimpin upaya penyelamatan lima korban yang terjepit material baja dalam kecelakaan antara KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo di Stasiun Bekasi Timur pada Senin, 27 April 2026.

Aksi penyelamatan darurat ini dilakukan di tengah kondisi lapangan yang mencekam untuk memastikan tanda vital korban tetap stabil selama proses evakuasi berlangsung. Dilansir dari Detik Health, Iqbal yang memiliki pengalaman medis di wilayah konflik ditunjuk oleh Kementerian Kesehatan sebagai Incident Commander dalam tragedi tersebut.

Situasi di lokasi kejadian sangat menantang karena kaki para korban terimpit material keras yang menyulitkan tim penyelamat. Petugas medis harus melakukan pemantauan intensif secara terus-menerus terhadap kondisi fisik korban yang mulai melemah akibat tekanan fisik dan trauma.

"Saya melihat lima orang ini mulai lemas. Ketika saturasi dan tanda vital saya ukur, ada beberapa yang nadinya sangat kencang, hingga mencapai 180," tutur dr Iqbal, dokter spesialis bedah.

Dokter Iqbal menerapkan prinsip penanganan medis yang sangat disiplin dalam situasi kritis tersebut demi mencegah adanya korban jiwa di lokasi kejadian. Penempatan tenaga perawat dan dokter umum dilakukan secara khusus untuk menjaga satu per satu korban yang masih terhimpit baja.

"Kematian itu bisa dinegosiasi kepada malaikat pencabut nyawa, asalkan kita benar menanganinya. Semangatnya adalah jangan sampai korban meninggal di depan mata kami," ungkap dr Iqbal.

Setelah proses evakuasi oleh tim SAR melewati masa enam jam, tim medis memutuskan untuk menjalankan prosedur alternatif guna mempermudah pembebasan korban. Langkah intervensi medis khusus berupa pembiusan dilakukan setelah berkoordinasi dengan pihak pimpinan Basarnas.

Petugas medis bersiaga selama sembilan jam untuk menyuplai oksigen dan cairan infus agar kondisi korban tetap stabil sebelum dipindahkan ke ambulans. Kondisi darurat di lokasi kecelakaan diupayakan menyerupai standar perawatan Unit Gawat Darurat (UGD) meski dengan fasilitas terbatas.

"Kita kondisikan tempat yang mencekam itu menjadi standar seperti di UGD dengan fasilitas yang serba minimal, agar upaya penyelamatan nyawa (lifesaving) bisa maksimal," tutup dr Iqbal.

Artikel terkait

Rekomendasi