Penulis : Grace El Dora 16 Mei 2026 | 17:48 WIB
Warga Teheran berada di samping potret Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei di gerbang utama Universitas Teheran, Iran, Selasa (12/5/2026). (Foto: AP/ Vahid Salemi)
WASHINGTON, investor.id ÔÇô Strategi diplomasi koersif (tekanan) yang menjadi ciri khas Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan mulai menemui dinding tebal. Gaya negosiasi yang mengandalkan ancaman publik, makian, dan ultimatum tersebut kini dinilai justru mempersulit upayanya sendiri untuk mengakhiri perang dengan Iran yang telah mengguncang ekonomi global selama 11 pekan terakhir.
Selama tahun pertama kembali menjabat di Gedung Putih, Trump sukses menggunakan taktik gertakan politik (brinkmanship) untuk menekan banyak negara, mulai dari urusan tarif dagang hingga konflik bersenjata seperti di Venezuela. Namun, menghadapi Iran, taktik ini tidak berjalan mulus.
Meskipun serangan udara gabungan AS-Israel telah menewaskan banyak petinggi militer Iran dan melumpuhkan sebagian besar infrastruktur pertahanan mereka, para penguasa Iran tetap menolak untuk tunduk. Di sisi lain, Iran masih memegang kendali atas Selat Hormuz, jalur nadi minyak dunia yang memberi mereka daya tawar sangat besar.
Analis politik menilai salah satu penghambat utama perdamaian adalah ambisi Trump yang menuntut hasil akhir berupa "kemenangan mutlak" bagi AS, di mana Iran harus tampak kalah total.
"Hal itu jelas mempersulit tercapainya kesepakatan yang masuk akal. Tidak ada pemerintahan di dunia ini, bukan hanya Iran, yang mau terlihat menyerah tanpa syarat di hadapan rakyatnya sendiri," ujar Rob Malley, mantan negosiator urusan Iran pada era Presiden Barack Obama dan Joe Biden, sebagaimana dikutip Associated Press, Sabtu (16/5/2026).
Perang Kata yang Merusak Jalur Diplomasi
Di balik pintu ruang negosiasi, Trump kerap melontarkan kata-kata kasar dengan menyebut para pemimpin Iran sebagai "berandal gila" dan "penjahat". Teheran membalasnya dengan meluncurkan kampanye siber masif yang mengejek Trump melalui meme provokatif di media sosial.
Ancaman Trump bahkan dinilai semakin tidak dapat diprediksi:
- Ancaman Pemusnahan: Bulan lalu, Trump mengancam akan "melenyapkan peradaban Iran" di media sosial. Pejabat administrasi AS membisikkan bahwa ucapan itu adalah improvisasi spontan Trump dan bukan bagian dari strategi keamanan nasional resmi.
- Ancaman Nuklir: Pekan lalu, Trump berujar bahwa dunia akan tahu gencatan senjata telah runtuh jika melihat "satu pijaran cahaya besar keluar dari Iran," yang diartikan banyak pihak sebagai ancaman senjata nuklir.
"Kurangnya kesabaran strategis dan inkonsistensi retorika presiden justru merusak pesan apa pun yang ingin ia sampaikan kepada lawan," kritik Dennis Ross selaku mantan penasihat senior urusan Timur Tengah.
Tekanan Domestik dan Risiko Senjata Nuklir
Kebuntuan ini mulai membebani posisi politik Trump di dalam negeri. Harga bensin di AS yang melonjak tinggi akibat krisis energi membuat tingkat kepuasan publik terhadap Trump merosot drastis. Kondisi ini mengancam posisi Partai Republik yang tengah berjuang mempertahankan kendali atas Kongres menjelang pemilu paruh waktu (midterm elections) pada November mendatang.
Di sisi lain, para ahli memperingatkan bahwa taktik tekanan ekstrem dari AS ini bisa berbalik arah (backfire). Alih-alih menghentikan program nuklir, gempuran militer dan ancaman tiada henti dari Trump diprediksi akan mendorong Iran untuk mempercepat pembuatan bom nuklir sebagai tameng pelindung mutlak, meniru langkah yang sebelumnya sukses dilakukan oleh Korea Nord.
Sebagai mantan pengembang real estat di New York, Donald Trump selalu menerapkan filosofi bisnisnya, "The Art of the Deal", ke dalam panggung politik luar negeri. Strategi ini mengandalkan prinsip ketidakpastian (unpredictability) guna membuat lawan bicara kehilangan keseimbangan, serta pengajuan tuntutan maksimal (maximalist demands) di awal agar mendapatkan konsesi besar di akhir.
Strategi ini sempat membuahkan hasil cepat dalam operasi militer kilat di Venezuela yang berujung pada penangkapan pemimpinnya, serta mediasi gencatan senjata di Gaza pada tahun sebelumnya.
Namun, penerapan formula bisnis ini dinilai gagal total ketika berhadapan dengan Iran. Pemerintahan Iran yang digerakkan oleh dewan ulama dan pengawal revolusi memiliki garis ideologi dan ketahanan rezim (regime resilience) yang sangat mengakar, yang dibentuk oleh sejarah panjang nasionalisme yang kuat serta pengalaman bertahan di bawah sanksi ekonomi Barat selama puluhan tahun.
Selain itu, gaya Trump yang impulsif dan menuntut hasil instan sangat bertolak belakang dengan karakter diplomasi Iran yang terkenal sabar dan sengaja mengulur-ulur waktu (dragging out talks).
Ketidakselarasan ritme diplomasi ini, ditambah dengan hilangnya rasa percaya pemerintah Iran akibat serangan udara AS yang terjadi dua kali saat proses negosiasi masih berjalan, membuat konflik pertaruhan reputasi ini terjebak dalam lingkaran setan yang sulit ditembus oleh jalur diplomasi konvensional.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Pulang dari Beijing, Trump Minim Hasil Nyata Meski Akrab dengan Xi Jinping
Iran Puji Usulan Damai, Trump Tetap Tolak Mentah-Mentah
Jelang Kedatangan Trump, China Jamu Menlu Iran di Beijing
Babak Baru Diplomasi, Iran Terima Jawaban AS Soal Usulan Damai 14 Poin
Trump Mulai Project Freedom di Selat Hormuz Hari Ini
International 4 menit yang lalu Diplomasi Gertakan Trump Temui Jalan Buntu dalam Menghadapi Perlawanan Iran Gaya negosiasi agresif Donald Trump temui jalan buntu di Iran. Taktik gertakan dinilai gagal redam konflik dan justru picu krisis energi.
Lifestyle 13 menit yang lalu Permintaan Perawatan Pengencangan Wajah Melonjak Permintaan perawatan pengencangan wajah (skin tightening) melonjak demi penampilan yang segar. Namun demikian, konsumen menginginkan perawatan tanpa bedah dan minim masa pemulihan (downtime).
Market 16 menit yang lalu Siap-siap, Saham Ini Mau Dibeli di Rp 100 Ribu Organon Pharma Indonesia (SCPI) mengumumkan kembali rencana go private dan delisting.
Business 17 menit yang lalu United E-Motor Dorong Mobilitas Ramah Lingkungan Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap efisiensi biaya transportasi dan pentingnya menjaga kualitas lingkungan, United E-Motor hadir sebagai solusi mobilitas modern yang menggabungkan teknologi, efisiensi, dan semangat keberlanjutan.
National 42 menit yang lalu TNI AD Imbau Warga Bijak Sikapi Film Pesta Babi di Papua NI AD mengimbau warga untuk bijak dalam menyikapi maraknya rencana pemutaran film dokumenter ÔÇ£Pesta BabiÔÇØ karya Dandhy Dwi Laksono pada sejumlah wilayah di Papua.
Business 54 menit yang lalu IPC TPK Area Panjang Perkuat Infrastruktur Bongkar Muat Penguatan infrastruktur bongkar muat terus dilakukan IPC Terminal Petikemas (IPC TPK) Area Panjang.