Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi mengintegrasikan seluruh ekosistem katering ke dalam sistem digital untuk memperkuat layanan konsumsi jemaah haji Indonesia di Makkah pada Jumat, 15 Mei 2026. Inovasi ini bertujuan memastikan kebugaran ratusan ribu jemaah tetap terjaga menjelang puncak ibadah di Armuzna.
Dilansir dari Investor Daily, modernisasi ini mencakup pencatatan distribusi, pemantauan jumlah porsi, hingga verifikasi layanan yang berjalan secara seketika. Teknologi tersebut mempermudah koordinasi distribusi makanan dari 51 dapur penyedia menuju 177 hotel yang menampung 527 kloter jemaah.
Data PPIH menunjukkan bahwa sebanyak 1.193.534 boks makanan telah berhasil disalurkan kepada jemaah tanpa kendala signifikan. Selain aspek teknologi, pemerintah juga meningkatkan standar gizi dengan menyusun menu yang memperhatikan keseimbangan nutrisi dan cita rasa khas Nusantara agar selera makan jemaah tetap terjaga.
Kepala Bidang Konsumsi PPIH Arab Saudi, Indri Hapsari, menjelaskan bahwa sistem cerdas ini sangat krusial dalam menangani kendala logistik di lapangan secara presisi. Transparansi data menjadi kunci utama dalam pengawasan layanan konsumsi tahun ini.
"Pada tahun ini pengelolaan data konsumsi mulai terintegrasi secara digital, mulai dari pencatatan distribusi, monitoring jumlah porsi, hingga verifikasi layanan," jelas Indri Hapsari, Kepala Bidang Konsumsi PPIH Arab Saudi.
Pemerintah juga memberikan tambahan nutrisi berupa susu, buah-buahan segar, dan air mineral secara rutin kepada setiap jemaah. Langkah ini diambil untuk menambah energi fisik jemaah yang akan menghadapi rangkaian ibadah berat di Padang Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
"Penyusunan menu dilakukan dengan memperhatikan keseimbangan gizi, variasi lauk, dan penyesuaian selera jemaah haji Indonesia," papar Indri Hapsari menambahkan.
Menjelang puncak haji, PPIH telah menyiapkan skema logistik khusus saat jemaah berada di Arafah pada 8 hingga 9 Dzulhijjah dengan jaminan lima kali makan. Jemaah juga akan menerima tiga botol air mineral sebagai minuman pembuka saat tiba di lokasi wukuf.
Selama periode melontar jumrah di Mina pada 10 hingga 13 Dzulhijjah, suplai makanan akan dipertebal hingga sepuluh kali pemberian. Strategi ini diterapkan guna memastikan kondisi fisik jemaah haji Indonesia tidak menurun selama menjalani fase krusial tersebut.