Kemenkes Ungkap Lonjakan Diabetes Usia Muda Picu Kasus Gagal Ginjal

Kemenkes Ungkap Lonjakan Diabetes Usia Muda Picu Kasus Gagal Ginjal
Foto: Ilustrasi Kemenkes Ungkap Lonjakan Diabetes Usia Muda Picu Kasus Gagal Ginjal.

Kementerian Kesehatan RI melaporkan tren peningkatan kasus diabetes pada kelompok usia muda yang memicu lonjakan penderita gagal ginjal di Indonesia pada Jumat (17/4/2026). Fenomena ini berdampak signifikan terhadap ketahanan fisik masyarakat sekaligus memperberat beban pembiayaan kesehatan nasional secara drastis.

Data program Cek Kesehatan Gratis menunjukkan bahwa diabetes kini banyak menyerang penduduk pada usia produktif. Berdasarkan laporan yang dilansir dari Detik Health, terjadi sinkronisasi kenaikan kasus diabetes sebesar 40 persen yang diikuti oleh peningkatan serupa pada prevalensi gagal ginjal.

Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI, dr Siti Nadia Tarmizi, menjelaskan bahwa identifikasi kondisi medis ini ditemukan bahkan pada individu di bawah usia 30 tahun.

"Usia 35 tahun sudah banyak ditemukan diabetes, bahkan pada usia 28 hingga 29 tahun sudah ada yang mengalami kondisi pra-diabetes hingga diabetes," ujarnya dr Siti Nadia Tarmizi, Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI.

Kenaikan jumlah pasien ini berdampak langsung pada pengeluaran negara melalui BPJS Kesehatan. Selama periode 2019 hingga 2025, penyakit ginjal tercatat sebagai penyumbang biaya katastropik tertinggi dengan lonjakan mencapai 478 persen, melampaui pertumbuhan biaya penyakit jantung dan stroke.

"Peningkatan ini diduga kuat berkaitan dengan diabetes, karena kadar gula darah yang tinggi secara terus-menerus memberikan beban berat pada ginjal," jelas dr Siti Nadia Tarmizi, Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI.

Ketua Umum Perkumpulan Endokrinologi Indonesia, Prof Dr dr Em Yunir, SpPD-KEMD, menyoroti masalah perilaku pasien sebagai pemicu utama kerusakan organ. Rendahnya kepatuhan dalam mengontrol kadar gula darah membuat komplikasi medis berkembang jauh lebih cepat dari seharusnya.

"Sekitar 90 persen pasien diabetes tidak minum obat secara teratur. Akibatnya, gula darah tidak terkontrol dan kerusakan pembuluh darah, termasuk di ginjal, terjadi lebih cepat," kata Prof Dr dr Em Yunir, SpPD-KEMD, Ketua Umum Perkumpulan Endokrinologi Indonesia.

Prof Yunir menambahkan bahwa pergeseran usia pasien hemodialisis atau cuci darah saat ini sangat terlihat. Jika sebelumnya didominasi lansia usia 60 hingga 70 tahun, kini banyak ditemukan pasien berusia 30 hingga 40 tahun, bahkan di bawah 30 tahun akibat paparan gula darah tinggi sejak dini.

Faktor risiko juga diperparah oleh riwayat genetik dalam keluarga. Anak dari kedua orang tua yang mengidap diabetes memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk mengalami kondisi serupa pada usia yang lebih awal dibandingkan populasi umum.

Artikel terkait

Rekomendasi