Sejumlah orang tua pekerja di wilayah Jakarta dan sekitarnya memilih layanan penitipan anak atau daycare sebagai solusi realistis demi menjaga stabilitas ekonomi rumah tangga pada Senin, 20 April 2026. Keputusan ini diambil di tengah keterbatasan dukungan keluarga besar dan tuntutan jam kerja yang tinggi di ibu kota.
Kebutuhan akan tempat penitipan anak kini tidak lagi dianggap sebagai pilihan sekunder, melainkan keharusan bagi keluarga inti di kota besar, sebagaimana dilansir dari Megapolitan. Fenomena ini dipicu oleh perubahan struktur sosial yang membuat tanggung jawab pengasuhan sepenuhnya berada di tangan pasangan suami-istri.
Sesa (34), seorang karyawan admin finance di Jakarta Timur, mengungkapkan bahwa dirinya terpaksa menggunakan jasa daycare karena situasi ekonomi yang mengharuskan kedua orang tua bekerja. Ia mengaku sempat merasa berat hati saat pertama kali menitipkan anaknya pada Jumat, 17 April 2026.
"Daycare itu bukan pilihan ideal, tapi pilihan yang paling realistis," kata Sesa, orang tua pekerja.
Meskipun awalnya Sesa menginginkan anak diasuh langsung oleh orang tua, minimnya bantuan dari anggota keluarga lain membuatnya tidak memiliki banyak pilihan. Ia menekankan bahwa fokus bekerja sangat bergantung pada kepastian keamanan pengasuhan anak.
"Kalau saya enggak kerja, ekonomi rumah tangga goyang. Tapi kalau saya kerja dan anak saya enggak ada yang jagain, saya juga nggak bisa fokus," ujar Sesa, orang tua pekerja.
Pengalaman serupa dirasakan Sesa saat menghadapi gejolak emosional di hari pertama proses penitipan. Kekhawatiran mengenai kualitas pengasuhan hingga potensi kekerasan menjadi beban pikiran yang cukup besar.
"Pertama kali nitip, saya nangis. Anak saya nangis juga. Saya sampai duduk di parkiran daycare beberapa menit karena enggak tega pulang," kata Sesa, orang tua pekerja.
Rasa bersalah muncul karena dirinya merasa tidak hadir sepenuhnya untuk sang anak. Ketakutan akan risiko buruk di tempat penitipan juga terus membayangi langkahnya setiap hari.
"Saya takut anak saya enggak keurus, takut dia sakit, takut dia nangis terus. Bahkan saya takut ada pengasuhnya kasar," kata Sesa, orang tua pekerja.
Dilema antara idealisme dan realitas ekonomi juga dirasakan oleh Melani (33), seorang ibu yang berdomisili di Depok. Ia sempat memiliki persepsi negatif terhadap ibu yang menitipkan anaknya ke tempat penitipan sebelum akhirnya merasakan sendiri tekanan tersebut pada Jumat, 17 April 2026.
"Saya dulu berpikir, ÔÇÿKalau anak dititipkan daycare, berarti ibunya nggak ngurus.ÔÇÖ Tapi kenyataannya, saya nggak bisa kayak gitu," ujar Melani, orang tua pekerja.
Melani menegaskan bahwa pilihan ini murni diambil untuk bertahan hidup secara finansial. Tekanan ekonomi memaksa pasangan suami-istri untuk tetap aktif di dunia kerja tanpa mengabaikan keselamatan anak.
"Daycare itu bukan soal mau atau enggak. Tapi soal bertahan," kata Melani, orang tua pekerja.
Sama seperti orang tua lainnya, Melani mengalami momen emosional saat harus meninggalkan anaknya di gerbang penitipan untuk pertama kalinya. Proses perpisahan sementara di pagi hari menjadi beban tersendiri bagi dirinya.
"Anak saya nangis kenceng. Saya juga nangis. Saya sampai duduk di parkiran daycare beberapa menit," ujar Melani, orang tua pekerja.
Seiring berjalannya waktu, Melani mulai menyesuaikan diri dengan keadaan meskipun perasaan bersalah karena kehilangan waktu bersama anak masih tersisa. Ia menyadari bahwa porsi waktu anak kini lebih banyak dihabiskan bersama pihak luar.
"Saya merasa waktu anak saya lebih banyak sama orang lain dibanding sama saya," kata Melani, orang tua pekerja.
Pengelola Trust DayCare di Jakarta Barat, Martha Mulyadani, menjelaskan bahwa mayoritas pelanggannya adalah pasangan suami-istri yang sama-sama bekerja. Peralihan dari asisten rumah tangga (ART) ke daycare sering terjadi karena faktor ketidakcocokan atau keamanan.
"Mayoritas karena suami-istri sama-sama bekerja. Biasanya mereka awalnya pakai ART, tapi ada juga yang akhirnya ditinggal ART-nya atau merasa tidak cocok," ujar Martha Mulyadani, Pengelola Trust DayCare.
Martha menambahkan bahwa transparansi melalui sistem pengawasan digital menjadi daya tarik utama bagi para orang tua. Keberadaan CCTV memungkinkan pemantauan aktivitas anak secara langsung oleh orang tua dari tempat kerja.
"Kalau daycare kan ada CCTV, jadi orangtua bisa memantau real time. Mereka bisa lihat anaknya lagi ngapain, lagi tidur atau main, jadi lebih teramati," kata Martha Mulyadani, Pengelola Trust DayCare.
Secara operasional, tempat ini menampung puluhan anak dengan sistem yang terstruktur untuk membantu proses sosialisasi. Anak-anak yang dititipkan rata-rata berada pada rentang usia balita.
"Yang paling banyak itu usia 1 tahun lebih sampai 2 tahun. Tapi ada juga yang 3 tahun lebih, walau memang agak jarang," ujar Martha Mulyadani, Pengelola Trust DayCare.
Fleksibilitas waktu operasional juga disesuaikan dengan jam kerja para orang tua di Jakarta. Layanan ini buka sejak pagi hingga sore hari dengan kompensasi keterlambatan penjemputan bagi orang tua yang lembur.
"Operasional dari setengah delapan pagi sampai jam enam sore. Tapi ada orangtua yang lembur, jadi kadang jemputnya telat atau titip lebih awal," kata Martha Mulyadani, Pengelola Trust DayCare.
Di daycare, anak-anak tidak hanya dijaga, tetapi juga didorong untuk belajar mandiri dalam berbagai aktivitas harian. Pola pengasuhan kolektif memaksa anak untuk tidak selalu mengandalkan bantuan orang dewasa.
"Kita melatih kemandirian anak. Misalnya anak mau minum, kita ajarkan ambil sendiri, tidak selalu disuapi," ujar Martha Mulyadani, Pengelola Trust DayCare.
Selain kemandirian, pembentukan karakter dilakukan melalui interaksi sosial dengan teman sebaya. Hal ini mencakup pengajaran etika dasar seperti antre dan berbagi mainan.
"Mereka belajar berbagi, antre, tidak merebut mainan. Kita lebih fokus membentuk karakter dari dini," kata Martha Mulyadani, Pengelola Trust DayCare.
Martha mengakui bahwa setiap anak memerlukan waktu adaptasi yang bervariasi sebelum merasa nyaman di lingkungan baru. Reaksi awal yang sering ditemukan adalah tangisan sebagai bentuk perasaan kehilangan.
"Macam-macam. Bisa seminggu, dua minggu, bahkan tiga minggu. Itu wajar karena mereka merasa ditinggalkan," tutur Martha Mulyadani, Pengelola Trust DayCare.
Pihak pengelola juga berupaya menstimulasi kemampuan komunikasi dasar bagi anak yang belum lancar berbicara. Pengasuh membantu anak untuk mengekspresikan keinginannya melalui gerakan atau kata-kata sederhana.
"Kita ajarkan mereka menunjuk atau mulai belajar komunikasi," kata Martha Mulyadani, Pengelola Trust DayCare.
Konsistensi pola asuh antara di rumah dan di tempat penitipan juga menjadi fokus utama dalam koordinasi dengan orang tua. Martha menyarankan agar rutinitas di daycare tetap diterapkan di lingkungan keluarga demi tumbuh kembang anak.
"Kita sarankan pola yang sama seperti di daycare diterapkan di rumah. Misalnya jam tidur tetap dijaga," ujar Martha Mulyadani, Pengelola Trust DayCare.
Namun, pihak pengelola menekankan bahwa daycare hanyalah mitra dalam pengasuhan, bukan pengganti peran utama orang tua. Keterlibatan aktif ibu dan ayah tetap menjadi elemen yang tak tergantikan.
"Kalau orangtua berharap semuanya diserahkan ke daycare, itu tidak bisa," ucap Martha Mulyadani, Pengelola Trust DayCare.
Dosen dan Guru Besar Sosiologi Pendidikan Universitas Airlangga, Tuti Budirahayu, menyoroti bahwa fenomena ini adalah dampak dari terbentuknya keluarga inti yang individualistik. Tanggung jawab pengasuhan kini menjadi beban pribadi pasangan tanpa keterlibatan keluarga besar.
"Memang tidak dapat dipungkiri, bahwa keluarga modern cenderung menjadi nuclear family dan lebih individualistik, di mana tanggung jawab pengasuhan anak menjadi beban individu (suami dan istri), bukan lagi keluarga besar," ujar Tuti Budirahayu, Pakar Sosiologi.
Hilangnya peran pendukung dari keluarga besar memberikan dampak signifikan terhadap cara keluarga inti mengelola waktu dan tenaga. Hal ini memaksa orang tua mencari jasa profesional untuk mengisi kekosongan peran pengasuhan.
"Cukup besar pengaruhnya karena peran keluarga besar sangat signifikan untuk menjadi bagian supporting system pada keluarga inti," kata Tuti Budirahayu, Pakar Sosiologi.
Bagi keluarga yang memiliki kemampuan finansial, pengasuhan anak menjadi bagian dari strategi bertahan hidup di tengah kerasnya ekonomi perkotaan. Pilihan ini pun melahirkan berbagai variasi jasa pengasuhan di pasar.
"Akibatnya, bagi keluarga yang mampu akan menggunakan berbagai jenis jasa pengasuhan dan pendidikan bagi anak-anaknya," ujar Tuti Budirahayu, Pakar Sosiologi.
Tuti menjelaskan bahwa biaya yang dikeluarkan untuk pengasuh pribadi atau daycare sangat bergantung pada kemampuan ekonomi keluarga. Semua pilihan tersebut memiliki konsekuensi biaya yang signifikan.
"Itu semua membutuhkan biaya yang tidak sedikit," kata Tuti Budirahayu, Pakar Sosiologi.
Lebih lanjut, Tuti menjelaskan bahwa kelelahan ekstrem atau parental burnout sering terjadi pada orang tua di era modern. Ritme kerja yang cepat dan jam kerja panjang membuat energi orang tua terkuras sebelum sampai di rumah.
"Parental burnout tidak saja disebabkan karena ritme cepat, biaya hidup tinggi dan jam kerja panjang, tetapi juga disebabkan oleh kelelahan ekstrem dalam mengasuh anak," ujar Tuti Budirahayu, Pakar Sosiologi.
Kondisi ini berdampak pada kualitas interaksi emosional antara orang tua dan anak yang semakin menurun. Kedekatan yang seharusnya terjalin kuat menjadi terhambat oleh keterbatasan waktu.
"Karena waktu yang dicurahkan orangtua lebih banyak di tempat kerja, maka kedekatan emosi dengan anak menjadi berkurang," kata Tuti Budirahayu, Pakar Sosiologi.
Kurangnya kesempatan bertemu ini kemudian memicu beban psikologis bagi para orang tua. Perasaan tidak mampu menjalankan peran dengan baik sering kali menghantui pasangan muda.
"Karena waktu dan kesempatan bertemu yang sangat kurang, maka muncul rasa bersalah, gagal, dan tidak mampu menjalankan peran sebagai orangtua dengan baik," kata Tuti Budirahayu, Pakar Sosiologi.
Tekanan sosial dari standar pengasuhan yang ditampilkan di media digital juga turut memperburuk kondisi psikologis orang tua. Citra orang tua sempurna di dunia maya sering kali tidak sejalan dengan realitas kehidupan nyata.
"Orangtua ideal di era modern sering ditampilkan di berbagai media sosial atau digital, dan hal itu semakin memperparah tekanan sosial dan psikologi orangtua," ujar Tuti Budirahayu, Pakar Sosiologi.
Tuti menegaskan bahwa tekanan yang dihadapi orang tua saat ini lebih banyak dipicu oleh faktor-faktor luar yang bersifat struktural. Sistem kerja yang kaku dan norma sosial yang menuntut kesempurnaan menjadi beban tambahan.
"Lebih dipicu oleh faktor eksternal atau struktural dan kultural," kata Tuti Budirahayu, Pakar Sosiologi.
Tuntutan untuk menjadi keluarga yang sukses dalam segala bidang, termasuk pengasuhan, menjadi tantangan besar bagi pasangan muda di lingkungan urban. Norma tersebut sering kali menjadi beban yang menindih perkembangan emosional keluarga.
"Faktor struktural adalah tuntutan untuk menjadi keluarga yang ideal dan harmonis, serta sukses dalam mengasuh serta membesarkan anak," kata Tuti Budirahayu, Pakar Sosiologi.