Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara resmi mendirikan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) baru yang bertindak selaku perantara penjualan komoditas dalam negeri ke pasar internasional pada Senin (25/5/2026) di Jakarta.
Dilansir dari Suara, pembentukan perusahaan makelar ekspor minyak kelapa sawit mentah, batu bara, serta paduan logam ini disahkan melalui penandatanganan oleh CEO Danantara Rosan Roeslani, COO Danantara Dony Oskaria, dan CIO Danantara Pandu Sjahrir.
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum yang beredar, badan usaha baru ini tercatat resmi dibentuk pada tanggal 18 Mei 2026. Mengenai susunan kepengurusan, manajemen Danantara saat ini masih membatasi informasi detail terkait jajaran direksi yang akan memimpin DSI.
COO Danantara Dony Oskaria menjelaskan bahwa instansinya telah membentuk tim khusus yang bertugas menyaring nama-nama potensial untuk mengisi posisi pimpinan di BUMN makelar ekspor tersebut.
"Ada tim kan. Jadi ada tim yang melakukan proses rekrutannya. Kan kita harus membuat ini sangat bagus kan," ujarnya saat ditemui di Wisma Danantara, Jakarta, Senin (25/5/2026).
Dony menambahkan bahwa proses penjaringan figur direksi tersebut bersifat terbuka, sehingga kandidat bisa berasal dari internal BUMN maupun kalangan eksternal.
"Jadi ada tim, sumbernya bisa dari mana saja, para profesional tentunya," ucap Dony.
Struktur kepengurusan DSI saat ini tercatat hanya diisi oleh satu komisaris dan satu direktur, di mana jabatan Direktur diduduki oleh Luke Thomas Mahony dan posisi Komisaris dipegang oleh Harold Jonathan Dharma TJ.
Dari sisi permodalan, saham Seri A DSI ditetapkan dengan modal dasar Rp99.750.000 untuk 399 lembar saham, sedangkan modal Seri B senilai Rp250.000 per lembar saham. Untuk modal ditempatkan, Seri A tercatat sebesar Rp24.750.000 untuk 99 lembar saham dan Seri B senilai Rp250.000.
Penyetoran modal awal tunai yang diberikan Danantara kepada DSI adalah sebesar Rp25.000.000. Komposisi kepemilikan mayoritas saham Seri A dipegang oleh PT Danantara Investment Management (DIM) yang dipimpin Pandu Sjahrir sebanyak 99 saham, sementara sisa 1 persen saham Seri B dikuasai PT Danantara Mitra Sinergi.