Kebiasaan membandingkan pencapaian pribadi dengan orang lain di media sosial dapat merusak kesehatan mental jika dilakukan terus-menerus tanpa kesadaran diri. Profesor psikologi dan neurosains Keith Payne menjelaskan fenomena ini sebagai respon alami manusia yang dipicu oleh konteks lingkungan digital.
Kesehatan mental seseorang berisiko terganggu saat melihat kesuksesan finansial atau karier orang lain ketika kondisi emosional sedang tidak stabil. Fenomena ini sering kali memicu perasaan tertinggal, terutama saat melihat teman atau rekan kerja yang tampak memiliki kehidupan sempurna, seperti dilansir dari Lifestyle.
Keith Payne, Ph.D dari University of North Carolina at Chapel Hill menyatakan bahwa tindakan membandingkan diri memiliki sifat yang situasional. Ia memberikan penjelasan mengenai batasan aman dalam melakukan perbandingan sosial tersebut.
"Membandingkan diri pada dasarnya tidak selalu berbahaya, tetapi konteks ketika kita melakukannya sering kali justru membawa lebih banyak dampak buruk daripada manfaat," jelas Payne.
Penelitian ini menunjukkan bahwa perbandingan sosial sering kali tidak akurat karena setiap individu memiliki latar belakang dan akses yang berbeda. Payne mengingatkan bahwa menganggap semua orang memulai dari titik awal yang sama merupakan kesalahan persepsi yang umum terjadi dalam masyarakat.
"Perbandingan tersebut sering kali tidak setara dan tidak bisa disejajarkan begitu saja," ujar Payne.
Upaya mitigasi dampak negatif dapat dilakukan dengan membatasi paparan konten yang memicu rasa tidak cukup. Payne menyarankan pentingnya mengenali nilai inti kehidupan, seperti keluarga dan kesehatan, untuk mengevaluasi relevansi rasa iri yang muncul secara impulsif.
Fokus pada pertumbuhan pribadi dengan membandingkan diri saat ini terhadap versi masa lalu dianggap lebih sehat daripada kompetisi eksternal. Latihan kesadaran diri menjadi langkah terakhir untuk memutus siklus berpikir berlebihan saat melihat keberhasilan orang lain.