Para pelaku UMKM di DIY tengah menjajakan makanan. Mulai terkena dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
SLEMAN, investor.id ÔÇô Industri perhotelan dan pariwisata di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) merasakan dampak kenaikan nilai tukar dolar Amerika Serikta (AS) terhadap rupiah. Dari aspek bisnis ada sisi positif yang diterima para pelaku bisnis ini.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY Deddy Pranowo Eryono mengatakan, penguatan dolar AS memang membuat daya beli masyarakat menurun. Tapi di sisi lain, hal ini mendorong wisatawan mengalihkan tujuan liburan yang semula ke luar negeri kini memilih di dalam negeri.
ÔÇ£Dolar yang menembus kurang lebih Rp17.600 ada dampak positif maupun negatifnya. Sisi negatifnya daya beli masyarakat berkurang, tapi segi positifnya banyak wisatawan yang dulu mau ke luar negeri mengalihkan ke dalam negeri,ÔÇØ kata Deddy, Minggu (24/5/2026).
Menurutnya, wisatawan yang berkunjung ke DIY tetap menyesuaikan pilihan akomodasi dengan kemampuan ekonomi masing-masing. Hotel berbintang empat dan lima masih diminati kalangan tertentu, sementara masyarakat menengah ke bawah lebih memilih hotel budget maupun penginapan nonbintang.
ÔÇ£PHRI DIY melihat fenomena ini dan mereka memilih hotel bintang empat dan lima, tapi kalau masyarakat menengah ke bawah memilih budget hotel atau nonbintang. Mereka berwisata sesuai kemampuan dan kondisi masing-masing,ÔÇØ ungkap Deddy.
Meski demikian, kenaikan dolar disebut belum berdampak signifikan terhadap tingkat okupansi hotel. Dampak yang paling terasa justru terjadi pada peningkatan pendapatan sektor makanan dan minuman (food and beverage/F&B).
ÔÇ£Okupansi memang belum berdampak, tapi secara omzet dari F&B ini bisa kita lihat wisatawan asing membelanjakan rupiahnya dengan membeli atau jajan di kafe-kafe atau rumah makan yang ada di Yogyakarta,ÔÇØ ujar Deddy.
PHRI DIY mencatat kenaikan omzet sektor F&B mencapai sekitar 20 hingga 30% dalam beberapa waktu terakhir. Sementara tingkat hunian hotel selama Mei 2026 berada di kisaran 70 hingga 80%.
ÔÇ£Data kita itu rata-rata di bulan Mei 70 hingga 80% tingkat hunian yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta,ÔÇØ jelasnya.
Dari sisi wisatawan mancanegara, PHRI DIY melihat adanya penurunan kunjungan wisatawan asal Eropa. Namun penurunan tersebut mulai ditutupi oleh meningkatnya wisatawan dari Asia, terutama China dan Jepang.
ÔÇ£Wisatawan asing dari Eropa menurun, namun ada dari China dan Jepang yang sekarang ini berwisata di Daerah Istimewa Yogyakarta. Terutama dari China yang signifikan kenaikannya,ÔÇØ ucap Deddy.
Meski ada sisi positif terhadap perputaran ekonomi wisata, pelaku industri hotel berharap nilai tukar dolar segera kembali stabil. Sebab, kenaikan dolar turut memicu lonjakan biaya operasional hotel dan restoran, sementara harga kamar belum bisa dinaikkan karena daya beli masyarakat yang masih melemah.
ÔÇ£Saya berharap dolar betul-betul bisa turun seperti yang disampaikan Menteri Keuangan pada bulan Juni dolar bisa turun. Ini kami harapkan karena biaya operasional hotel dan restoran juga naik tajam karena dolar naik, tetapi kita tidak bisa menaikkan harga kamar karena daya beli masyarakat saat ini juga turun,ÔÇØ pungkas Deddy.
Dampak terhadap UMKM
Dampak penguatan dolar terhadap rupiah juga mulai dirasakan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Yogyakarta. Kenaikan harga bahan baku membuat biaya produksi meningkat hingga puluhan persen, sementara pelaku usaha belum berani menaikkan harga jual karena daya beli masyarakat dinilai menurun.
Editor: Maswin
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Antisipasi PHK, Pemkab Tangerang Ajak Pengusaha Bahas Dampak Pelemahan Rupiah
Rupiah Melemah, Kemendag Dorong UMKM Ambil Momentum Genjot Ekspor
JLC Race Award 2025 Beri Apresiasi untuk Pelaku UKM di Indonesia
ACC Danaku Dukung Modal Usaha UMKM Di Surabaya
BSI Genjot Produk Haji Buatan UMKM Mendunia
Solusi Bangun (SMCB) Ketok Dividen Rp 329 Miliar
Harga Emas Antam (ANTM) Sepekan ke Depan Bisa Segini
Blackout Sumatra Jadi Alarm, PLN Didesak Kejar Standar ÔÇ£Zero BlackoutÔÇØ
BI-Rate Naik, Skema Insentif KLM bakal Diubah
Negara Asean, China, Palestina Ikuti MTQ Internasional di Istiqlal
Penulis : Olena Wibisana 24 Mei 2026 | 17:21 WIB
Salah satu pelaku UMKM di Yogyakarta mengatakan kenaikan harga bahan baku sudah cukup membebani usaha mereka dalam beberapa bulan terakhir.
ÔÇ£Tentu bahan baku naik sampai 30%, tapi kami belum bisa menaikkan harga jual produk kami karena melihat daya beli masyarakat mulai agak menurun jadi kalau kita naikkan malah tidak ada pembeli,ÔÇØ ujar Nurul Fikroh, pelaku UMKM kuliner.
Kenaikan harga tidak hanya terjadi pada bahan pokok produksi, tetapi juga pada kebutuhan kemasan dan distribusi. Pelaku usaha menyebut harga plastik bahkan mengalami lonjakan hingga 50%.
ÔÇ£Kita tunggu aja biar bahan bakunya bisa kita tekan sedemikian rupa, kalau sekarang untuk plastik aja naik 50% dan bahan baku lain seperti ikan dan tepung itu naik sampai 30%,ÔÇØ ucap Nurul.
Meski menghadapi tekanan biaya produksi, pelaku UMKM di Yogyakarta masih berharap sektor pariwisata dapat membantu menjaga stabilitas penjualan, terutama menjelang musim libur sekolah pada Juli mendatang.
ÔÇ£Harapannya menyambut libur sekolah di bulan Juli ini semoga yang tadinya wisatawan ke luar negeri tetap mainnya di Yogyakarta aja sehingga meramaikan Yogyakarta untuk belanja di UMKM disini,ÔÇØ ungkap Nurul.
Menurutnya, dampak kenaikan dolar terhadap omzet usaha belum terlalu signifikan karena mayoritas konsumen mereka berasal dari pasar domestik, bukan wisatawan asing.
ÔÇ£Naik turun omset sebenarnya tidak terlalu signifikan turun drastis dengan adanya kenaikan dolar karena target market kita itu bukan wisatawan asing tapi domestik, harapan kami semoga bulan Juli nanti waktu libur sekolah itu wisatawan akan ramai disini tidak harus ke luar negeri,ÔÇØ pungkas Nurul.
Pelaku UMKM berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas harga dan nilai tukar rupiah agar usaha kecil tetap mampu bertahan di tengah tekanan ekonomi global.
Editor: Maswin
Business 3 menit yang lalu Dolar Menguat, PHRI DIY: Okupansi Hotel Naik hingga 80%, F&B Naik 30% PHRI DIY mencatat ada dampak positif dari penguatan dolar AS terhadap rupiah, okupansi hotel naik 70-80% dan omzet F&B juga 20-30%
Market 24 menit yang lalu Solusi Bangun (SMCB) Ketok Dividen Rp 329 Miliar PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB) alias SBI resmi menyetujui pembagian dividen sebesar Rp329,3 miliar atau mewakili 50% dari laba bersih
Market 24 menit yang lalu Harga Emas Antam (ANTM) Sepekan ke Depan Bisa Segini Harga emas Antam (ANTM) sepekan ke depan diprediksi bergerak ke level ini. Harga emas Antam pada Sabtu lalu sebesar Rp 2.773.000 per gram.
Business 26 menit yang lalu Blackout Sumatra Jadi Alarm, PLN Didesak Kejar Standar ÔÇ£Zero BlackoutÔÇØ Pengamat UGM mendesak PLN memperkuat jaringan dan mengejar standar ÔÇ£zero blackoutÔÇØ, usai insiden blackout Sumatra.
Finance 41 menit yang lalu BI-Rate Naik, Skema Insentif KLM bakal Diubah BI akan mengubah mekanisme insentif KLM agar kenaikan BI-Rate tidak serta merta diikuti lonjakan bunga kredit perbankan.
National 47 menit yang lalu Negara Asean, China, Palestina Ikuti MTQ Internasional di Istiqlal Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Sultan Baktiar Najamudin mengungkapkan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Internasional Pemuda Masjid Dunia yang berlangsung di Masjid Istiqlal, Jakarta, diikuti sejumlah negara, antara lain China, Palestina, dan sejumlah negara ASEAN.