Kenaikan harga sejumlah Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi pada April 2026 memicu kekhawatiran masyarakat terkait biaya operasional kendaraan. Sebagian konsumen mulai mempertimbangkan untuk mencampur Pertamax dengan Pertalite guna menghemat pengeluaran tanpa menyadari risiko teknis jangka panjang bagi mesin.
Dosen Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada (UGM), Jayan Sentanuhady, menegaskan bahwa pencampuran kedua jenis BBM tersebut mengakibatkan nilai oktan tidak lagi sesuai standar operasional. Dilansir dari Money, penurunan performa dipastikan terjadi jika kendaraan yang terbiasa menggunakan Pertamax dipaksa beralih ke campuran oktan yang lebih rendah.
"Kalau oktan lebih rendah, dampaknya ke mesin dan juga emisi," jelas Sentanuhady, Dosen teknik mesin Universitas Gadjah Mada (UGM).
Penggunaan BBM campuran memicu penumpukan endapan karbon di ruang bakar yang menurunkan efisiensi konsumsi bahan bakar. Selain itu, kondisi ini memicu gejala mesin menggelitik atau knocking yang jika dibiarkan akan merusak komponen internal mesin secara permanen.
"Knocking itu suara gemerutuk dari dalam ruang bakar. Kalau berlangsung terus menerus, bisa membuat mesin jadi rusak," beber Sentanuhady, Dosen teknik mesin Universitas Gadjah Mada (UGM).
Sentanuhady menambahkan bahwa teknologi mesin modern sebenarnya memiliki kemampuan adaptasi terhadap berbagai jenis oktan. Namun, penggunaan bahan bakar di bawah standar rekomendasi tetap akan menimbulkan gangguan teknis di masa mendatang.
"Tidak akan ada masalah karena mesin modern biasanya sudah adaptif terhadap bahan bakar," jelas Sentanuhady, Dosen teknik mesin Universitas Gadjah Mada (UGM).
Pemerintah melalui Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menyatakan bahwa penyesuaian harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax Turbo dan Dex Series merupakan dampak dari lonjakan harga minyak mentah dunia. Ia juga mengisyaratkan adanya kemungkinan penyesuaian harga untuk Pertamax di masa depan.
"Kalau harganya (minyak dunia) turun, ya enggak naik (harga Pertamax). Tapi kalau harganya begini (naik) terus, ya mungkin pasti ada penyesuaian," jelas Bahlil, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Menurut Bahlil, kenaikan harga yang terjadi saat ini merupakan tahap pertama dari proses penyesuaian komoditas energi nonsubsidi. Pemerintah masih akan memantau situasi pasar global untuk menentukan langkah kebijakan pada tahap berikutnya.
"Kalau untuk BBM nonsubsidi itu ada penyesuaian harga. Tahap pertama mungkin sekarang dilakukan seperti sekarang. Tahap berikutnya kita lihat penyesuaian," jelas Bahlil, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Kendati harga BBM nonsubsidi fluktuatif, Bahlil menegaskan bahwa pemerintah berkomitmen menjaga stabilitas harga untuk jenis BBM tertentu. Jaminan tersebut diberikan agar beban ekonomi masyarakat tidak semakin berat akibat gejolak pasar global.
"Saya katakan, yang pemerintah bisa menjamin untuk harganya tidak naik itu adalah yang bersubsidi," terang Bahlil, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Berikut adalah rincian penyesuaian harga BBM Pertamina yang berlaku efektif mulai 18 April 2026 berdasarkan data resmi perusahaan.
| Jenis BBM | Harga per Liter |
|---|---|
| Pertamax (RON 92) | Rp 12.300 |
| Pertamax Turbo (RON 98) | Rp 19.400 |
| Dexlite (CN 51) | Rp 23.600 |
| Pertamina Dex (CN 53) | Rp 23.900 |
| Pertalite (RON 90) | Rp 10.000 |
| Biosolar (CN 48) | Rp 6.800 |