Cisadane Sawit Raya Bidik Pertumbuhan Kinerja Dua Digit

Cisadane Sawit Raya Bidik Pertumbuhan Kinerja Dua Digit
Foto: Ilustrasi Cisadane Sawit Raya Bidik Pertumbuhan Kinerja Dua Digit.

PT Cisadane Sawit Raya Tbk (CSRA) menargetkan pertumbuhan kinerja hingga dua digit pada akhir tahun 2026. Optimisme ini didorong oleh proyeksi harga minyak sawit mentah (CPO) yang berpotensi tetap tinggi di tengah ketidakpastian geopolitik global, seperti dilansir dari Investor Daily pada Rabu (20/5/2026).

Perusahaan kelapa sawit tersebut memasang target penjualan hingga menembus angka Rp 2 triliun pada tahun ini. Dari target pendapatan tersebut, manajemen memproyeksikan perolehan laba bersih dapat mencapai sekitar Rp 300 miliar.

Direktur CSRA Seman Sendjaja menjelaskan bahwa industri sawit menjadi salah satu sektor yang mendapatkan dampak positif dari dinamika global sejak pandemi Covid-19. Penguatan tren harga CPO secara konsisten setelah tahun 2020 menjadi indikator utama dari dinamika tersebut, setelah sebelumnya berada di kisaran US$ 300 hingga US$ 500 per ton.

ÔÇ£Di 2020, saat Covid-19, harga malah naik. Tahun 2021 terjadi perang Ukraina, harga naik lagi. Bahkan dengan perkembangan geopolitik di Iran saat ini, efeknya juga mengarah ke kenaikan harga,ÔÇØ jelas Seman dalam paparan publik di Jakarta, Rabu (20/5/2026).

Seman menambahkan bahwa volatilitas global akibat ketegangan geopolitik justru mendorong kenaikan harga komoditas CPO yang memberikan dampak positif pada kinerja keuangan perseroan.

ÔÇ£Selama harga CPO naik, maka itu akan langsung translate ke bottom line,ÔÇØ ujar Seman.

Kendati demikian, manajemen mengantisipasi tantangan berupa tekanan biaya operasional, terutama dari komponen biaya pupuk yang terus meningkat dalam dua tahun terakhir. Untuk tahun 2026, dampak kenaikan harga pupuk masih terbatas karena perusahaan telah mengamankan pasokan hingga semester II sejak tahun lalu.

ÔÇ£Mungkin impact pupuk itu tahun ini tidak terlalu besar, tetapi 2027 kemungkinan besar kami akan kena dampak harga pupuk yang lebih tinggi,ÔÇØ jelas Seman.

Selain pupuk, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis solar industri mulai menekan biaya transportasi dan operasional alat berat perusahaan. Guna menghadapi tekanan biaya tersebut, manajemen menerapkan strategi konservatif serta mematuhi regulasi pemerintah terkait pembukaan lahan.

ÔÇ£Kami tidak pernah kena kasus kawasan hutan, karena dari awal tidak pernah membuka areal di kawasan hutan. Selalu areal yang kami buka adalah APL, Areal Penggunaan Lain,ÔÇØ tegas Seman.

Kepatuhan terhadap tata kelola lahan dengan pemanfaatan Areal Penggunaan Lain (APL) tersebut diklaim menjadi faktor krusial dalam menjaga stabilitas operasional emiten sawit ini.

Artikel terkait

Rekomendasi