Kenali 7 Ciri Orangtua yang Tidak Dewasa Secara Emosional

Kenali 7 Ciri Orangtua yang Tidak Dewasa Secara Emosional
Foto: Ilustrasi Kenali 7 Ciri Orangtua yang Tidak Dewasa Secara Emosional.

Pemenuhan kebutuhan fisik anak tidak selalu selaras dengan pemberian dukungan emosional yang sehat dari orangtua.

Kondisi ini dikenal dalam dunia terapi sebagai emotionally immature parents atau orangtua yang tidak dewasa secara emosional, seperti dilansir dari Lifestyle.

Terapis menyebut orangtua dengan kondisi ini cenderung menjadikan diri mereka sebagai pusat dari segala situasi, termasuk dalam hubungan dengan anak.

ÔÇ£Orangtua yang tidak dewasa secara emosional adalah orangtua yang tidak mampu memenuhi kebutuhan emosional anak, baik saat anak masih kecil maupun ketika sudah dewasa,ÔÇØ kata terapis pernikahan dan keluarga Aparna Sagaram.

Menurutnya, orangtua seperti ini sering kali kesulitan mengatur emosinya sendiri dan tanpa sadar membebankan hal tersebut kepada anak.

Terdapat beberapa tanda yang menunjukkan ketidakdewasaan emosional pada orangtua saat berinteraksi dengan anak mereka.

1. Sering curhat masalah orang dewasa kepada anak

Menjadikan anak sebagai tempat meluapkan emosi merupakan salah satu tanda yang paling sering ditemui.

Sagaram mengatakan, orangtua yang tidak dewasa secara emosional bisa menceritakan masalah rumah tangga, pekerjaan, hingga keuangan kepada anak, meski anak belum cukup siap secara mental untuk mendengarnya.

ÔÇ£Jika seorang anak terus mendengar masalah orang dewasa, situasinya bisa terasa sangat kacau,ÔÇØ ujar Sagaram.

Dampak jangka panjangnya bisa membuat anak merasa bertanggung jawab atas emosi orangtua atau justru menutup diri secara emosional.

2. Bergantung pada anak untuk dukungan emosional

Pola komunikasi tertentu dari orangtua dapat berdampak besar pada kondisi emosional anak hingga mereka tumbuh dewasa.

Terapis Jennifer Chaiken mengatakan orangtua seperti ini sering mencari validasi, kenyamanan, atau dukungan emosional dari anak.

Hubungan antara orangtua dan anak seharusnya tidak berjalan terbalik seperti hal tersebut.

ÔÇ£Aliran perhatian dan dukungannya jadi terbalik,ÔÇØ kata Chaiken.

Orangtua bisa menjadi marah atau bereaksi secara berlebihan ketika anak tidak mampu memenuhi kebutuhan emosional tersebut.

3. Kurang memiliki empati

Kemampuan untuk memahami perasaan anak cenderung sulit dilakukan oleh orangtua yang tidak dewasa secara emosional.

Menurut Chaiken, mereka kerap tidak menyadari bagaimana emosi dan perilakunya memengaruhi orang lain.

Fokus yang terlalu besar pada diri sendiri membuat mereka sering gagal melihat kebutuhan emosional yang dimiliki anak.

4. Sulit menghargai batasan

Ketidakmampuan menghormati batasan pribadi anak juga menjadi indikasi kuat lainnya.

Chaiken menjelaskan, sebagian orangtua bisa terlalu kaku, sementara sebagian lainnya justru tidak memiliki batasan yang sehat sama sekali.

Sagaram menambahkan, orangtua seperti ini biasanya juga sulit menerima batasan dari anak.

Permintaan anak agar orangtua memberi kabar sebelum datang ke rumah, misalnya, sering kali dianggap sebagai sebuah penolakan.

5. Menggunakan rasa bersalah dan silent treatment sebagai hukuman

Rasa bersalah kerap digunakan oleh orangtua yang tidak dewasa secara emosional untuk mengendalikan anak mereka.

Kalimat seperti ÔÇ£Kamu sudah tidak peduli lagi sama keluargaÔÇØ atau ÔÇ£Tidak ada yang pernah menelepon ibuÔÇØ menjadi contoh yang sering muncul.

Mereka juga sering menerapkan silent treatment atau mendiamkan anak saat marah, alih-alih membicarakan masalah secara terbuka.

6. Emosi tidak konsisten

Chaiken menyatakan bahwa perubahan emosi pada orangtua dengan kondisi ini sering berubah-ubah serta sulit diprediksi.

Saat mengalami hari buruk di kantor, mereka bisa melampiaskan kekesalan tersebut kepada pasangan atau anak di rumah.

Anak-anak pun terpaksa tumbuh dalam lingkungan situasi yang tidak stabil secara emosional.

7. Tidak menghargai kepribadian anak

Orangtua yang sehat secara emosional akan membantu anak tumbuh menjadi individu yang memiliki nilai, pendapat, dan batasannya sendiri.

Sebaliknya, orangtua yang tidak dewasa secara emosional cenderung sulit menerima bahwa anak memiliki identitas yang berbeda dari dirinya.

ÔÇ£Mereka tidak mampu melihat anak sebagai individu yang terpisah dari dirinya sendiri,ÔÇØ ujar Sagaram.

Langkah Penyembuhan Diri

Menyadari keberadaan pola tersebut merupakan langkah pertama yang bisa dilakukan menurut penjelasan para terapis.

Chaiken mengatakan seseorang tetap bisa mengakui bahwa orangtuanya telah berusaha melakukan yang terbaik, sambil memahami bahwa kebutuhan emosionalnya mungkin tetap tidak terpenuhi saat kecil.

Para ahli menyarankan untuk mulai membangun batasan yang sehat, mencari dukungan sosial, serta menjalani proses re-parenting.

Proses re-parenting dilakukan dengan belajar memberikan kebutuhan emosional yang dulu tidak didapatkan saat kecil kepada diri sendiri.

Sagaram menambahkan, bantuan profesional seperti terapi juga dapat membantu memutus pola yang diwariskan turun-temurun dalam keluarga.

Artikel terkait

Rekomendasi