Prospek industri barang konsumsi di Indonesia mulai memperlihatkan tren positif. Perkembangan ini didorong oleh pemulihan daya beli masyarakat serta sokongan stimulus dari pemerintah, seperti dilansir dari Investortrust.
Laporan riset CGS International menunjukkan bahwa penjualan emiten konsumer mengalami peningkatan bertahap sepanjang year to date (ytd) 2026. Momentum musiman seperti Ramadan dan Lebaran, ditambah penyaluran bantuan sosial, menjadi pendorong utama konsumsi kelompok masyarakat menengah ke bawah.
Sektor mass market dan fast moving consumer goods (FMCG) menjadi motor utama pertumbuhan yang relatif kuat. Hal tersebut mengindikasikan bahwa pemulihan daya beli masyarakat saat ini masih berfokus pada pemenuhan kebutuhan pokok.
Sementara itu, pergerakan pada segmen non-esensial atau discretionary masih cenderung terbatas. Fenomena ini terjadi karena masyarakat masih bersikap hati-hati dalam membelanjakan uang untuk keperluan di luar barang primer.
Melihat tren perkembangan pasar tersebut, sejumlah saham di sektor konsumer kini direkomendasikan dengan rating overweight. Beberapa emiten dinilai memiliki daya tarik kuat untuk dikoleksi.
Saham PT HM Sampoerna Tbk (HMSP) mendapatkan rekomendasi add dengan target harga Rp 1.000 per saham. Penilaian ini didukung oleh strategi kenaikan harga produk yang konsisten serta adanya potensi perbaikan margin pada 2026.
Selanjutnya, PT Mayora Indah Tbk (MYOR) juga memperoleh rekomendasi add dengan target harga Rp 2.740 per saham. Penurunan harga bahan baku seperti kakao, gula, dan minyak diproyeksikan mampu memperkuat margin perseroan ke depan.
Target harga untuk saham PT Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI) dipatok pada level Rp 490 per saham. Prospek pertumbuhan emiten ini ditopang oleh langkah ekspansi ekonomi di luar Pulau Jawa serta kenaikan margin pascadivestasi bisnis Lawson.
Prospek dan Risiko Pasar
Sektor konsumer dinilai tetap memiliki daya tarik yang menjanjikan di masa depan, meskipun laju pertumbuhannya diprediksi akan berlangsung lebih moderat. Faktor pendorongnya meliputi pemulihan konsumsi berkelanjutan, kebijakan pemerintah, dan siklus momentum musiman tahunan.
Meski demikian, para pelaku pasar tetap perlu mewaspadai beberapa risiko yang membayangi sektor ini. Potensi perlambatan belanja non-esensial, efisiensi anggaran pemerintah, hingga tekanan ekonomi makro sewaktu-waktu dapat kembali memengaruhi daya beli masyarakat.