CEO Sebut Work-Life Balance Sebagai Red Flag dalam Karier

CEO Sebut Work-Life Balance Sebagai Red Flag dalam Karier
Foto: Ilustrasi CEO Sebut Work-Life Balance Sebagai Red Flag dalam Karier.

Istilah work-life balance atau keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi kini dipandang sebagai sebuah tanda bahaya atau red flag oleh sejumlah pemimpin perusahaan besar. Konsep yang populer sejak era 2000-an ini semakin masif diperbincangkan pascapandemi, terutama oleh pekerja milenial dan Gen Z.

Dilansir dari Wolipop, obsesi terhadap keseimbangan ini dinilai sebagai indikasi bahwa seorang karyawan mungkin tidak benar-benar menyukai bidang yang mereka geluti. Hal tersebut diungkapkan oleh I├▒aki Ere├▒o, Kepala Eksekutif perusahaan perawatan kesehatan global.

"Ketika keseimbangan hidup kamu menjadi topik pembicaraan, maka kamu memiliki masalah. Kamu perlu menyukai pekerjaan kamu, agar tidak merasa bahwa hidup kamu perlu diseimbangkan," kata I├▒aki.

Menurut I├▒aki, keinginan untuk memisahkan urusan kantor secara kaku pada pukul 17.00 sore dianggap kurang masuk akal bagi mereka yang mencintai profesinya. Menghitung mundur jam pulang kerja dipandang sebagai sinyal adanya masalah mendasar dalam karier seseorang.

"Aku menikmati memikirkan hal-hal bisnis di akhir pekan. Aku membalas email, membaca koran, dan semua itu. Apakah aku merasa itu tekanan besar? Tidak... Aku menikmati melakukannya. Jadi aku tidak merasa perlu memikirkan bagaimana menyeimbangkan hidupku."

I├▒aki menyarankan agar pekerja lebih fokus mencari posisi yang benar-benar mereka sukai atau setidaknya bisa ditoleransi dengan baik. Dengan begitu, tuntutan terhadap pemisahan waktu yang ketat tidak akan lagi menjadi beban yang menguras pikiran.

"Aku pikir sarannya di sini adalah luangkan waktu untuk memikirkan apa yang kamu sukai. Jangan melakukan pekerjaan yang tidak kamu sukai, sehingga kamu membutuhkan keseimbangan," tutur I├▒aki.

Tokoh Sukses yang Menolak Konsep Keseimbangan

Pandangan serupa juga datang dari miliarder teknologi, Lucy Guo. Sosok yang sempat menggeser posisi Taylor Swift sebagai miliarder wanita termuda di dunia ini mengaku bekerja mulai pukul 05.30 pagi hingga tengah malam tanpa merasa terbebani.

"Aku akan mengatakan bahwa jika kamu merasa perlu keseimbangan kerja-hidup, mungkin Anda tidak berada di pekerjaan yang tepat," ujar Lucy.

Musisi sekaligus pengusaha AI, Will.i.am, turut memberikan perspektif yang lebih tajam mengenai fenomena ini. Menurutnya, konsep tersebut justru bisa menghambat pencapaian visi pribadi seseorang dalam jangka panjang.

"Keseimbangan kerja-hidup berarti kamu bekerja untuk mimpi orang lain," kata Will.i.am.

Etos Kerja Tanpa Henti Para Pendiri Perusahaan

Pendiri LinkedIn, Reid Hoffman, memiliki standar tinggi bagi stafnya yang diharapkan selalu bersiap siaga, kecuali saat makan malam bersama keluarga. Setelah momen keluarga selesai, ia tetap mengharapkan komitmen kerja berlanjut melalui perangkat digital masing-masing.

CEO Nvidia, Jensen Huang, juga menerapkan prinsip kerja tanpa henti tujuh hari seminggu demi mencapai hasil luar biasa. Ia mengaku terus memikirkan pekerjaan sejak bangun tidur hingga kembali terlelap sebagai bagian dari dedikasinya.

"Aku bekerja dari saat aku bangun hingga saat aku tidur. Aku bekerja tujuh hari seminggu. Ketika aku tidak bekerja, aku memikirkan tentang bekerja."

"Jika kamu ingin melakukan hal-hal luar biasa, itu seharusnya tidak mudah," ujar Jensen Huang.

Meskipun budaya kerja para eksekutif ini sangat intens, benang merah dari saran mereka adalah pentingnya menemukan kepuasan dalam aktivitas harian. Bagi yang belum memiliki kebebasan memilih karier impian, menciptakan kenyamanan di meja kantor atau membangun hubungan baik dengan rekan sejawat menjadi langkah alternatif untuk mengurangi tekanan deadline.

Artikel terkait

Rekomendasi