Integrasi aktivitas periklanan dengan sistem operasional berbasis kecerdasan buatan (AI) kini menjadi fokus utama platform Cekat.AI untuk meminimalkan potensi pendapatan bisnis yang hilang dalam perjalanan konsumen. Langkah pemanfaatan teknologi ini diproyeksikan menjadi infrastruktur baru dalam strategi operasional sektor industri di Indonesia, seperti dilansir dari Media Indonesia pada Sabtu (16/5).
Pemisahan antara fungsi periklanan sebagai pemacu permintaan dan sistem operasional penangkap konversi dinilai menjadi kendala utama bagi banyak pelaku usaha saat ini.
"Banyak bisnis masih memisahkan advertising sebagai pendorong demand dengan sistem operasional yang bertanggung jawab untuk menangkap dan mengonversi demand tersebut. Akibatnya, sebagian besar potensi revenue hilang di tengah perjalanan customer journey," ungkap Chief Growth Officer Cekat.AI Laode Hartanto, di Jakarta, Sabtu (16/5).
Laode Hartanto menambahkan bahwa indikator pertumbuhan usaha pada masa kini telah bergeser dari sekadar jumlah jangkauan menjadi efektivitas pengelolaan interaksi secara langsung.
ÔÇ£Bertahun-tahun kita fokus membangun sistem untuk menjangkau audiens secara masif. Ke depan, pertanyaannya bukan lagi reach, melainkan bagaimana tiap interaksi bisa dikonversi jadi revenue,ÔÇØ ujar Laode.
Peran teknologi kecerdasan buatan diposisikan sebagai mesin penggerak utama yang memastikan seluruh permintaan pasar terserap dengan maksimal.
"Advertising tetap penting sebagai driver demand, tetapi AI adalah engine yang memastikan demand tidak terbuang, melainkan dikonversi secara optimal. Di situ peran Cekat.AI jadi krusial," tutur Laode.
Konvergensi yang menggabungkan periklanan, pengelolaan data, dan kecerdasan buatan ke depan diprediksi menjadi fondasi fundamental dalam menciptakan keunggulan kompetitif bagi sebuah merek.
"Di era AI-driven growth, revenue tak lagi dihasilkan dari exposure, tetapi bagaimana teknologi bekerja real-time mengkonversinya," katanya.
Sistem ini dirancang untuk menjawab kompleksitas perjalanan konsumen melalui penyediaan respons instan yang adaptif sesuai konteks pelanggan di setiap titik interaksi.
"Lebih dari automation, Cekat.AI dirancang sebagai revenue engine, layer baru dalam operasional bisnis yang menghubungkan aktivitas advertising, customer engagement, hingga conversion dalam satu sistem terintegrasi," pungkasnya.
Laode Hartanto sendiri bergabung dengan Cekat.AI berbekal pengalaman lebih dari sepuluh tahun pada jajaran eksekutif perusahaan global seperti Gojek, Emtek Group, Facebook, dan dentsu Indonesia. Platform Cekat.AI menyediakan layanan otomatisasi pengelolaan hubungan pelanggan secara omnichannel melalui WhatsApp, Instagram, TikTok, hingga Telegram selama 24 jam penuh.
Perusahaan teknologi ini didirikan oleh Matthew Sebastian dan Nicholas Alden Liem, dua pemuda Indonesia yang sebelumnya melakukan riset mendalam mengenai AI Agent di Amerika Serikat. Saat ini, platform tersebut telah diaplikasikan oleh berbagai lini bisnis untuk memacu efisiensi operasional, meningkatkan kualitas interaksi, melayani pemeliharaan konsumen, hingga membantu proses penjualan tambahan.