Organisasi Papua Merdeka (OPM) diduga kuat menjadi aktor di balik rangkaian penyerangan di Kabupaten Puncak, Provinsi Papua Tengah. Fakta ini terungkap dalam rapat koordinasi lintas instansi yang berlangsung di Mako Kogabwilhan III, Timika, pada Selasa, 21 April 2026.
Rapat tersebut dipimpin langsung oleh Pangkogabwilhan III Letjen TNI Lucky Avianto. Pertemuan strategis ini turut dihadiri oleh Penjabat Gubernur Papua Tengah Meki Fritz Nawipa, Kapolda Papua Tengah Brigjen Pol Jermias Rontini, serta jajaran pimpinan TNI lainnya.
Dilansir dari Kompas, forum tersebut memaparkan sejumlah bukti fisik yang mengarahkan tudingan kepada OPM sebagai pelaku penyerangan. Penegasan ini sekaligus membantah spekulasi dan narasi yang berkembang di media sosial yang sempat menyudutkan pihak TNI.
Data keamanan mencatat dua insiden terpisah yang pecah pada 14 April 2026. Peristiwa pertama meletus di Kampung Kembru saat anggota OPM melakukan serangan mendadak terhadap personel TNI yang tengah bertugas di wilayah tersebut.
Dalam upaya pertahanan diri, personel TNI berhasil melumpuhkan empat anggota kelompok penyerang. Aparat juga menyita berbagai barang bukti berupa senjata api rakitan, amunisi, busur panah, parang, alat komunikasi, hingga bendera atribut organisasi tersebut.
Sementara itu, insiden kedua dilaporkan terjadi di Kampung Jigiunggi, Mimika, yang berjarak sekitar tujuh kilometer dari lokasi pertama. Laporan masuk mengenai seorang anak yang terkena luka tembak, namun penyelidikan masih berjalan untuk memastikan asal proyektil tersebut.
Tokoh masyarakat Kabupaten Puncak, Nenu Tabuni, memberikan pernyataan resmi menyikapi situasi keamanan yang memanas di wilayahnya. Ia menekankan pentingnya stabilitas agar aktivitas sosial dan pendidikan warga tidak terganggu.
"Semua pihak menjaga keamanan dan ketertiban agar masyarakat dapat hidup damai dan sejahtera," ujar Nenu Tabuni, Tokoh Masyarakat Puncak.
Nenu menyampaikan harapannya agar anak-anak di Puncak bisa kembali mengenyam pendidikan dengan tenang. Ia juga menyoroti dampak buruk kekerasan yang seringkali justru mengorbankan warga sipil di lingkungan setempat.
"Hentikan aksi kekerasan di Tanah Papua," tegas Nenu Tabuni, Tokoh Masyarakat Puncak.
Pemerintah daerah bersama aparat keamanan kini terus melakukan pemantauan intensif di lokasi kejadian. Fokus utama saat ini adalah memulihkan trauma warga dan memastikan jalur logistik serta pelayanan publik di Kabupaten Puncak kembali berjalan normal.