PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) mengambil alih portofolio kredit pensiunan milik PT Bank SMBC Indonesia Tbk senilai Rp19,93 triliun pada Senin (25/5/2026) di Jakarta. Langkah ini diambil sebagai strategi ekspansi untuk memperkuat bisnis kredit konsumer berbasis payroll loan di luar sektor perumahan.
Dilansir dari Keuangan, kesepakatan transaksi ini diteken melalui dua perjanjian pada 22 Mei 2026, yakni Conditional Portfolio Transfer Agreement (CPTA) dan Conditional Loan Asset Transfer Agreement (CLATA). Aksi korporasi tersebut membagi pengalihan aset pinjaman ke dalam dua kelompok besar pengelola dana pensiun.
Melalui skema CPTA, BTN mengambil alih kredit pensiunan dan pra-pensiunan yang dikelola TASPEN dengan nilai Rp12,58 triliun. Sementara lewat jalur CLATA, perusahaan mengakuisisi aset pinjaman pensiunan ASABRI, dana pensiun lain, serta kredit pegawai aktif BUMN dan instansi pemerintah senilai Rp7,34 triliun.
Seluruh portofolio yang diambil alih berada dalam kategori kolektabilitas lancar per Maret 2026. Sektor ini menjadi penopang profitabilitas utama bagi SMBC Indonesia dengan kontribusi terbesar kedua setelah kredit korporasi, yakni mencapai Rp19,20 triliun atau sekitar 15 persen dari total kredit perseroan.
Corporate Secretary BTN Ramon Armando menjelaskan bahwa akuisisi ini merupakan bagian dari transformasi bisnis perusahaan. Target utama dari ekspansi ini adalah untuk memperbesar sumber pendapatan berulang atau recurring income melalui segmen yang dinilai aman.
"Segmen pensiunan dan payroll loan memiliki karakteristik pembayaran yang relatif stabil," ujar Ramon, Senin (25/5/2026).
Manajemen perusahaan juga mengincar potensi peningkatan dana murah atau current account saving account (CASA) dari nasabah payroll tersebut. Bisnis kredit pensiunan ini sebelumnya menjadi kekuatan utama SMBC Indonesia saat masih bernama Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN).
Segmen pasar tersebut tercatat menghasilkan margin bunga bersih atau net interest margin (NIM) yang tinggi di industri perbankan. Hingga Maret 2026, rasio NIM dari SMBC Indonesia berada di angka 3,72 persen yang menunjukkan daya tarik profitabilitas di tengah ketatnya persaingan pasar.